BREAKING NEWS
.

POLITIK

OPINI & ANALISA

AGENDA & RELAWAN

Monday, July 29, 2013

Wedjangan Revolusi Soekarno

Ir. Soekarno

"Abdi Tuhan"
Engkau nanti akan melihat matahari terbit, djadilah manusia jang berarti, manusia jang manfaat, manusia jang pantas untuk menjambut terbitnja matahari. Jang pantas menjambut terbitnja matahari itu hanja manusia-manusia abdi Tuhan, manusia-manusia jang manfaat. Ibu menghendaki aku mendjadi manusia jang pantas menjambut terbitnja matahari, oleh karena aku dikatakan oleh Ibu adalah anak fadjar. Tuhan memberi otak kepada manusia, memberi pikiran kepada manusia. Tuhan memberi djuga rasa kepada manusia. Hanja manusia jang otaknja tjerdas, rasa hatinja baik, kenang-kenangannja tinggi, bisa mendjadi manusia jang manfaat.
"Bertjita-tjitalah", h: 7
“Berdikari”
Saja sekarang berkata kepada Rakjat Indonesia, hai Rakjat Indonesia, Saudara-saudara kita semuanja, dari Sabang sampai ke Merauke, 104 djuta manusia, kita sekarang, Saudara-saudara bukan lagi mendjadi anggota dari PBB. Mari kita berdiri diatas kaki kita sendiri. Djikalau kita memang satu bangsa jang merdeka, dan memang kita adalah satu bangsa jang merdeka, mari kita berdiri diatas kaki sendiri.
“Mahkota Kemerdekaan” h: 7.
Bangkit!
Diberi hak-hak atau tidak diberi hak-hak; diberi pegangan atau tidak diberi pegangan; di beri penguat atau tidak diberi penguat, – tiap-tiap mahluk, tiap-tiap umat, tip-tiap bangsa tidak boleh tidak, pasti akhirnja berbangkit. Pasti achirnja bangun, pasti achirnja menggerakan tenaganja, kalau ia sudah terlalu sekali merasakan tjelakanja diri teraniaja oleh suatu daja angkara murka! Djangan lagi manusia, djangan lagi bangsa, walaupun tjatjingpun tentu bergerak berkeluget-keluget kalau merasakan sakit!
“Indonesia Menggugat” h: 68.
Bangsa dan Ras
Faham ras (djenis) ada setinggi langit bedanja dengan faham bangsa, oleh karena ras itu ada suatu faham biologis, sedangkan nationaliteit itu suatu faham sosiologis (ilmu pergaulan hidup).
“Dibawah Bendera Revolusi” h: 4.
Bangsa jang Besar
Kita bukan bangsa jang tempe, kita adalah bangsa jang Besar, dengan Ambisi jang Besar, Tjita-tjita jang Besar, Daja-Kreatif jang Besar, Keuletan jang Besar… Bangsa jang Besar, bangsa jang Hanjakrawarti-hambaudenda. Bangsa jang demikian itulah hendaknja bangsa Indonesia!
“Manipol”- h: 85.
Dekadensi
Penjelewengan terus-menerus menjebabkan dekadensi. Kadang-kadang, dekadensi jang berpuluh-puluh tahun lamanja, menjebabkan mengamuknja suatu revolusi baru.
“Manipol” h: 53.
Batja: Penjelewengan didalam Revolusi.
Deklarasi Bogor
Sudah tentu pertemuan-pertemuan untuk persatuan djugalah penting, tetapi pertemuan-pertemuan itu sifatnja membantu, sedang jang pokok tetaplah persatuan jang lahir dari aksi. Dalam hubungan ini kita harus tjatat pertemuan Bogor jang menghasilkan “Deklarasi Bogor” jang diadakan atas inisiatipku dan jang lain kupimpin sendiri. Aku setudju dengan adanja suatu “tata-krama Nasakom”. Di Indonesia, perkembangan Nasionalisme, perkembangan agama, dan perkembangan Komunisme didjamin. Ketiga-tiga aliran itu harus bekerdja sama setjara rukun. Masing-masing tidak diperkenalkan membitjarakan aliran jang lain setjara jang merugikan aliran lain itu. Djuga propaganda anti-nasionalisme, anti-Agama dan anti-Komunisme dilarang.
“Berdikari”.
Dentam-berdentam-gegap-gempita
Revolusi Indonesia adalah “razende inspiratie van de Indonesische geschiedenis”, – inspirasi dentam-berdentam gegap-gempita daripada Sedjarah Indonesia siapakah dapat memastikan sedjarah, siapakah dapat mematikan Revolusi Indonesia, inspirasi dentam-berdentam-gegap-gempita daripada Sedjarah itu?
“Tavip” h: 8.
Dialoog
Dalam tiap pertemuan 17 Agustus, dalam tiap pertemuan dengan Lembaga Tertinggi Revolusi sebagai sekarang ini, saja seperti mengadakan satu dialoog dengan Rakyat. Satu pembicarakan-timbal- balik antara saja dan Rakyat, antara Ego-ku dan Alter-Ego-ku.
***
Petundjuk, nasehat, korreksi, retooling, andjuran, konsepsi, zelfkritiek, penerangan, pembakaran semangat, penggarisan strategi, penetapan taktik, pendorongan dan sekali lagi pendorongan, – semua itu harus meluap-luap dalam dialog jang saja adakan dengan Rakjat pada tiap-tiap saat 17 Agustus itu.
“Gesuri”.
***
Podium [17 Agustus] ini saja pergunakan sebagai tempat dialoog Sukarno-pribadi dengan Sukarno-Pemimpin Besar Revolusi, tempat dialoognja Sukarno-Pemimpin Besar Revolusi dengan Rakyat Indonesia jang ber-Revolusi.
“Tavip” h: 6.
Djembatan Emas
Teriakkanlah sembojan sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi itu dengan suara jang mendengung menggetarkan langit, gemuruh sebagai guruhnja guntur. Dengungkanlah sampai melintas tanah datar dan gunung dan samudra, bahwa Marhaen diseberangnja Jembatan-emas akan mendirikan suatu masjarakat jang tiada keningratan dan tiada keburdjuisan, tiada kelas-kelasan dan tiada kapitalisme.
“DBR” h: 322.
Gita
Dentamnja Revolusi, jang kadang-kadang berkumandang pekik-sorak, kadang-kadang bersuara jerit-pahit, sebagai satu keseluruhan kita dengarkan sebagai satu njanjian, satu simfoni, satu gita, laksana dentumnja gelombang samudra jang bergelora pukul-memukul membanting di pantai, kita dengarkan sebagai satu gita kepada Tuhan jang amat dahsjatnja.
“Tavip” h: 10.
Ho-lopis-kuntul baris
Pengedjawantahan kesadaran sosial itu ialah persatuan, gotong rojong semangat jang saja namakan semangat “ho-lopis-kuntul-baris”. Semangat persatuan, semangat gotong-rojong, semangat “ho-lopis-kuntul-baris” itu adalah sjarat mutlak bagi terselenggarakannja masjarakat adil dan makmur.
“Manipol” h: 67.
Hoogste gezagdrager
Ordening politik-ekonomis-sosial itu dus sebenarnja adalah kekuasaan pokok, – hoogste gezagdrager – daripada kehidupan nasional kita ini. Autoriteit jang tertinggi dalam kehidupan Nasional kita itu, autoriteit Tjakrawarti dalam Revolusi kita itu, adalah ordening kollektif jang saja maksudkan itu.
“Manipol” h: 68.
Hukum-hukum Revolusi
Sekarang Roda Revolusi sudah berputar kembali atas dasar Hukum-hukum klassik dari semua Revolusi. Apakah Hukum-hukum klassik daripada Revolusi itu?
Satu: Tiada Revolusi djikalau ia tidak mendjalankan konfrontasi terus-menerus – confrontasi de tous les jours.
Dua: Tiada Revolusi djikalau ia tidak berupa satu disiplin jang hidup, disiplin dibawah satu pimpinan.
“Gesuri”.
Introspeksi
Pada hari 17 Agustus kita mengadakan introspeksi kepada diri sendiri, sudahlah kita melakukan segala kewadjiban jang harus kita lakukan?
“Djarek” h: 108.
Irama Revolusi
Segala pasang-naik dan pasang-surutnja perdjoangan, segala pukulan jang kita berikan dan pukulan jang kita terima, adalah iramanja perdjoangan, iramanja Revolusi.
“Tavip” h: 10gentasuararevolusi.com

Sunday, July 21, 2013

Ini Jawaban Jokowi Soal Tudingan Blusukan Boros Anggaran



Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menjawab tudingan blusukan yang dilakukannya boros anggaran. Anggaran untuk blusukan lebih banyak digunakan untuk program-program sosial.

Jokowi mengakui memang ada dana operasional yang dianggarkan untuk Gubernur dan Wakil Gubernur DKI. Namun dana operasional itu tak sepenuhnya digunakan untuk memfasilitasi kegiatan blusukan.

Wednesday, July 17, 2013

Prabowo says Jokowi owes his meteoric rise to him



After declining to comment on the rise of Jakarta Governor Joko “Jokowi” Widodo, chief patron of the Great Indonesia Movement (Gerindra) Party Lt. Gen. (ret.) Prabowo Subianto has finally spoken up about who could potentially beat him in the 2014 presidential election.

Responding to questions on whether he had held talks with Jokowi or the Indonesian Democratic Party of Struggle (PDI-P) about a possible coalition for next year’s election, Prabowo suggested Jokowi ought to join his ticket.

“I was the one who brought him [Jokowi] here from Surakarta. I was also the one who asked the PDI-P and Ibu Mega to nominate him,” Prabowo told reporters on the sidelines of an iftar dinner on Monday evening, referring to PDI-P chairwoman Megawati Soekarnoputri.

Prabowo appeared to have realized that his popularity had slipped with the rise of Jokowi and that his chance of becoming the country’s next president would improve only if he joined the Jokowi bandwagon.

Prabowo, however, suggested that he could not offer much until the 2014 legislative election next year.

As required by Law No. 42/2008 on presidential elections, Gerindra needs to win at least 20 percent of the votes to independently nominate the former commander of the Army’s Special Forces (Kopassus) for president.

Prabowo went on to blast the House of Representatives for refusing to amend the Presidential Election Law.

“It’s an unfair regulation because it violates the 1945 Constitution. But it is the law so we have to abide by it. How can I offer things today when I don’t even know how much I will win [in the legislative election]? There is a long way to go, we have to meet the threshold first,” Prabowo said.

He said that Gerindra would only negotiate a coalition with another party if it failed to meet the threshold.

According to a recent survey by the Indonesia Research Center (IRC), Jokowi would garner 32 percent of the vote if an election were to take place today, leaving Prabowo far behind in second place with only 8.2 percent of the vote.

Earlier this year, Jakarta-based think tank Centre for Strategic and International Studies (CSIS) also predicted that Jokowi would get 28.6 percent of the vote if a presidential election were to take place today, ahead of Prabowo with only 15.6 percent of the vote.

On Tuesday, Martin Hutabarat, a member of Gerindra’s board of patrons, said that the party did not see Jokowi as a threat to Prabowo’s presidential ambitions.

“As you know, Gerindra joined hands with the PDI-P to nominate Jokowi in last year’s gubernatorial election. We are very proud of his success. So, Gerindra and PDI-P should also work together in the presidential election,” Martin said.

Regardless of Jokowi’s growing popularity, he would have to wait for a decision from Megawati.

PDI-P secretary-general Tjahjo Kumolo told The Jakarta Post that “PDI-P, as well as Ibu Mega, are still closely monitoring the ongoing dynamics approaching the 2014 election”.

“We appreciate all the polls indicating Pak Jokowi’s popularity as well as the public’s trust in him. I’m confident that he is a true and sincere person,” Tjahjo said.

Separately, PDI-P executive Maruarar Sirait said the party would consider many factors before nominating a candidate.

“It’s also about momentum. Bu Mega will announce it when it’s time. However, I must emphasize that popularity is among the crucial factors,” Maruarar said.

Sunday, July 14, 2013

Jokowi Kuda Troya PDIP


Jakarta - Suara Jokowi makin moncer. Daulat Jokowi calon presiden menyeruak. Itu disuarakan berbagai elemen. Rakyat dan lembaga survey. Jika PDIP mengusungnya, Jokowi ditaksir akan tampil 'tanpo tanding'. Menang mutlak. Tapi bagaimana jika 'dipaksa' mendampingi Mbak Mega?
 
Copyright © 2013 JokoWidodo.ORG
Powered by Blogger