BREAKING NEWS
.

POLITIK

OPINI & ANALISA

AGENDA & RELAWAN

Wednesday, December 25, 2013

Strategi Jokowi Di Tengah Perjanjian Batu Tulis


Akhir-akhir ini di media massa baik online, cetak, dan visual ramai diperbincangkan tentang komitmen yang disebut Perjanjian Batu Tulis antara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Gerakan Indonesia Raya (GERINDRA). Perjanjian yang ditulis di secarik kertas itu dikonsep oleh Hashim Joyohadikusumo, dimana di butir nomor tujuh disebut bahwa PDIP akan mendukung Prabowo Subianto di Pilihan Presiden 2014.

Perjanjian tersebut pada 15 Mei 2009 diteken oleh kedua pimpinan partai yang dihadiri dan disaksikan oleh para petinggi PDIP yaitu Megawati sendiri, Pramono Anung, dan Puan Maharani, sedangkan pihak Gerindra yaitu Prabowo Subianto didampingi Fadli Zon, Martin Hutabarat dan Hashim Joyohadikusumo, dan lain-lain.
Awalnya Gerindra yang mengungkap adanya perjanjian ini untuk mengingatkan PDIP akan isi komitmen perjanjian tersebut. PDIP menolak dan menghindar saat dikonfirmasi terkait klaim Gerindra yang menyatakan bahwa sebagai timbal balik dukungan Gerindra kepada PDIP di tahun 2009 dimana Megawati - Prabowo, pasangan capres-cawapres di Pilpres 2009, pada tahun 2014 PDIP berjanji mendukung Prabowo sebagai capres dan sebagai cawapres dari PDIP.
Jika diperhatikan dengan seksama, munculnya klaim Gerindra ini berkaitan dengan pertama, moncernya elektabilitas kader PDIP Joko Widodo atau Jokowi yang saat ini menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Jokowi memang digadang-gadang oleh sebagan besar rakyat Indonesia untuk menjadi calon presiden pengganti Presiden SBY yang habis masa jabatannya. Berbagai survey menempatkan Jokowi di tempat teratas yang tak terkejar oleh siapapun termasuk Prabowo Subianto dari Gerindra. Berbagai survey itu juga menyatakan bahwa siapapun berpasangan dengan Jokowi dipastikan memperoleh kemenangan. PDIP pun menuai harapan besar untuk bisa memenangkan pilihan legislatif dengan adanya fenomena Jokowi ini. Juga, dalam pikiran Gerindra moncernya Jokowi ini tentu bisa dimanfaatkan untuk memenangkan pasangan Prabowo - Jokowi di Pilpres mendatang.
Kedua, santer wacana oleh PDIP bahwa Megawati - Jokowi sebagai pasangan capres dan cawapres di Pilpres mendatang sebagai salah satu rencana alternatif pasangan yang akan diusung oleh PDIP. Megawati berniat kembali mencalon dirinya sebagai presiden. Tentu saja wacana ini memukul Gerindra. Gerindra berkeinginan siapapun dari PDIP –berdasar perjanjian itu– seyogyanya adalah pasangan cawapres buat Prabowo sebagai bentuk timbal balik dukungan dari PDIP kepada Gerindra.
Kedua alasan itulah yang tampaknya menjadi pemicu diungkitnya Perjanjian Batu Tulis oleh Gerindra. Suasana antara kedua partai pun menjadi agak memanas. Elit keduanya berbalas pernyataan klaim-sangkal, Megawati sampai saat ini belum memberikan klarifikasi yang jelas. Prabowo pun berjanji akan mengungkapkan perjanjian itu pada saatnya.
Gerindra sebagai partai yang mengusung Prabowo harus sebagai capres menyadari betul kekuatan dirinya. Mustahil secara logika politik untuk bisa memenangkan minimal 20% total suara di pilihan legislatif untuk bisa secara sendiri mengusung Prabowo sebagai calon presiden. Perolehan suara yang hanya 4.46% di tahun 2009. “Record” ini sungguh mustahil bisa melesat menjadi 20 % perolehan suara dan bisa secara sendiri bisa mengusung Prabowo sebagai capres dengan munculnya Jokowi yang fenomenal. Karena itu Gerindra berupaya bisa berkoalisi kembali dengan PDIP, partai dimana Jokowi menjadi kader.
Di berbagai kegiatan tampak oleh mata digambarkan Megawati dan Jokowi selalu bersama. Seolah-olah ingin ditunjukkan bahwa Megawati memberikan sinyal positif kepada pendukung Jokowi bahwa tidak ada persaingan antara keduanya. Terbaca oleh pendukung Jokowi, Megawati memberikan sinyal kepada Jokowi untuk menjadi capres mendatang yang diusung oleh PDIP. Megawati dan Jokowi rukun dan “mesra”. Tetapi setelah itu muncul wacana memasangkan Megawati - Jokowi sebagai pasangan capres - cawapres. Tentu hal ini membuat kecewa pendukung Jokowi di PDIP sendiri maupun di luar PDIP.
Wacana ini membuat internal PDIP sendiri terjadi perpecahan. Kader yang masih menghendaki Megawati maju sebagai calon presiden dan kader yang menghendaki Jokowi sebagai calon presiden. Pengkutuban menjadi begitu jelas di internal PDIP. Bahkan perkembangan terakhir kader yang menghendaki Jokowi capres memunculkan PDIP Pro Jokowi (Projo). PDIP Projo menyadari betul fenomena Jokowi. Survey internal PDIP mengungkap kemenangan tipis Jokowi atas Megawati untuk menjadi calon presiden yang didukung oleh kader-kader PDIP.
Jokowi menyadari semua peristiwa politik di sekitarnya, termasuk perjanjian Batu Tulis yang disebut-sebut oleh Gerindra. Tentu saja seperti biasa Jokowi dengan “nggak mikirnya” terus menjalankan tugasnya sebagai Gubernur DKI Jakarta. Jokowi tetap seperti biasanya tetap sederhana, blusukan, dan bekerja keras membenahi Jakarta, kota yang akan menjadi “sahabat”nya dalam jangka waktu lama.
Hari ini Jokowi tampak kompak bersama salah satu pemimpin partai berambut perak setelah naik kereta di lain waktu bersama mencoba naik bus transjakarta. Inikah awal kebersamaan? Siapapun boleh menerka dan menafsirkan sendiri karena politik itu dinamis dan sulit diterka.
Sementara layar panggung politik menggeliat secara alami dan tak terduga menyediakan tempat untuk Jokowi sebagai Presiden berikutnya. Tanpa disadari solusi bagaimana menghadapi perjanjian Batu Tulis muncul sendiri. Partai yang berminat mengusung Jokowi bersama PDIP Projo walaupun seperti riak kecil saat ini berpotensi menjadi gelombang yang amat besar dan dukungan sebagian besar rakyat Indonesia yang siap menghantarkan Jokowi menuju tempat yang seharusnya di tahun 2014: di Istana Merdeka.

*) Penulis adalah Jokowi Lover yang lebih cinta Indonesia.
http://www.kompasiana.com/oun.samlanh [MAS WAHYU], 24 December 2013 | 19:02
 
Copyright © 2013 JokoWidodo.ORG
Powered by Blogger