BREAKING NEWS
.

POLITIK

OPINI & ANALISA

AGENDA & RELAWAN

Friday, December 20, 2013

The Great Jokowi



Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo alias Jokowi memang luar biasa. Rasanya belum pernah ada tokoh yang didukung untuk menjadi bakal calon presiden di negeri ini seluar biasa Jokowi. Bahkan sosok Bung Karno pun bisa dikalahkan Jokowi. 


Betapa tidak? Bung Karno punya perjalanan politik dan pengalaman kepemimpinan sangat panjang dan penuh belukar sebelum akhirnya menduduki kursi nomor satu di republik ini. Begitu pula Soeharto, Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, bahkan Susilo Bambang Yudhoyono. Tapi, Jokowi tak perlu perjalanan panjang itu. Jokowi hanya berbekal pengalaman memimpin Kota Solo satu priode dan sungguh tak penting untuk dipersoalkan kalau Jokowi tak menyelesaikan amanat menjadi walikota untuk kedua kalinya. Karena, ada panggilan lain yang lebih mulia: memajukan dan menata kembali kehidupan masyarakat ibu kota Republik Indonesia.
Kalau ternyata Jokowi terpaksa harus meninggalkan kursi orang nomor satu di DKI Jakarta, sungguh itu adalah pengorbanan yang luar biasa dari seorang sosok pemimpin yang bersahaja dan murah senyum tersebut. Tak perlulah kita persoalkan itu, karena menjadi presiden dari negeri sangat besar ini tentu saja lebih mulia daripada sekadar menjadi gubernur dari sebuah kota yang kelihatannya saja makmur, padahal masih begitu banyak orang miskin yang terkaing-kaing menyambung hidup di belakang gedung-gedung tinggi menjulang: Jakarta.
Indonesia telah memanggil Jokowi. Mari kita sambut bersama Jokowi dengan penuh hormat dan menjura. Mari juga kita renungi puisi seorang mantan aktivis pencipta “Sumpah Mahasiswa”, yang kini menjadi tenaga ahli Ketua MPR, Afnan Malay. Dalam deklarasi terbentuknya Sekretariat Nasional Jokowi, Ahad siang (15/12), di sepanjang Jalan Sudirman dan Jalan Thamrin, Jakarta, Afnan Malay yang memang penyair berbakat cum pengacara cum kritikus seni rupa membacakan puisinya dengan penuh gelora: "Bukan hanya kami, yang rindu pemimpin punya telinga/menjawab janji tidak dengan retorika tapi kerja nyata/ ya, bukan hanya kami: melainkan Indonesia!// Sungguh sulit menahan air mata agar tak keluar ketika mendengar dan merenungkan puisi Afnan Malay itu.
Selain Afnan Malay, yang ikut mendukung Sekretariat Nasional Jokowi antara lain mantan aktivis dan mantan anggota legislatif dari PDIP, Muhammad Yamin, sosok di belakang gagasan penggantian nama jalan pemberian Bung Karno, Jalan Medan Merdeka, menjadi nama Jalan Soekarno, Jalan Mohamad Hatta, dan sebagainya; mantan komisioner Komnas HAM Ifdhal Kasim; sejarawan bernas dari Universitas Indonesia, Dr Hilmar Farid, dan; ahli agraria Dr Noer Fauzi.
Sekretariat Nasional Jokowi adalah wadah bagi warga yang menginginkan Jokowi menjadi Presiden RI. Dari sini saja terlihat bagaimana Jokowi telah menciptakan sejarah. Belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah republik ini bakal calon presiden didukung oleh relawan-relawan militan nan cendekia yang mengorganisasi diri dalam suatu wadah yang bukan partai politik atau bukan pula organisasi di bawah partai politik (onderbouw). Bahkan, Bung Karno baru punya massa pendukung militan terorganisasi dengan rapi setelah beliau menjadi presiden. Itu pun organisasi kemahasiswaan, seperti organisasi mahasiswa di Universitas Bung Karno atau Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia.
Jadi, Jokowi telah menorehkan sejarah. Jokowi adalah pelopor agung dalam hal kepemimpinan nasional. Hal-ihwal meritokrasi dan urusan pengalaman panjang yang harus dimiliki untuk menjadi pemimpin di negeri yang sangat majemuk ini adalah sekadar dongeng masa silam dan fashionabale nonsense. Bukankah Jokowi sebagai Gubernur Jakarta dan wakilnya, Ahok, sudah membuktikan bahwa itu semua hanya nonsense, dengan memilih pejabat lewat mekanisme lelang jabatan? Apalagi, sejarah juga mencatat, para tokoh yang pernah memimpin negeri ini, yang punya pengalaman panjang dan kecerdasan yang tak bisa dianggap remeh, ternyata tak berhasil membawa bangsa dan negara besar ini ke suatu kondisi adil, makmur, dan sejahtera, bukan?
Karena itu, tak ada pilihan lain, hanya ada satu kata: Jokowi. Atau dua kata: Joko Widodo. Atau tiga kata: The Great Jokowi!
Hampir semua survei kandidat presiden juga telah membuktikan secara statistik matematis bahwa Jokowi-lah yang diinginkan sebagian besar rakyat negeri ini (dan karena itu paling pantas) untuk menjadi Presiden Republik Indonesia. Apalagi, matematika itu ilmu murni, sepadan kemurniannya dengan Jokowi.
Bukankah banyak juga yang mencemooh Paul Omerot ketika ia menyodorkan tesis bahwa matinya ilmu ekonomi karena terlampau banyak campur tangan matematika di dalamnya?
Jadi, mari sekali lagi kita menjura kepada Jokowi. Hiduplah, Paduka yang Mulia Joko Widodo. Betapa kami rindu pemimpin punya telinga, menjawab janji tidak dengan retorika, tapi kerja nyata. Ya, bukan hanya kami, melainkan Indonesia!
 
Oleh Bungsu Elmenes: Penulis adalah pengagum berat Jokowi.
 ASATUNEWS December 16, 2013 06:40:36 
 
Copyright © 2013 JokoWidodo.ORG
Powered by Blogger