BREAKING NEWS
.

POLITIK

OPINI & ANALISA

AGENDA & RELAWAN

BERITA

Serba-Serbi Jokowi

PEMILU 2014

INTERNASIONAL

Sabtu, 18 Oktober 2014

Kultur Politik DPR dan DPD RI, 2014-2019



Oleh : Ahmad Syafii Maarif

Sebenarnya saya kurang berselera mengikuti kultur politik yang berkembang di DPR dan DPD RI, periode 2014-2019, dalam proses penentuan dan penetapan pimpinannya masing-masing. Biasanya saya memantaunya melalui siaran tv, sekalipun sepotong-sepotong, tidak utuh. Kali ini lebih banyak melalui RRI Pro 3 yang didengar sambil tiduran, tidak serius. Dalam sistem pemilihan pimpinan, kultur yang berkembang di DPD lebih beradab dibandingkan dengan apa terjadi di DPR yang brutal. Bahwa di lingkungan DPD juga berlaku persaingan ketat untuk berebut palu pimpinan, adalah lumrah belaka, tetapi di DPR yang dikuasai oleh partai-partai pendukung KMP (Koalisi Merah Putih), iklim balas dendam amat menonjol, sesuatu yang tidak terasa di lingkungan DPD, karena memang berasal dari unsur independen, sekalipun sebagian adalah mantan tokoh partai. Suasana di DPR menunjukkan bahwa slogan: siap kalah, siap menang, barulah sebatas slogan. Di DPD, suasananya memang lebih tenang, karena daya tarik dan kiprah para senatornya selama ini kurang mendapat perhatian publik.  


Di antara partai yang bermain di DPR lama dan baru, PD (Partai Demokrat) adalah yang paling tidak jelas kelaminnya, tetapi berlindung di bawah slogan ‘penyeimbang.’ Kultur politik yang berlaku dalam partai ini sangat ditentukan oleh karakter pimpinan puncaknya yang selalu memantau ke mana arah angin bertiup. Ibarat seorang sutradara, tokoh puncak ini memang sangat piawai dalam memainkan kartu politiknya, tetapi pengamat yang jeli gampang saja membacanya. Tetapi PDI-P sebagai pemenang pilpres memang kurang lihai dalam menjalin komunikasi politik dengan parpol lain. Mungkin para politisinya terhalang oleh dinding sejarah masa lalu yang sulit ditembus. 

Kembali ke PD. Sikap walk-out saat memperdebatkan RUUMD3 di DPR, periode 2009-2014, anak buahnya berkilah bahwa semuanya itu adalah inisiatifnya sendiri, bukan berasal dari sutradara. Tak ubahnya seperti burung onta yang menyembunyikan kepalanya dalam pasir, sementara tubuh dan ekornya dibiarkan nongkrong di luar. Tetapi inilah politik dalam iklim peradaban yang masih rendah yang dikemas dalam serba kesopanan dan dalam budaya saling menutup. Anas Urbaningrum, mantan ketua umum PD, banyak bercerita kepada saya tentang partai ini dan sang sutradara. Sayangnya, cerita itu disampaikan di saat posisinya sudah terancam. Sebelumnya Anas juga tidak kurang gigihnya dalam membela mentornya itu. Teman dalam politik kekuasaan jarang yang berumur panjang, kecuali jika diikat dan direkat oleh sebuah ideologi yang serius dan mantap. Di Indonesia sekarang ini, apa yang bernama ideologi itu sudah dijadikan barang mainan. Rapuh sekali. Orang berpindah partai sama saja seperti berganti pakaian.  

Sebenarnya brutalitas di DPR belum tentu akan berlangsung sedemikian garang dan gaduh, sekiranya Jokowi sejak awal mau membuka pintu untuk melakukan politik transaksional, sesuatu yang memang harus dihindarinya, demi mengubah kultur politik Indonesia yang sarat dosa dan dusta selama ini. Bukankah DPR selama ini dikenal sebagai salah satu lembaga tinggi negara, tempat bersarangnya para koruptor, yang ketahuan atau yang belum ketahuan? Bagaimana perjalanan ke depan, tentu sulit kita katakan sekarang. Tetapi satu hal yang tidak boleh dilupakan, yaitu pemihakan total kepada kepentingan rakyat banyak yang jarang terwakili di Senayan dan memang telah terabaikan selama puluhan tahun. Jokowi-JK tidak perlu cemas   benar menghadapi kepungan dari kiri-kanan, dari berbagai jurusan, selama pemerintahannya benar-benar berjalan di atas rel konstitusi, demi mewujudkan janji-janji kemerdekaan yang terbengkalai lantaran cekcok politik berkepanjangan yang sering benar mendera dan mencederai republik ini.


Sumber: maarifinstitute.org

Prabowo Minta Fraksi Gerindra Hadir dan Tertib Saat Jokowi-JK Dilantik

Joko Widodo mengunjungi Ketua Umum Partai Gerindra



JAKARTA,  Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto telah mengeluarkan instruksi kepada semua anggota Fraksi Gerindra di parlemen untuk menghadiri acara pelantikan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Bagi Prabowo, persaingan politik tidak lantas memecah belah dan semua wajib memenuhi undangan untuk hadir pada acara pelantikan tersebut.

"Saya sudah beri arahan ke Fraksi Gerindra untuk hadir di pelantikan dan jadi wakil rakyat yang baik," kata Prabowo saat menerima kedatangan pimpinan MPR di Jalan Kertanegara Nomor 4, Jakarta Selatan, Jumat (17/10/2014) sore.

Prabowo menyebutkan, instruksi tersebut ia berikan saat dirinya belum menerima undangan pelantikan Jokowi-JK dari MPR. Secara pribadi, ia ingin hadir dan memenuhi undangan tersebut. Namun, ia belum dapat memastikan diri hadir dalam acara itu karena ada pertemuan di luar negeri pada akhir pekan ini. "Kalau saya diundang, itu adat istiadat Indonesia hukumnya wajib untuk hadir," ucap Prabowo.

Ucapan Prabowo itu sontak disambut baik oleh Ketua MPR Zulkifli Hasan dan tiga Wakil Ketua MPR, yaitu Oesman Sapta Odang, Mahyudin, dan EE Mangindaan. "Alhamdulillah...," ujar mereka serempak.

Meski demikian, Prabowo menyatakan bahwa dirinya baru akan hadir jika urusannya di luar negeri selesai sebelum 20 Oktober 2014. Ia berjanji akan berusaha keras agar dapat tiba di Jakarta sesegera mungkin dan hadir tepat waktu pada acara pelantikan Jokowi-JK. "Tapi saya tidak ngarang, dan bukan alasan politik. Saya harus berangkat ke luar negeri, harusnya kemarin, tapi saya tunda. Kalau urusan saya selesai Sabtu atau Minggu, Minggu malam pun saya akan kembali ke Jakarta," kata Prabowo.



KOMPAS.com
Penulis: Indra Akuntono
Editor : Laksono Hari Wiwoho

Habibie Curiga Ada Kekuatan Tersembunyi yang Adu Domba Jokowi-Prabowo

Habibie saat wawancara khusus dengan kompas tv



JAKARTA,  Presiden ke-3 Republik Indonesia Baharudin Jusuf Habibie meminta tak ada lagi pihak-pihak yang mengadu domba presiden terpilih Joko Widodo dengan saingannya di Pemilu Presiden 2014 lalu, Prabowo Subianto.

Habibie mencurigai, gesekan yang terjadi antara Jokowi-Prabowo seusai pilpres, merupakan buah dari adanya orang yang sengaja ingin membenturkan kedua kubu.

"Saya selama ini tentunya ada sedikit kekhawatiran, mungkin ada kekuatan yang saya tidak tahu yang mau mengadu domba kedua pihak," kata Habibie dalam wawancara khusus bersama Kompas TV, di kediamannya, Jalan Patra Kuningan XIII, Jakarta Selatan, Jumat (17/10/2014) sore.

Akibat adu domba tersebut, kata dia, persaingan di pilpres terasa panas tidak hanya oleh kompetitor, tteapi juga oleh masyarakat di akar rumput. Untungnya, lanjut Habibie, tak ada konflik berkepanjangan yang sampai menimbulkan perpecahan antar kelompok.

"Kita lihat seperti main bola saja orang ribu-ribut. Kita bisa lihat ada dua kubu yang berhadapan, dalam satu keluarga saja misalnya suaminya pro Merah Putih, istrinya pro Indonesia Hebat," ujar Habibie.

Wakil Presiden terakhir Soeharto ini merasa gembira, akhirnya Jokowi dan Prabowo melakukan pertemuan empat mata sebagai bentuk rekonsiliasi. Dia berharap, pertemuan tersebut bisa menjadi tahap awal bagi kedua pihak untuk membangun bangsa bersama-sama.

Jokowi, kata dia, harus bekerja sebaik-baiknya sebagai presiden. Adapun Prabowo, juga bisa turut membangun Indonesia dengan memimpin Partai Gerindra sebagai oposisi yang objektif di parlemen.

Dengan begitu tak perlu ada isu jegal menjegal yang selama ini dikhawatirkan banyak pihak. "Jokowi dipilih langsung rakyat sebagai presiden. DPR, MPR, dan DPD tidak bisa menjatuhkan. Dia dipilih langsung,kecuali Jokowi melanggar Undang-Undang Dasar tidak bisa. Saya kira hal ini sudah dipahami semuanya," ucap Habibie. 




KOMPAS.com 
Penulis: Ihsanuddin
Editor : Desy Afrianti

Jumat, 17 Oktober 2014

Jokowi dan Prabowo Sepakat soal Cita-cita Bangsa

Kediaman orangtua Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara 4, Kebayoran



JAKARTA,  Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) bersepakat dengan pernyataan Prabowo Subianto soal cita-cita bangsa. Hal itu disampaikan setelah keduanya bertemu di rumah orangtua Prabowo, Jalan Kertanegara Nomor 4, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Jumat (17/10/2014) siang.
"Tadi disampaikan, cita-cita kita sama, yakni mengenai Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI," ujar Jokowi.
"Persis seperti itulah yang kita lakukan ke depan. Semuanya adalah demi perbaikan bangsa dan negara ini," lanjut Jokowi.
Prabowo yang berada di sebelah Jokowi selama wawancara mengangguk-angguk. Sesekali, dia tersenyum ke arah Jokowi.
Pertemuan kali ini adalah pertemuan kedua bagi Jokowi dan Prabowo setelah Pilpres 9 Juli lalu. Sebelumnya, keduanya pernah bertemu pada acara buka bersama pimpinan lembaga negara di Istana Negara, Jakarta, Minggu (20/7) petang.
Pertemuan Jokowi dengan Prabowo jauh lebih singkat ketimbang pertemuan Jokowi dengan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie, beberapa waktu lalu. Jokowi dan Prabowo bertemu tidak sampai satu jam, yakni dari pukul 09.05 WIB hingga 10.22 WIB.



KOMPAS.com
Penulis: Fabian Januarius Kuwado
Editor : Kistyarini

Pesan Tak Sampai di Balik Pertemuan Prabowo dan Jokowi...

Jokowi mengunjungi Ketua Umum Partai Gerindra



JAKARTA,  Dua peserta Pemilu Presiden 2014, Prabowo Subianto dan Joko Widodo, bertemu pada Jumat (17/10/2014) pagi. Pertemuan yang membungkam semua wacana dan tudingan itu dipersiapkan tak lebih dari 12 jam. Ini kisahnya.
"Pak Jokowi yang dhawuh  (menginisiasi pertemuan) setelah bilang tak ada respons (dari kubu Prabowo). Saya tanyakan ke Edhy Prabowo (soal ketiadaan respons itu) dan dijawab selama ini tak ada undangan," tutur Aria Bima, politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, tentang cerita di balik pertemuan dua "aktor" utama pada Pemilu Presiden 2014 tersebut, Jumat (17/10/2014).

Terkuaklah cerita tentang pesan lewat utusan yang tak pernah sampai ke tujuan. Aria tak menampik soal adanya pesan dan utusan itu, tetapi dia menolak menyebutkan siapa utusan dari PDI-P atau Koalisi Indonesia Hebat maupun penerima pesan dari Partai Gerakan Indonesia Raya maupun Koalisi Merah Putih. "Sudahlah, yang penting pertemuan sudah terjadi," tepis dia.

Sesudah paripurna

Rencana pertemuan Prabowo dan Jokowi menemui titik terang baru setelah rapat paripurna di DPR yang membahas soal formasi alat kelengkapan DPR, Kamis (16/10/2014). "Saya temui Edhy Prabowo dan sampaikan soal rencana mempertemukan kedua beliau (Prabowo dan Jokowi)," ujar Aria.

Edhy Prabowo adalah Wakil Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus Ketua Fraksi Partai Gerindra di DPR. Aria mengaku sudah lama mempunyai komunikasi baik dengan Edhy. Terlebih lagi, Aria merupakan salah satu petugas partai yang menghubungkan PDI-P dan Gerindra saat berkoalisi pada Pemilu Presiden 2009. "Komunikasi kami lancar," kata dia.

Kepastian di tengah makan malam

Setelah pertemuan dengan Aria Bima di DPR, Edhy Prabowo menikmati makan malam bersama sekelompok kawan lama di sebuah pusat perbelanjaan di bilangan Senayan, Kamis malam. Kepastian soal pertemuan Prabowo dan Jokowi bergulir di tengah makan malam ini.

Kepada sekelompok kawan lama ini, Edhy memastikan, "Besok ada pertemuan Jokowi dengan Prabowo. Waktu sudah disepakati, tinggal tempat yang belum."

Malam itu, Edhy mengatakan, Prabowo sudah menyatakan bersedia bertemu. "Pak Prabowo sudah menegaskan, tak ada alasan untuk menolak bertemu," tegas dia.

Bukan komunikasi pertama PDI-P

Menurut Edhy, Jumat, sebelum Aria memulai pembicaraan soal pertemuan Prabowo dan Jokowi ini, Puan Maharani—putri Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri sekaligus Ketua DPP PDI-P—pun sudah menanyakan soal keinginan bertemu Prabowo. Lagi-lagi disinggung juga soal utusan dan pesan yang tak pernah sampai.

"Dalam pembicaraan telepon yang tak sengaja, tercetus soal utusan dan pesan itu. Setelah kami jawab bahwa tak pernah ada utusan dan pesan yang sampai kepada Pak Prabowo, barulah dia (Puan) mafhum," tutur Edhy. Dalam pembicaraan yang sama, kata dia, Puan juga bertanya soal tudingan koalisi Gerindra ingin melakukan sapu bersih di DPR.

Atas pertanyaan itu, kata Edhy, Prabowo menegaskan tak pernah berniat tidak memberi ruang yang pantas bagi PDI-P di parlemen. Edhy pun bertutur, "Dalam pertemuan terakhir dengan koalisi sebelum pemilihan ketua DPR, beliau mengingatkan untuk tak main sapu bersih dan memberi tempat bagi PDI-P."

Kalimat Prabowo dalam pertemuan dengan koalisinya-jauh sebelum ada telepon Puan, sebut Edhy, kurang lebih adalah, "Bagaimanapun PDI-P adalah pemenang pemilu. Harus mendapat tempat yang pantas di parlemen." Namun, aku dia, memang ada penolakan dari beberapa partai anggota koalisi.

Hanya saja, sambung Edhy, pada pekan ini Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie menelepon Prabowo dan menanyakan kembali soal pendapat Prabowo soal PDI-P itu. Pendapat Prabowo, sebut Edhy, tak berubah. Pernyataan Edhy pun tecermin dari tulisan Prabowo di akun Facebook-nya.

Dari rangkaian pembicaraan tersebut dan pertemuan Prabowo-Jokowi yang terwujud pada Jumat pagi ini, Edhy berkeyakinan bakal ada perubahan dalam formasi alat kelengkapan di DPR. Disinggung soal rapat paripurna yang sudah memutuskan jumlah komisi, dia menjawab lugas, "Itu masih bisa diubah. PDI-P masih bisa menjadi ketua di alat kelengkapan," kata dia.

Kepastian tempat di hari ulang tahun Prabowo


Dalam pertemuan tersebut Jokowi bersilaturahmi dan mengundang Prabowo untuk menghadiri pelantikan Presiden Seni 20 Oktober mendatang.
Pada Kamis malam, tawaran lokasi pertemuan Prabowo dan Jokowi sudah disebutkan, yaitu di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, atau di Jalan Kertanegara 4, Jakarta. Dua-duanya adalah kediaman pribadi Prabowo.

Aria mengaku menyampaikan soal kesediaan Prabowo bertemu itu kepada Deputi Tim Transisi Jokowi-JK Andi Widjajanto dan Jokowi sendiri. "Keputusan baru tadi pagi sekitar pukul 08.00 WIB, Pak Jokowi bilang OK di Kertanegara," aku Aria.

Bagi Edhy, tawaran lokasi pertemuan di kediaman Prabowo bukan karena egoisme atau pertimbangan dangkal. "Dengan bertempat di (rumah) Pak Prabowo, sebenarnya risiko ada di Pak Prabowo yang harus memastikan semua lancar dan aman," tegas dia.

Maka, tepat pada hari ulang tahun ke-63 Prabowo, pertemuan dua anak bangsa yang baru saja bertarung dalam Pemilu Presiden 2014 pun terjadi. Sebuah ulang tahun dengan pertemuan hangat yang mendapat banyak apresiasi, setidaknya berkaca dari nada-nada para pengguna media sosial di akun masing-masing.

Bagi Jokowi, pertemuan dengan Prabowo pun diakui bukan biasa-biasa saja. "Hari ini saya bersilaturahim dengan Pak Prabowo Subianto. Merupakan kesempatan yang luar biasa bagi saya untuk dapat berjumpa dan berbincang-bincang bersama beliau," tulis dia di akun Facebook.


KOMPAS.com
Editor : Palupi Annisa Auliani

Melalui Facebook, Prabowo Minta Pendukungnya Menjaga Persatuan Nasional

Joko Widodo mengunjungi Ketua Umum Partai Gerindra



JAKARTA,  Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto memberikan pesan kepada pendukungnya untuk secara bersama-sama menjaga keutuhan bangsa. Ia meminta semua pihak bisa saling menghormati agar tidak ada perpecahan.

Hal itu disampaikan Prabowo dalam pernyataan tertulis yang disebarkan melalui halaman resminya di Facebook, Jumat (17/10/2014) sore. Sebelumnya, Prabowo bertemu dengan presiden terpilih Joko Widodo, mantan rivalnya pada Pemilu Presiden 2014.
Dalam pernyataannya, Prabowo mengatakan bahwa dalam berpolitik, ia mengutamakan keutuhan dan kejayaan Indonesia. Mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus itu juga meminta agar rakyat Indonesia tidak menyebarkan fitnah dan saling menghormati satu sama lain.

Berikut pernyataan Prabowo dalam halaman Facebook-nya.

"Sahabatku sekalian,

Saya tahu banyak diantara kalian yang merasa masih tidak menerima, masih terluka, karena kita telah dikhianati oleh sistem yang tidak baik. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa kita harus menimbulkan perpecahan di bangsa kita.

Seperti sahabat ketahui, dalam berpolitik saya selalu mengutamakan keutuhan bangsa dan kejayaan Republik Indonesia. Saya paham bahwa ada negara-negara tertentu yang selalu ingin Indonesia pecah. Ada yang ingin rakyat Indonesia tetap tergantung sama mereka. Karena itulah saya ingin menjaga persatuan nasional.

Setelah saya renungkan mendalam, saya melihat di pihak PDIP dan koalisi mereka masih banyak patriot-patriot, anak-anak Indonesia yang juga cinta bangsa dan negara dan rakyat. Karena itulah saya memilih untuk terus berjuang untuk nilai-nilai yang kita pegang teguh yaitu Pancasila, UUD 1945 yang utuh dan asli, NKRI dari Sabang sampai Merauke yang kuat, yang adil, yang sejahtera, yang berdiri di atas kaki kita sendiri dan yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.

Saya akan terus perjuangkan nilai-nilai itu, tetapi dalam kerangka senantiasa menjaga jangan sampai terjadi perpecahan di antara sesama bangsa Indonesia. Kita harus ingat bahwa pihak yang berseberangan dengan kita dalam sebuah pertarungan politik tidak serta merta dan tidak otomatis harus menjadi musuh kita.

Dari sejak awal saya katakan bahwa pesaing kita adalah saudara kita juga. Memang ada pihak-pihak yang penuh kebencian, prasangka buruk, keserakahan, kedengkian dan jiwa yang curang. Tapi ingat dari awal saya menganjurkan kepada lingkungan saya, pendukung saya, sahabat-sahabat saya, apa yang saya tuntut dari diri saya sendiri yaitu berjiwalah sebagai seorang kesatria, sebagai seorang pendekar. Kalau ada pihak yang menebarkan kebencian, fitnah, kepada kita bukan berarti kita harus balas dengan sikap yang sama. Janganlah fitnah kita balas fitnah, janganlah kebencian kita balas kebencian. Janganlah kita bertindak sebagai individu yang berjiwa Kurawa.

Itulah sikap saya, dan karena itulah saya memilih jalan yang saya tempuh sekarang. Bukan berarti kita merendahkan nilai-nilai kita atau perjuangan kita. Semakin kita merasa benar, semakin pula kita harus rela menghormati orang lain, pihak lain. Kalau orang lain menghormati kita, kita menghormati orang tersebut. Bahkan kalaupun mereka tidak hormat pada kita, tidak ada salahnya kita menghormati terus.

Saya mohon semua pendukung-pendukung saya untuk memahami hal ini. Saya mengerti sebagian dari saudara-saudara belum bisa menerima sikap saya. Tetapi percayalah, seorang pendekar, seorang kesatria harus tegar, harus selalu memilih jalan yang baik, jalan yang benar. Menghindari kekerasan sedapat mungkin. Menjauhi permusuhan dan kebencian.

Sahabat, kita bukan pihak penakut. Sejak dari masa muda, saya pernah hidup sebagai seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia. Berkali-kali saya terlibat dalam operasi-operasi militer, dalam kontak-kontak tembak dengan musuh negara. Saya paham apa artinya kekerasan. Karena itulah saya sadar bahwa seorang pemimpin sejati, pemimpin yang bertanggung jawab selalu harus memilih jalan yang sejuk. Apalagi kalau ini adalah untuk menjaga kepentingan, keutuhan bangsa yang kita cintai.

Sahabat, kita harus tetap militan, kita harus tetap patriotik. Kita harus menyiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan. Kalau kita hormat bukan berarti kita menyerah. Kalau kita sopan bukan berarti kita meninggalkan perjuangan kita. Tapi kita harus selalu berusaha mencari jalan yang damai, jalan yang baik. Kita harus selalu mengutamakan persaudaraan dan persahabatan.

Kalau semua usaha kita, pada saatnya nanti tetap tidak membuahkan sebuah hasil yang sesuai dengan kepercayaan dan cita-cita kita, dan keyakinan kita akan kepentingan bangsa dan rakyat, kalau bangsa Indonesia terancam, kalau kekayaan bangsa terus dirampok oleh bangsa lain, kalau kita sudah sekuat tenaga menciptakan kesadaran nasional, sebagai patriot dan pendekar bangsa kita harus tidak ragu-ragu mengambil tindakan yang dituntut oleh keadaan.

Saya sekali lagi menganjurkan kepada sahabat saya dan pendukung saya, marilah kita terus tegar. Marilah kita memperkuat diri, marilah kita menambah barisan kita. Yakinkan lingkungan kita semuanya, bangkitkan kesadaran nasional kita. Dulu saat Bung Karno bersama para pendiri bangsa memperjuangkan kemerdekaan, mereka pun berpuluh tahun harus membangun kesadaran nasional. Sekarang pun kita harus membangun kesadaran nasional, bahwa kita saat ini sedang diancam oleh bangsa-bangsa asing yang selalu ingin Indonesia pecah, Indonesia lemah dan selalu tergantung.

Dalam pertemuan saya dengan saudara Joko Widodo tadi saya sampaikan, bahwa saya merasakan di dalam hati sanubari Joko Widodo yang paling dalam beliau adalah seorang patriot. Beliau ingin yang terbaik untuk Indonesia. Oleh karena itu saya memilih untuk membangun silaturahmi dengan beliau, sesuai dengan ajaran-ajaran budaya nenek moyang kita.

Apalagi agama Islam yang saya anut, mengajarkan saya bahwa menjalin dan memelihara silaturahmi, persahabatan dan persaudaraan jauh lebih mulia dan bermanfaat daripada meneruskan prasangka buruk, rasa curiga, apalagi terjerat dalam kebencian dan permusuhan. Ibarat api tidak bisa dipadamkan dengan api, maka kebencian dan fitnah mari kita balas dengan berbudi luhur, berjiwa kesatria. Semakin difitnah, semakin difitnah, semakin dihina, kita akan semakin tegar.

Saya minta sahabat sekalian janganlah ragu kepada pilihan-pilihan saya. Janganlah mendorong saya untuk mengambil sikap yang tidak sesuai dengan jiwa saya sebagai ksatria. Janganlah mengira saya akan surut dalam perjuangan saya.

Saya juga telah sampaikan kepada saudara Joko Widodo bahwa perjuangan saya adalah membela UUD 1945 yang lahir 18 Agustus 1945, membela keutuhan NKRI, membangun suatu bangsa ber-Bhinneka Tunggal Ika yang aman, damai, kuat, adil, makmur dan sejahtera. Beliaupun menyatakan bahwa itu juga pegangan beliau. Saya juga katakan, kalau nanti dalam perjalanan Pemerintahan beliau ada kebijakan-kebijakan yang kurang menguntungkan rakyat, apalagi melanggar Pancasila dan UUD 1945 maka kami tidak akan ragu-ragu menyampaikan kritik kepada Pemerintah. Beliau menyambut ini dengan baik, dan beliau juga menyampaikan sewaktu-waktu akan mengundang saya untuk meminta pendapat dan masukan dari saya.

Terima kasih, saudara-saudara. Sahabatku di manapun berada.

Wassalamualaikum.

Salam Indonesia Raya,

Prabowo Subianto, 17-10-2014"



KOMPAS.com
Editor : Laksono Hari Wiwoho

Bersedia Bertemu Jokowi, Prabowo Dinilai Wariskan Tradisi Politik yang Baik

 Joko Widodo [Presiden RI] mengunjungi Ketua Umum Partai Gerindra



JAKARTA, Pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Pangi Sarwi Chaniago, mengatakan bahwa Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto telah mewariskan tradisi politik yang baik di Tanah Air dengan bersedia bertemu presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi).
"Pertemuan kedua calon presiden yang sama-sama bersaing pada pilpres lalu perlu diapresiasi, ini tradisi politik yang baik dan harus diwariskan kedepan," kata Pangi di Jakarta, Jumat (17/10/2014), seperti dikutip Antara.
Menurut dia, fenomena ini tidak terjadi pada Pilpres 2009 antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarnoputri. Pertemuan Prabowo dan Jokowi menyiratkan hubungannya telah cair, dalam hal ini juga ingin memberikan pesan Prabowo telah legawa dan menjadi pribadi yang negarawan.
Ia mengatakan, walaupun pertemuan itu baru terjadi beberapa hari menjelang pelantikan Jokowi sebagai Presiden RI 2014-2019, hal ini menunjukkan bahwa proses transisi kepemimpinan yang cukup baik.
Namun, yang perlu diperhatikan bukan berarti sikap politik Koalisi Merah Putih di parlemen akan otomatis berubah. Menurut dia, dapat dipastikan Koalisi Merah Putih akan tetap solid dan kritis sebagai penyeimbang di parlemen karena mereka tidak mendapatkan apa-apa.
Namun, tambah Pangi, gesekan antarpendukung Prabowo dan Jokowi dipastikan akan berkurang dan lebih mencair karena kedua tokoh puncak sudah bertemu dan mencairkan ketegangan yang terjadi selama ini.
Ia menyinggung tradisi politik di Amerika Serikat antara Barack Obama dan Jhon McCain. Seusai Obama ditetapkan sebagai pemenang, McCain langsung memberikan selamat dan mengajak semua pihak bersama-sama menggerakkan roda pembangunan.  KOMPAS.com 


Editor : Sandro Gatra
Sumber: Antara



 
Copyright © 2013 JOKOWIDODO.ORG #JOKOWIPRESIDEN
Powered by Blogger