BREAKING NEWS
.

POLITIK

OPINI & ANALISA

AGENDA & RELAWAN

BERITA

Serba-Serbi Jokowi

PEMILU 2014

INTERNASIONAL

Minggu, 26 Oktober 2014

Ini Susunan Kabinet Kerja Jokowi-JK


Jakarta - Tepat pukul 17.16 WIB, Minggu (26/10) sore, Presiden Joko Widodo didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla, ibu negara Iriana, dan ibu Mufidah, mengumumkan kabinetnya di halaman tengah Istana Kepresidenan, Jakarta. Kabinet yang diberi nama "Kabinet Kerja" terdiri atas empat menteri koordinator dan 30 menteri.
"Alhamdulillah kabinet hari ini sudah terbentuk," kata Presiden Joko Widodo.
Berikut daftar empat menteri koordinator dan 30 menteri dalam Kabinet Kerja Jokowi-JK periode 2014-2019:
Menteri Sekretaris Negara: Pratikno
Menteri PPN/Kepala Bappenas: Andrinof Chaniago
Menko Kemaritiman: Indroyono Soesilo
Menteri Perhubungan: Ignasius Jonan
Menteri Kelautan dan Perikanan: Susi Pudjiastuti
Menteri Pariwisata: Arief Yahya
Menteri ESDM: Sudirman Said
Menko Polhukam: Tedjo Edhy Purdijatno
Menteri Dalam Negeri: Tjahjo Kumolo
Menteri Luar Negeri: Retno Lestari Priansari Marsudi
Menteri Pertahanan: Ryamizard Ryacudu
Menteri Hukum dan HAM: Yasona Laoly
Menteri Komunikasi dan Informatika: Rudiantara
Menteri PAN dan RB: Yuddy Chrisnandi
Menko Perekonomian: Sofyan Djalil
Menteri Keuangan: Bambang Brodjonegoro
Menteri BUMN: Rini M Soemarno
Menteri Koperasi dan UMKM: AA Puspayoga
Menteri Perindustrian: Saleh Husin
Menteri Perdagangan: Rachmat Gobel
Menteri Pertanian: Amran Sulaiman
Menteri Ketenakerjaan: Hanif Dhakiri
Menteri PU dan Perumahan Rakyat: Basuki Hadimuljono
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan: Siti Nurbaya
Menteri Agraria dan Tata Ruang: Ferry Mursyidan Baldan
Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan: Puan Maharani
Menteri Agama: Lukman Hakim Saifuddin
Menteri Kesehatan: Nila F Moeloek
Menteri Sosial: Khofifah Indar Parawansa
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak: Yohana Susana Yembise
Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar Menengah: Anies Baswedan
Menteri Ristek dan Pendidikan Tinggi: M Nasir
Menteri Pemuda dan Olahraga: Imam Nahrawi
Menteri PDT dan Transmigrasi: Marwan Jafar

Penulis: A-16 / Nov / C-6 / Ezra Sihite/AB
Sumber:Investor Daily, Suara Pembaruan, Beritasatu.COM

Rabu, 22 Oktober 2014

Pengumuman Kabinet Batal, Petugas di Tanjung Priok Bingung

Terminal III, Dermaga 300., Tanjung Priok

JAKARTA,  Rencana Presiden Joko Widodo untuk mengumumkan susunan kabinetnya di Dermaga 302, Terminal III, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (22/10/2014) malam, batal. Gemerlap lampu yang sebelumnya menyinari podium yang sudah disiapkan akhirnya dipadamkan.

"Pengumuman batal, semua wartawan diminta kembali ke Istana," teriak seorang staf Biro Pers Kepresidenan, kepada para wartawan yang telah "diboyong" dari Istana ke Priok sejak sore tadi.

Saat ditanya alasan pembatalan, Biro Pers tak bisa memberikan penjelasan dan meminta maaf, serta meminta wartawan membubarkan diri.

Sebelum adanya pemberitahuan dari Biro Pers, tanda-tanda batalnya pengumuman kabinet sudah terlihat dari ditariknya Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Alat pengamanan di pintu masuk yang sebelumnya dipasang, kemudian dicabut. Perlahan, petugas Paspampres pun menarik diri.

Petugas Pelabuhan Tanjung Priok pun heran saat melihat wartawan mulai meninggalkan lokasi.

"Mbak, memang tidak jadi ya?" kata seorang pria yang mengaku belum diberitahukan atasannya bahwa kedatangan Jokowi dibatalkan.

Kabar pengumuman kabinet Jokowi memang sumir. Meski wartawan sudah disediakan bus menuju Pelabuhan Tanjung Priok, tidak ada pernyataan resmi dari Istana atau orang-orang dekat Jokowi apakah pengumuman kabinet akan dilakukan malam ini atau tidak.

General Manager Pelabuhan Tanjung Priok Arni Hendriyanto yang mempersiapkan panggung dan peralatan lain juga mengaku tak tahu menahu kegiatan Jokowi malam ini.

"Ya, dibilang Pak Jokowi mau ke sini. Tapi saya enggak tahu mau ngapain, saya sama penasarannya dengan teman-teman wartawan," kata dia.

Arni pun menyiapkan segala sesuatunya apabila Jokowi benar-benar datang dan berencana mengumumkan kabinetnya. Akan tetapi, acara itu akhirnya urung terlaksana. 

KOMPAS.com
Penulis: Sabrina Asril
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary

Bertemu Jokowi, Komaruddin Bantah Bicarakan Kabinet

Cendekiawan Muslim, Prof Dr Komaruddin Hidayat


KARTA,  Mantan Rektor UIN Jakarta Komaruddin Hidayat membantah pertemuannya dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (21/10/2014), membicarakan posisi untuknya sebagai menteri pada kabinet mendatang.

"Ketemu Presiden Jokowi sekadar ngobrol-ngobrol saja. Tidak ada pernyataan tentang jabatan di kabinet," kata Komaruddin melalui pesan singkat, Rabu (22/10/2014), seperti dikutip Antara.
Saat ditanya apa saja yang diobrolkan, Komaruddin enggan menjelaskan. Dia juga menyatakan tidak ada saran apa pun yang disampaikan untuk pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla.

"Enggak ada. Ngobrol layaknya dengan teman saja kok," jawabnya singkat.

Komaruddin didampingi Tim Transisi bertemu Presiden Jokowi pada Selasa siang. Ada spekulasi bahwa dia akan dicalonkan sebagai menteri.

Rencananya, Jokowi akan mengumumkan susunan kabinetnya di Dermaga 302, Terminal III, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, malam ini.


KOMPAS.com
Editor : Sandro Gatra
Sumber: Antara

Ini Skenario Pengumuman Kabinet Jokowi-JK di Pelabuhan Tanjung Priok

Panggung berukuran 10 x 15 meter persegi tampak telah terpasang

JAKARTA,  Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla akan mengumumkan nama menteri-menteri yang akan mengisi kabinetnya pada Rabu (22/10/2014) malam, di Terminal 3 Peti Kemas, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Pengumuman dijadwalkan pukul 20.00 WIB.

Meski belum ada kepastian apakah pengumuman berjalan sesuai rencana atau tidak, ada sejumlah skenario yang telah disiapkan untuk Jokowi-JK.

Informasi yang dihimpun Kompas.com dari orang dekat Jokowi, Presiden dan Wakil Presiden akan berada di sebuah panggung yang didesain berada di dekat laut dan menggunakan sebuah kapal pukul 20.00 WIB. Kedatangan Jokowi-JK akan diiringi dengan sorotan lampu putih berkekuatan 1.200 watt.

"Jokowi dan JK datang bersama menterinya. Lalu, kapalnya bersandar ke daratan, mereka lalu berbaris mendampingi Jokowi-JK," ujar dia.

Ketika Jokowi-JK dan para menteri melangkah ke daratan, mereka akan diberikan helm proyek berwarna oranye sekaligus rompi berwarna senada. Menurut pengamatan, sudah ada 33 helm yang disiapkan di meja panitia tersebut.

Tepat di belakang panggung panjang, di mana Jokowi akan mengumumkan kabinetnya, telah bersandar kapal peti kemas. Kapal yang biasa melayani rute impor itu menjadi latar belakang panggung.

Saat Jokowi dan JK mengumumkan nama menteri-menterinya, puluhan lampu sorot aneka warna akan menyorot kapal tersebut. Panggung itu telah dipersiapkan sejak Rabu pagi bersamaan dengan kedatangan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).

Adapun alat-alat sound system serta lighting baru masuk ke lokasi, Rabu siang. Sebesar 60.000 watt sound system akan menunjang 52 speaker aktif yang tersambung ke mikrofon Jokowi. Adapun 80.000 watt akan menunjang 30 buah lampu yang akan menyoroti segala aktivitas Presiden.

Namun, segala persiapan ini tidak bisa memastikan apakah pengumuman akan dilakukan malam ini atau tidak. Staf pribadi Presiden menyebutkan, pukul 18.30 WIB Jokowi masih berada di kompleks Istana Merdeka.



KOMPAS.com
Penulis: Fabian Januarius Kuwado
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary

Selasa, 21 Oktober 2014

Inikah Struktur Kabinet Jokowi-JK?

Rini Soemarno saat menemui Presiden Joko Widodo

JAKARTA, Hingga Selasa (21/10/2014) malam, Presiden Joko Widodo belum juga mengumumkan struktur kabinet ataupun nama-nama menterinya. Tidak ada secuil informasi pun yang disampaikan oleh Jokowi ataupun Tim Transisi yang membantunya membuat postur kabinet tersebut.

Kompas.com memotret Rini Soemarno, Ketua Tim Transisi Jokowi-Jusuf Kalla, ketika ia datang ke Istana Kepresidenan, Selasa. Saat itu, ada selembar kertas yang memperlihatkan sebuah bagan, diduga merupakan struktur kabinet Jokowi.

Bagan itu terdiri dari empat bagian yang diberi warna berbeda. Di atas tiap-tiap bagian terdapat tulisan kementerian koordinator dan diikuti kementerian-kementerian yang berada di bawahnya. Berikut ini daftar bagan yang terlihat dalam foto yang diabadikan Kompas.com tersebut.

Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (6 kementerian)
1. Kementerian Dalam Negeri
2. Kementerian Luar Negeri
3. Kementerian Pertahanan
4. Kementerian Hukum dan HAM
5. Kementerian Komunikasi dan Informatika
6. Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi

Di samping bagan tersebut terdapat empat pos, yakni Badan Intelijen Negara, TNI, Polri, dan satu pos lagi yang tidak jelas terbaca.

Kementerian Koordinator Kemaritiman (4 kementerian)
1. Kementerian Perhubungan
2. Kementerian Kelautan dan Perikanan
3. Kementerian Pariwisata
4. Kementerian ESDM

Tidak terlihat (10 kementerian)
1. Tidak terlihat
2. Kementerian BUMN
3. Kementerian Koperasi dan UMKM
4. Kementerian Perindustrian
5. Kementerian Perdagangan
6. Kementerian Pertanian
7. Kementerian Ketenagakerjaan
8. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
9. Kementerian Kehutanan
10. Kementerian Agraria dan Tata Ruang (Kepala BPN)

Kementerian Koordinator Pembangunan ... (tidak terbaca dengan jelas, membawahi 8 kementerian)
1. Kementerian Agama
2. Kementerian Kesehatan
3. Kementerian Sosial
4. Kementerian Pendayagunaan Perempuan & Perlindungan Anak
5. Kementerian Kebudayaan, Pendidikan Dasar, dan Menengah (Budikdasmen)
6. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Ristek Dikti)
7. Kementerian Pemuda dan Olahraga
8. Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi

Di samping bagan kementerian itu, terdapat empat pos, yakni BKPM, Badan Ekonomi Kreatif, Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN), dan TNP2K.

Hingga berita ini ditayangkan, Kompas.com masih mengupayakan konfirmasi terhadap bagan-bagan di kertas tersebut.




KOMPAS.com
Penulis: Sabrina Asril, Laksono Hari Wiwoho
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary

Sabtu, 18 Oktober 2014

Kultur Politik DPR dan DPD RI, 2014-2019



Oleh : Ahmad Syafii Maarif

Sebenarnya saya kurang berselera mengikuti kultur politik yang berkembang di DPR dan DPD RI, periode 2014-2019, dalam proses penentuan dan penetapan pimpinannya masing-masing. Biasanya saya memantaunya melalui siaran tv, sekalipun sepotong-sepotong, tidak utuh. Kali ini lebih banyak melalui RRI Pro 3 yang didengar sambil tiduran, tidak serius. Dalam sistem pemilihan pimpinan, kultur yang berkembang di DPD lebih beradab dibandingkan dengan apa terjadi di DPR yang brutal. Bahwa di lingkungan DPD juga berlaku persaingan ketat untuk berebut palu pimpinan, adalah lumrah belaka, tetapi di DPR yang dikuasai oleh partai-partai pendukung KMP (Koalisi Merah Putih), iklim balas dendam amat menonjol, sesuatu yang tidak terasa di lingkungan DPD, karena memang berasal dari unsur independen, sekalipun sebagian adalah mantan tokoh partai. Suasana di DPR menunjukkan bahwa slogan: siap kalah, siap menang, barulah sebatas slogan. Di DPD, suasananya memang lebih tenang, karena daya tarik dan kiprah para senatornya selama ini kurang mendapat perhatian publik.  


Di antara partai yang bermain di DPR lama dan baru, PD (Partai Demokrat) adalah yang paling tidak jelas kelaminnya, tetapi berlindung di bawah slogan ‘penyeimbang.’ Kultur politik yang berlaku dalam partai ini sangat ditentukan oleh karakter pimpinan puncaknya yang selalu memantau ke mana arah angin bertiup. Ibarat seorang sutradara, tokoh puncak ini memang sangat piawai dalam memainkan kartu politiknya, tetapi pengamat yang jeli gampang saja membacanya. Tetapi PDI-P sebagai pemenang pilpres memang kurang lihai dalam menjalin komunikasi politik dengan parpol lain. Mungkin para politisinya terhalang oleh dinding sejarah masa lalu yang sulit ditembus. 

Kembali ke PD. Sikap walk-out saat memperdebatkan RUUMD3 di DPR, periode 2009-2014, anak buahnya berkilah bahwa semuanya itu adalah inisiatifnya sendiri, bukan berasal dari sutradara. Tak ubahnya seperti burung onta yang menyembunyikan kepalanya dalam pasir, sementara tubuh dan ekornya dibiarkan nongkrong di luar. Tetapi inilah politik dalam iklim peradaban yang masih rendah yang dikemas dalam serba kesopanan dan dalam budaya saling menutup. Anas Urbaningrum, mantan ketua umum PD, banyak bercerita kepada saya tentang partai ini dan sang sutradara. Sayangnya, cerita itu disampaikan di saat posisinya sudah terancam. Sebelumnya Anas juga tidak kurang gigihnya dalam membela mentornya itu. Teman dalam politik kekuasaan jarang yang berumur panjang, kecuali jika diikat dan direkat oleh sebuah ideologi yang serius dan mantap. Di Indonesia sekarang ini, apa yang bernama ideologi itu sudah dijadikan barang mainan. Rapuh sekali. Orang berpindah partai sama saja seperti berganti pakaian.  

Sebenarnya brutalitas di DPR belum tentu akan berlangsung sedemikian garang dan gaduh, sekiranya Jokowi sejak awal mau membuka pintu untuk melakukan politik transaksional, sesuatu yang memang harus dihindarinya, demi mengubah kultur politik Indonesia yang sarat dosa dan dusta selama ini. Bukankah DPR selama ini dikenal sebagai salah satu lembaga tinggi negara, tempat bersarangnya para koruptor, yang ketahuan atau yang belum ketahuan? Bagaimana perjalanan ke depan, tentu sulit kita katakan sekarang. Tetapi satu hal yang tidak boleh dilupakan, yaitu pemihakan total kepada kepentingan rakyat banyak yang jarang terwakili di Senayan dan memang telah terabaikan selama puluhan tahun. Jokowi-JK tidak perlu cemas   benar menghadapi kepungan dari kiri-kanan, dari berbagai jurusan, selama pemerintahannya benar-benar berjalan di atas rel konstitusi, demi mewujudkan janji-janji kemerdekaan yang terbengkalai lantaran cekcok politik berkepanjangan yang sering benar mendera dan mencederai republik ini.


Sumber: maarifinstitute.org

Prabowo Minta Fraksi Gerindra Hadir dan Tertib Saat Jokowi-JK Dilantik

Joko Widodo mengunjungi Ketua Umum Partai Gerindra



JAKARTA,  Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto telah mengeluarkan instruksi kepada semua anggota Fraksi Gerindra di parlemen untuk menghadiri acara pelantikan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Bagi Prabowo, persaingan politik tidak lantas memecah belah dan semua wajib memenuhi undangan untuk hadir pada acara pelantikan tersebut.

"Saya sudah beri arahan ke Fraksi Gerindra untuk hadir di pelantikan dan jadi wakil rakyat yang baik," kata Prabowo saat menerima kedatangan pimpinan MPR di Jalan Kertanegara Nomor 4, Jakarta Selatan, Jumat (17/10/2014) sore.

Prabowo menyebutkan, instruksi tersebut ia berikan saat dirinya belum menerima undangan pelantikan Jokowi-JK dari MPR. Secara pribadi, ia ingin hadir dan memenuhi undangan tersebut. Namun, ia belum dapat memastikan diri hadir dalam acara itu karena ada pertemuan di luar negeri pada akhir pekan ini. "Kalau saya diundang, itu adat istiadat Indonesia hukumnya wajib untuk hadir," ucap Prabowo.

Ucapan Prabowo itu sontak disambut baik oleh Ketua MPR Zulkifli Hasan dan tiga Wakil Ketua MPR, yaitu Oesman Sapta Odang, Mahyudin, dan EE Mangindaan. "Alhamdulillah...," ujar mereka serempak.

Meski demikian, Prabowo menyatakan bahwa dirinya baru akan hadir jika urusannya di luar negeri selesai sebelum 20 Oktober 2014. Ia berjanji akan berusaha keras agar dapat tiba di Jakarta sesegera mungkin dan hadir tepat waktu pada acara pelantikan Jokowi-JK. "Tapi saya tidak ngarang, dan bukan alasan politik. Saya harus berangkat ke luar negeri, harusnya kemarin, tapi saya tunda. Kalau urusan saya selesai Sabtu atau Minggu, Minggu malam pun saya akan kembali ke Jakarta," kata Prabowo.



KOMPAS.com
Penulis: Indra Akuntono
Editor : Laksono Hari Wiwoho
 
Copyright © 2013 JOKOWIDODO.ORG #JOKOWIPRESIDEN
Powered by Blogger