BREAKING NEWS
.

POLITIK

OPINI & ANALISA

AGENDA & RELAWAN

Wednesday, January 15, 2014

4 Perubahan Banjir di Jakarta Setelah Ditangani Jokowi


Jakarta - Eskalasi banjir di Jakarta pada Januari 2014 menurun dibandingkan tahun lalu. Hasil kerja keras Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengantisipasi bencana tahunan ini mulai membuahkan hasil.

Pada bulan yang sama, banjir yang melanda Ibukota dinilai lebih kecil ketimbang tahun 2013. Banjir kali ini hanya melanda kawasan pinggiran Jakarta, belum menyentuh sentra bisnis. Ketinggian air juga relatif berkurang.

Menyusutnya banjir tidak terlepas dari buah kerja keras dari Jokowi. Orang nomor satu di Jakarta itu telah melakukan beragam langkah mengurangi dampak banjir mulai dari mengeluarkan surat siaga banjir, mengerahkan pompa, normalisasi sungai hingga memodifikasi cuaca.


Namun, siaga darurat banjir hingga saat ini belum selesai. Berdasarkan surat edaran Jokowi, status tersebut akan tetap berlaku hingga 11 Februari 2014.

Berikut 4 perubahan banjir di Jakarta setelah ditangani Jokowi:

1. Istana SBY Kini AmanIstana Negara tidak tersentuh genangan air saat banjir menerjang sejumlah kawasan di Jakarta tahun ini. Setidaknya sampai tanggal 15 Januari 2014.

Pada Senin (13/12014) lalu, Jokowi meninjau Pintu Air Jembatan Merah, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Jokowi ingin memastikan debit air di pintu air ini dan pengalirannya ke Waduk Pluit.

Jokowi tiba di Pintu Air Jembatan Merah, Sawah Besar, Jakarta Pusat, pukul 12.30 WIB. Dia didampingi Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Manggas Rudi Siahaan.

Jokowi mengatakan, air di Pintu Air Jembatan Merah ini berasal dari aliran Pintu Air Manggarai. Nah, yang di Manggarai dan Jembatan Merah ini pintunya sudah mulai dibuka perlahan-lahan agar tidak membanjiri Istana Negara dan wilayah Medan Merdeka.

"Yang Manggarai dan di sini kita buka perlahan-lahan supaya tidak ke istana, jadi dilarikan ke sini (pintu air Jembatan Merah). Pintu air di Jembatan Merah ini akan kita buka perlahan-lahan, kita pompa ke laut, sebagian lagi ke waduk Pluit," terangnya.

Kondisi Pintu Air Jembatan Merah sendiri terpantau setinggi 170 Cm. Air di sini nantinya akan dibuka perlahan-lahan agar berkurang. Sementara itu, terlihat beberapa petugas Dinas Kebersihan membersihkan sampah-smapah yang tertahan di pintu air.

Pada tahun 2013, kompleks Istana Negara telah terendam banjir. Ketinggian air di lingkungan Istana Negara hampir mencapai lutut orang dewasa.

Akibat banjir ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menunda sejumlah acara penting di Istana Negara. Salah satunya pertemuan penting dengan Presiden Argentina Cristina Fernandez De Kirchner.

Masuknya air ke lingkungan Istana Negara karena terus naiknya pintu air Manggarai. Ketinggian terakhir melampaui 1000 cm.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memang telah melaporkan potensi banjir di Istana Negara. Melalui BNPB, Presiden juga telah menyatakan siap menghadapi banjir.

2. Tanggul Beres
Jokowi kembali menegaskan bahwa penanganan banjir di ibukota juga merupakan tanggung jawab pemerintah pusat. Ketika ditanyai terkait pembangunan Tanggul Latuharhary dan Waduk Pluit, ia menyebutkan bahwa kedua proyek tersebut merupakan kewenangan Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

"Sedang dikerjakan Kementerian PU. Itu tanggung jawab PU. Jangan ditanyakan ke saya," kata Jokowi ketika ditanya mengenai persiapan Tanggul Latuharhary di musim banjir saat ini.

Hal tersebut ia sampaikan usai mengecek jalan yang ambles di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, Selasa (14/1/2014).

Tahun lalu, Tanggul Latuharhary sempat jebol dan mengakibatkan kawasan Bundaran HI terendam banjir. Di akhir Desember 2013, tanggul tersebut diketahui miring hingga 30 derajat. Jokowi sempat menjanjikan bahwa perbaikan tanggul hanya akan memakan waktu 3 hari namun hingga kini masih belum selesai.

"Ya itu kan kata kontraktornya. Saya kan bertanya ke kontraktor yang ada di situ, paling gak 5 hari. Tapi saya cek sampai sekarang belum rampung. Saya ngomong itu pasti berdasarkan informasi lapangan," lanjut mantan Walikota Solo ini.

Jokowi telah memastikan proses perbaikan tanggul tersebut berangsur pulih.

"Besok ini sudah kita serahkan ke kementerian PU. Karena tanggap darurat sudah kita anggap selesai" ujar Jokowi usai melihat proses perbaikan Tanggul BKB, di Jalan Latulahary, Jakarta Pusat, Sabtut (19/1/2013).

Menurutnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta hanya menjalankan tugas tanggap darurat agar limpahan air tidak masuk ke dalam kota, nantinya proses permasalahan teknis seperti penguatan pondasi tanggul diambil alih oleh Kementerian Perkerjaan Umum.

3. Pusat Bisnis 'Kering Air'Banjir mengepung kawasan pinggir Jakarta. Mulai dari Kp Pulo, Kp Melayu, Kebon Pala di Jaktim, sampai di TB Simatupang, Kemang, dan Kalibata, Jaksel. Banjir mengganggu aktivitas warga di kawasan itu, tapi tidak di kawasan bisnis.

Berdasarkan pantauan, Senin (13/1/2014) di kawasan bisnis Kuningan tidak tampak sama sekali genanan. Jl Rasuna Said, kering kerontang.

Bergeser ke kawasan Sudirman, Thamrin, Bundaran HI juga sama sekali tak tersentuh banjir. Tak ada kemacetan akibat genangan. Demikian juga kawasan Kota dan Mangga Dua. Berbeda dengan banjir beberapa waktu lalu yang menyapu kawasan bisnis.

Banjir kali ini memang hanya berada di kawasan pinggir yang berada di dekat kali. Aliran air dari kawasan Bogor di mana hujan terus turun membuat air membludak.

Kawasan lain yang mengalami banjir cukup parah antara lain beberapa titik di Bintaro, Bekasi, dan juga Depok.

Pada tahun 2013, nilai kerugian materi akibat banjir setidaknya mencapai Rp 1 triliun. Itu belum termasuk kerugian akibat terhentinya kegiatan ekonomi selama banjir berlangsung.

"Sekitar Rp 1 triliunan, itu belum dihitung kerugian ekonomi. Karena ada hari yang di mana tidak ada kegiatan ekonomi," ujar Menko Kesra, Agung Laksono di kantor presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa (22/1/2013).

Ketika banjir kemarin, kawasan bisnis di Thamrin, Sudirman hingga Rasuna Said dan berbagai sentra kegiatan ekonomi di berbagai tempat sempat terganggu. Ruas jalan protokol praktis tak bisa dilalui akibat genangan air. Otomatis roda ekonomi pun menjadi terganggu.

Namun pemerintah baru bisa mengeluarkan angka pasti setelah banjir benar-benar surut di semua tempat. Kerugian yang dihitung juga termasuk di masyarakat.

4. Warga: Banjir 2013 Lebih Parah
Warga Jakarta buka suara seputar bencana banjir. Mereka bilang banjir tahun ini skalanya lebih kecil.

Air setinggi sekitar 100 cm masih membanjiri Jalan Panjang depan Komplek Green Garden, Kedoya, Jakarta Barat. Menurut warga, banjir tahun lalu lebih parah dari sekarang.

"Tahun lalu lebih parah, banjirnya sampai seperut orang dewasa," ujar salah seorang warga Kedoya Mamat (43) di Jl. Panjang, Kedoya, Jakarta Barat, Selasa (14/1/2014).

Menurut dia banjir tahun lalu cakupannya lebih luas lagi. Banjir pun baru surut seminggu kemudian.

"Itu tahun lalu sampai ke halte TransJ Green Garden (100 meter dari Komplek Green Garden), terus di sananya lagi juga banjir," imbuh Mamat.

Pendapat senada juga dinyatakan oleh Yono (48) yang merupakan karyawan TV berlangganan swasta di kawasan Green Garden. Menurut dia tahun lalu banjir juga sampai ke Pasar Pesing, Jakarta Barat.

"Itu Pasar Pesing sampai kelelep (tenggelam), kendaraan nggak bisa ambil jalur memutar lewat sana kalau mau ke Daan Mogot. Sekarang jauh lebih mendinganlah," tutur Yono.

Pria yang berdomisili di Pasar Pesing ini membantu petugas untuk mengalihkan kendaraan. Dia pun mengarahkan rekan-rekan sekantornya untuk naik truk yang disediakan untuk menyeberang ke kantornya.
(aan/mad)
  
Rabu, 15/01/2014 12:41 WIB
Hestiana Dharmastuti - detikNews
 
Copyright © 2013 #01JOKOWILAGI
Powered by Blogger