BREAKING NEWS
.

POLITIK

OPINI & ANALISA

AGENDA & RELAWAN

BERITA

Serba-Serbi Jokowi

PEMILU 2014

INTERNASIONAL

Jumat, 04 Juli 2014

Dari Sherina Munaf hingga Afgan Syahreza Ramai-ramai Pasang #AkhirnyaMilihJokowi



JAKARTA,  Para artis Tanah Air yang selama ini nyaris tak pernah mengumbar sikap dan pilihan politiknya kini ramai-ramai berkicau di Twitter dan memasang tagar (hashtag) #AkhirnyaMilihJokowi. Tagar ini sudah menjadi pemuncak di daftar trending topic Twitter, Jumat (4/7/2014).

Deretan artis yang memasang tagar itu bisa disebut mulai dari Sherina Munaf sampai Afgan Syahreza. Tagar tersebut merupakan dukungan untuk pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla untuk Pemilu Presiden 2014.

Dalam kicauannya, Sherina menulis, "Udah nggak jamannya anak muda apatis sama negara. Yuk! Saya #AkhirnyaMilihJokowi." Akun Sherina diikuti oleh tak kurang 7,8 juta follower.

Sementara itu, Afgan dalam kicauan di akun yang diikuti 6,5 juta pengikut, menulis, "Dia bukan pemimpin yang cuma ngasih janji, dia berhasil bikin gw pengen ikut turun tangan buat memperbaiki indonesia. #akhirnyamilihjokowi."

Selain Sherina dan Afgan, mantan anggota boyband SM*SH, Morgan Oey, juga menulis dukungan dengan tagar tersebut, "Saya pengen ikut nentuin Indonesia ke arah yg lebih baik. Jadi, saya #akhirnyamilihJokowi ."

Deretan nama selebriti itu masih panjang. Sebut saja vokalis Aluna Sagita Gutawa, sutradara Mira Lesmana, penyanyi rap Pandji Pragiwaksono, dan artis peran Acha Septriasa.

Sementara itu, music director Eki Puradiredja berharap gelombang dukungan untuk Jokowi dapat terus bertambah hingga hari pemungutan suara pada 9 Juli 2014. Lewat akun Twitter-nya, dia menulis, "Gw berharap temen2 yg masih pd diam seribu bahasa terhadap pilpres ini segera mulai bersuara & menyatakan pilihannya! #AkhirnyaMilihJokowi."


Penulis: Irfan Maullana
Editor : Palupi Annisa Auliani

KOMPAS.com — Jumat, 4 Juli 2014 | 07:32 WIB

Rabu, 02 Juli 2014

Kiai di Sukabumi Yakin Jokowi Konsisten



SUKABUMI, Calon presiden Joko Widodo menyambangi pondok pesantren Al Hassaniyah di Kampung Babakan, Cicurug, Sukabumi, Rabu (2/7/2014).

Seusai melakukan pertemuan, Jokowi mengaku mendapat doa khusus dari pimpinan pondok pesantren Al Hassaniyah KH R Amang Muhammad.

"Kami mohon doa restu tadi dan banyak hal yang disampaikan kepada kita, juga doa khusus," kata Jokowi.

Amang mengaku mendoakan Jokowi sebagaimana yang ada dalam kitab suci Al Quran. Salah satunya agar Jokowi sabar menghadapi isu kampanye hitam. Menurut Amang, Jokowi adalah sosok yang konsisten dan istiqomah.

"Dalam doa itu sudah ada dan saya yakin beliau itu konsisten dan istiqamah," ujar Amang.

Amang juga mengaku mendukung Jokowi dan calon wakil presiden Jusuf Kalla pada Pemilu Presiden 2014.

"Barangkali 100 persen lah (mendukung). Kalau Bu Mega sudah memberikan mandat kepada Jokowi, nusa dan bangsa, kami komunitas ulama, juga memberikan mandat kepada Jokowi dan Jusuf Kalla," terang Amang.

Jokowi hadir mengenakan kemeja kotak-kotak dan peci hitam dengan ditemani tim suksenya, Anies Baswedan dan Teten Masduki. Dalam kesempatan itu, Jokowi melalui tim relawannya kembali membagi-bagikan tabloid "Obor Rahmatan Lil'Alamin" di kawasan pondok pesantren tersebut.


Penulis: Dian Maharani
Editor : Farid Assifa

KOMPAS.com - Rabu, 2 Juli 2014 | 14:37 WIB

Sabtu, 28 Juni 2014

Ruhut Sebut Orang yang Kaitkan 'Revolusi Mental" dengan Komunis, Galau

Anggota tim sukses pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla, Ruhut Sitompul


JAKARTA, Anggota tim sukses pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla, Ruhut Sitompul menyangkal, jika ide "Revolusi Mental" yang diusung Jokowi mengakar ke ideologi komunis. Ia bahkan menyebut pihak yang mengaitkan itu dengan komunis sebagai kelompok yang sedang galau.

"Yang ngomong itu sebenarnya orang-orang yang semakin sudah galau menurut saya," kata Ruhut saat dijumpai di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu (28/6/2014).

Ruhut menjelaskan, ide "Revolusi Mental" yang dibawa Jokowi yakni ingin mengubah perilaku masyarakat selama ini. Ruhut mencontohkan, jika sebelumnya masyarakat kurang disiplin, maka Jokowi ingin mengembalikan kedisiplinan tersebut.

Dia menambahkan, tidak sedikit anggota timses Jokowi-JK yang merupakan mantan jenderal TNI yang cinta Tanah Air. Sehingga, tidak mungkin ada paham komunis yang masuk ke dalam visi misi pasangan nomor urut dua itu.

"Pak Luhut itu jenderal, beberapa purnawiranan tentara juga ikut ini. Jadi bayangkanlah sangat selektifnya tentang komunis itu," ujar Ruhut.

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon menyebutkan bahwa gagasan "Revolusi Mental" yang diusung pasangan nomor urut dua Jokowi-JK memiliki akar yang kuat dengan paham komunisme.

"Karl Marx gunakan istilah 'revolusi mental' tahun 1869 dalam karyanya Eighteenth Brumaire of Louis Bonapartem. 'Revolusi Mental' juga jadi tujuan May Four Enlightenment Movement di China 1919 yang diprakarsai Chen Duxui (pendiri Partai Komunis Cina)," ujar Fadli.


Penulis: Dani Prabowo
Editor : Glori K. Wadrianto

KOMPAS.com - Sabtu, 28 Juni 2014 | 11:00 WIB

Menjawab Surat Terbuka Tasniem Fauzia Binti Amien Rais untuk Joko Widodo

Jokowi Bersama Habib Syech di Solo, Menebar Revolusi Mental


Wahai Saudari Tasniem Fauzia Binti Amien Rais,

Terimakasih atas surat terbukamu terhadap Bapak Jokowidodo calon presiden republik Indonesian,
Respon ini adalah surat jawaban dari anak bangsa yang mewakili suara tulus kebhinekaan,

dimana yang merasa untuk menjawab suratmu tidak perlu dijawab oleh yang bersangkutan cukup sy yg jawab, cukup dijawab oleh anaknya petani yang kebetulan dapat kesempatan study doctoral di Perth,

Pertama menjawab pertanyaan sumpah, saya yakin karena sumpah beliau untuk bisa mengemban amanah pembangunan masyarakat yang lebih baik, menciptakan ruang ruang publik bagi masyarakat yang lebih baik tidak hanya di jakarta tapi juga rakyat Indonesia, itu mengapa beliau mau dan bersedia menerima mandat dari ketua umum PDI Perjuangan untuk menjadi calon presiden. Beliau tidak pernah mencalonkan diri atau mengiklankan diri sebelumnya. Saya yakin dalam perjalanan beliau memimpin jakarta 2 tahun terakhir ini efeknya sangat terasa meski perubahan itu tidak semudah membalikkan tangan, namun proses masih berjalan dan akan terus berjalan. proses perbaikan yang dirasakan masyarakat Jakarta inilah yang ingin juga dirasakan kami para warga yang tinggal di daerah,kami ingin mendapatkan efisiensi pelayanan publik sebagaimana mulai dijalankan di masa kepemimpinan beliau, Jokowi Jusuf Kalla tidak akan sanggup tapi dengan dukungan iklas putra putra terbaik untuk melaksanakan semangat reformasi dan untuk menjadikan Indonesia Hebat saya yakin bersama kita bisa.

Kedua Semua mantan presiden dan semua mantan penjabat tinggi negara termasuk bapak njenengan pasti akan didengar masukannya, termasuk ibu Megawati Soekarnoputri, namun jangan paksa beliau untuk melawan atau menghinakan para mantan presiden dan pejabat tinggi negara, suaranya harus tetep didengar sebagai bahan pertimbangan.

Ketiga, untuk aplikasi program program pemerintah seperti pembelian drone, program kesehatan, pendidikan, dan lainnya didapatkan dengan banyak jalan.  Yang pasti memaksimalkan potensi pendapatan dan mengikis habis tikus tikus anggaran. Transaparansi budgeting dengan sistem lelang online akan mengurangi pat-gulipat permainan anggaran. Dengan maksimalkan potensi pendapat negara dan memaksimalkan kinerja KPK saya yakin program tersebut akan berjalan. Karena inti dari pembangunan adalah pembangunan manusia, bukan explorasi sumber daya alam saja.

Keempat, beliau tidak ada urusan dengan majalah Fortune atau urusan asing lainnya, sejauh tidak memberikan kemaslahatan kepada bangsa ini saya yakin beliau akan “melawan”. hal ini sudah terlihat dari setiap kebijakan yang di kreate beliau selau mengedepanakn dialog, diskusi dan yang pasti kepentingan bersama dan memberdayakan. Jadi saya jamin beliau akan tegas dalam renegosiasi kontrak karya perusahaan asing di nusantara.

Kelima, Blusukan adalah suatu proses untuk mendengar langsung keluhan masyarakat, mengkontrol pelaksanaan pembangunan secara langsung, bisa mencari solusi yang tepat krn mendapat informasi yang lebih akurat dan up todate, mengenai wartawan, itu memang kerjaan wartawan mencari berita, baik berita buruk ataupun berita baik, saya ndak tahu motivasi wartawan mengikuti Jokowi blusukan, tapi yang pasti itu wartawan dan media itu memiliki tugas menginformasikan informasi yang perlu diketahui publik, jadi kalau blusukan tidak layak diberitakan ya ndak usah diliput, gitu aja kog repot.

Keenam, Mengorbankan jiwa raga itu tidak harus dengan mengabdi diketentaraan atau ikut berperang, menmgorbankan jiwa raga bisa dilakukan oleh semua profesi termasuk dosen seperti ayahhanda njenengan Prof. Amien Amin Rais  atau bapak saya yang seorang petani, dalam era saat ini proses pengorbanan jiwa raga adalah dengan menggulung kepentingan pribadi dan golongan untuk membentuk tatanan masyarakat yang lebih setara seimbang dan makmur adalah proses pengorbanan yang bisa dilakukan oleh anak bangsa.

Menggaris bawahi jawab saya diatas, Jokowi insya Allah akan mampu membawa Indonesia menuju arah yang lebih baik dengan dukungan seluruh elemen anak bangsa. Indonesia tidak butuh pemimpin yang hanya pandai berkata kata, Indonesia membutuhkan pemimpin yang bekerja.

Saya yakin majunya Jokowidodo akan memberikan harapan kedepan kepada anak cucu kita untuk memiliki kesempatan dan harapan utk jd pemimpin tertinggi negeri ini. Pemimpin yang lahir dari rahim komunitas, rakyat yang bukan bukan jendral, bukan pengusaha super kaya, bukan pemilik media, bukan anak tokoh terkenal, bukan professor, bukan pelaku poligami, bukan doktor apalagi PhD lulusan Luar negeri, yang menjadikan orang biasa bisa bermipi untuk bisa menentukan arah negeri ini

salam dua Jari -Perth 27 Juni 2014

Oleh : Kompasianer: Achmad Room Fitrianto [Achmad Room adalah staf pengajar di UIN Sunan Ampel Surabaya sejak tahun 2003.]

Kompasiana  | 27 June 2014 | 15:02

Dipecat Golkar, Agus Gumiwang Bentuk "Relawan Dulur Jokowi-JK" di Jawa Barat

Agus Gumiwang Kartasasmita


JAKARTA, Mantan Ketua DPP Partai Golkar, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan siap memenangkan pasangan calon presiden-wakil presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla, dengan membentuk relawan Dulur Jokowi-JK di Jawa Barat.

"Kami membentuk relawan sendiri di Jawa Barat yang kami sebut Dulur Jokowi-JK. Ada 8.000 relawan yang siap memenangkan Jokowi-JK," kata Agus di Gedung Pusat Perfilman Ismail Usmar, Kuningan, Jakarta, Jumat (27/6/2014). Agus hadir dalam deklarasi Relawan Biji Kopi alias Barisan Jiwa Kotak-kotak Putih yang juga mendukung Jokowi-JK.

Menurut Agus, dukungannya kepada Jokowi adalah panggilan hati. Dia juga menyatakan siap menanggung seala risiko, seperti risiko yang sudah dijalaninya yaitu dipecat dari Partai Golkar, partainya selama ini. "Saya terima risiko dan konsekuensi dari pilihan saya. Saya lebih khawatir 250 juta masyarakat Indonesia bila mereka salah memilih," sambungnya.

Kendati tetap merasa kecewa dengan pemecatan atas dirinya, Agus mengaku akan lebih konsen untuk memenangkan pasangan Jokowi-JK. "Mereka punya subyektivitas untuk memecat saya. Tetapi, saat ini saya akan konsen untuk memenangkan Jokowi-JK," kata dia.

Pilihannya membentuk relawan di Jawa Barat, diakui Agus karena kondisi dukungan terkait Pemilu Presiden 2014 di provinsi tersebut. "Di Jawa Barat memang akan sulit. Untuk itu kami akan bekerja semaksimal mungkin," ujar dia.

Agus dipecat dari Partai Golkar karena memilih mendukung pasangan Jokowi-JK saat partainya bergabung ke koalisi yang mengusung pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Bersama Agus, dipecat pula dua kader lain Partai Golkar karena alasan yang sama, yaitu Nusron Wahid dan Poempida Hidayatullah.


Penulis: Yohanes Debrito Neonnub
Editor : Palupi Annisa Auliani

KOMPAS.com - Sabtu, 28 Juni 2014 | 07:01 WIB

Jokowi: Saya Difitnah, Sabar, Sabar, Sabar...

Jokowi di Ponpes Babussalam, Pagelaran, Kabupaten Malang, (27/6/2014)


MALANG, Calon presiden Joko Widodo terus "curhat" soal fitnah yang menurut dia terus menyambanginya. Dia mengaku bersabar saja menghadapi semua itu.

"Kalau saya difitnah, saya sabar, sabar, sabar. Ada yang menjelekkan, sabar, sabar, sabar," ujar Jokowi saat pidato di depan ribuan hadirin dan santri di Pondok Pesantren Babussalam, Kecamatan Pangelaran, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (27/6/2014).

Jokowi pun mengatakan, bila ada pihak yang menjelek-jelekkan, maka perbuatan itu harus dibalas dengan kebaikan. "Jangan balas dengan kejelekan juga. Aku rapopo," kata dia.

Dalam kampanye tersebut, Jokowi mengaku membawa sebuah tabloid. "Saya bawa tabloid Obor. Tapi (ini) tabloid Obor Rahmatal Lil Alamin. Tidak berisi hasutan (atau) fitnah tentang saya," ujar dia menyindir tabloid Obor Rakyat. "Kalau Obor Rahmatal Lil Alamin ini isinya baik semua," kata dia.

Lagi-lagi, Jokowi mengulang dialog tentang dirinya yang dituduh sebagai anak dari orang Singapura. "Ada yang mengatakan katanya saya anaknya orang Singapura. Wong wajah saya ndeso, kok bisa," ungkapnya.

Di depan hadirin yang mayoritas warga Nahdliyin itu, Jokowi juga mengatakan, jika Nahdlatul Ulama (NU) dan nasionalis bersatu dan bergandengan, maka kemenangan akan diraih. "Kita lihat tanggal 9 Juli nanti, siapa yang menang," katanya. 

 Penulis: Kontributor Malang, Yatimul Ainun Editor : Palupi Annisa Auliani

KOMPAS.com — Sabtu, 28 Juni 2014 | 06:26 WIB

Relawan Biji Kopi: Biar Kurus, Jokowi Orangnya Tegas




JAKARTA, Ratusan orang yang menamakan diri Relawan Biji Kopi atau Barisan Jiwa Kotak-kotak Putih resmi mendeklarasikan dukungan bagi kubu Jokowi-Jusuf Kalla, Jumat (27/6/2014). Mereka mengaku mendukung Jokowi karena sosoknya yang sederhana, bersih, merakyat, dan tegas.

"Ada yang bilang Jokowi tidak tegas. Saya tegaskan, biar kurus, Jokowi orangnya tegas," kata inisiator Relawan Biji Kopi, Hasan Nasbih, di Gedung Pusat Perfilman Ismail Usmar, Kuningan, Jakarta, Jumat. Menurut dia, sikap tegas tidak harus dinilai dari badan yang tegap, tatapan mata yang tajam, badan berotot, ataupun suara yang lantang ketika berorasi.

"Jokowi tegas dalam prinsip. Dia tegas ingin memberantas korupsi sehingga menolak partai yang bermasalah," ujar Hasan. "Jokowi menolak bekerja sama dengan partai bermasalah, tidak ingin bagi-bagi kursi, membuat banyak pihak atau parpol bermasalah akhirnya tidak bergabung dengan kubu Jokowi."

Hasan pun mengajak para pendukung Jokowi-Kalla untuk terus menolak kampanye hitam. "Mari kita lawan kampanye hitam yang mengatakan Jokowi tidak tegas, biar masyarakat bisa melihat siapa yang tidak tegas sekarang," ujar dia.

Sebelumnya, ratusan perwakilan relawan dari berbagai kecamatan dan kelurahan di DKI Jakarta mendeklarasikan dukungan kepada pasangan capres nomor urut dua Jokowi-JK. Kebanyakan relawan adalah para bekas relawan yang pernah mendukung Jokowi dalam Pemilu Gubernur DKI Jakarta pada 2012.


Penulis: Yohanes Debrito Neonnub
Editor : Palupi Annisa Auliani

KOMPAS.com — Sabtu, 28 Juni 2014 | 04:27 WIB
 
Copyright © 2013 JOKOWIDODO.ORG #NOMOR2MERAKYAT
Powered by Blogger