BREAKING NEWS
.

POLITIK

OPINI & ANALISA

AGENDA & RELAWAN

Thursday, January 9, 2014

Kalau Jokowi memang Capres Terbaik Survei Kompas, Jadikan Saja Dia Presiden sekarang Juga. SBY, Ngaso-lah !

Kalau Memang Jokowi Capres Terbaik sesuai survei Kompas, Sudah Jadikan Saja Jokowi Presiden RI sekarang Juga. SBY, Pensiun-lah !  Negeri ini ruwet sekali, korupsi merajalela, pejabat dan pegawai negerinya hobi ke Mall, hidup mewah, berhobi nyolong, mencuri, DPR-nya juga nyolong, pengusahanya mewah karena korup atau  ngemplang pajak, politisinya bermental korup dan aparat polisi maupun militernya bermental  korup,  tidak pro-rakyat, tidak mau hidup sederhana. Sudahlah, Jokowi suruh jadi presiden, SBY ngasolah.
  Pilpres jadi lebih hemat dan efisien. Daripada NKRI retak atau bubar nanti.
 Demikian pandangan berbagai kalangan muda yang resah dengan memburuknya ekonomi rakyat dan membludaknya kaum pengangguran dan kaum miskin di negeri ini. ''Itu realitas,'' kata Muhamad Nabil, peneliti CSRC UIN Jakarta. Sementara mantan menko ekuin Rizal Ramli mengakui, Jokowi sahabatnya yang sahaja, dan kini memang Jokowi  media darling yang lugas, polos dan dekat ke rakyat. ''Dia sahabat kita, semoga selalu amanah,'' katanya.
Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto mengaku tak mempercayai hasil survei kandidat Capres 2014. Sebab, hasil survei capres bisa dibeli. "Masa negara ini ditentukan dari survei. Survei kan bisa dibayar," ujar Prabowo di Jakarta, Rabu (8/1/2014).
Menurut dia, kredibilitas lembaga survei saat ini banyak dipertanyakan sebab cenderung disponsori oleh pihak tertentu untuk memunculkan nama capres tertentu. Sehingga banyak hasil-hasil survei yang akurasinya masih dipertanyakan karena tidak mencerminkan suara rakyat. "Survei apa saja bisa dibeli di republik ini. Ini bagus anda tanya. Masa bangsa ini mau diatur tukang survei. Saya yang penting demokrasi dan rakyat yang memilih. Bukan tukang survei yang memilih. Kita lihat nanti. Saya bisa kasih 15 survei Gerindra nomor satu, dan saya nomor satu. Anda mau? Anda mau umumkan," ungkapnya. Sebelumnya, survei Kompas ungkap,  elektabilitas Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) semakin meroket.
Di survei politik terkini, elektabilitas Jokowi menembus angka 43,5% jauh meninggalkan capres Gerindra Prabowo Subianto yang justru elektabilitasnya turun sampai 11,1%. Salah satunya survei Kompas, membandingkan hasil survei yang dilakukan selama tiga periode yakni akhir 2012, pertengahan 2013, dan akhir tahun 2013.
RESPON
Berbagai kalangan membantah survei Kompas, dan menilai survei itu pro- Jokowi, sehingga dinilai bias Jokowi pula. Kecenderungan Kompas mensurvei Jokowi dengan kenaikan tinggi, bahkan mengecewakan kubu Prabowo. ''Survei itu seperti fait accompli bagi Prabowo, dan itu bias Jokowi, dan kubu Prabowo tentu saja menerima apapun survei Kompas itu meski tidak yakin itu kebenaran nyata. Sebab survei Kompas itu baru sebatas popularitas dan elektabilitas virtual bagi Jokowi. Tentu survei kita hargai namun tidak kita percayai begitu saja,'' kata Nehemia Lawalata, tokoh GMNI Indonesia Timur dan mantan Sekretaris Politik Prof Sumitro Djojohadikusumo. Menurutnya, banyak kalangan tak percaya dengan survei Kompas itu meski efek berantainya tajam sekali menguntungkan Jokowi.
Namun banyak kalangan, katanya, yakin Prabowo akan unggul dan kemungkinan duet dengan Dahlan Iskan dari Demokrat untuk menantang Jokowi 2014. ''Jokowi itu kan jagoan dalam survei, tidak dalam gagasan dan visi-misi seperti Prabowo. Duet Prabowo-Dahlan Iskan atau duet Prabowo- Rizal Ramli bakal menundukkan Jokowi kalau Jokowi jadi capres,'' katanya. Sempat menjadi kompetitor terdekat menyaingi Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo di jajaran nama yang mendapat dukungan untuk diusung pada Pemilu Presiden 2014, Prabowo Subianto justru harus mendapatkan penurunan suara signifikan dalam survei Kompas per Desember 2013.
Tiga survei yang digelar Kompas menjajaki peluang para tokoh yang akan melaju pada Pemilu Presiden 2014. Periode survei adalah Desember 2012, Juni 2013, dan Desember 2013. Berdasarkan ketiga survei, dukungan tinggi untuk Prabowo pada periode pertama, yang meningkat pada periode kedua, justru turun drastis pada periode ketiga. Pada survei pertama Desember 2012, dukungan untuk Prabowo berada pada posisi terdekat dengan Jokowi. Saat Jokowi meraup dukungan 17,7 persen, Prabowo mengumpulkan 13,3 persen dukungan dari 1.400 responden di 33 provinsi.
''Dalam survei Jokowi unggul, namun dalam realitas politik pilpres 2014, saya kira Jokowi bakal keder atau gentar menghadapi Prabowo yang lebih siap dengan visi-misi dan kepemimpinan tegas. Prabowo bakal kalahkan Jokowi,'' kata Nehemia.
Banyak pihak iri dengan Jokowi yang jadi media darling, seakan Jokowi seperti nabi kecil bagi media. Akibatnya, peserta konvensi calon presiden Partai Demokrat Endriartono Sutarto mengkritik media yang sering menyorot Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau Jokowi. Banyak orang sependapat seperti Endriartono. Iri atau meri-lah sama Jokowi. "Jokowi atau kandidat capres lain yang punya media diberikan porsi lebih," ujarnya kepada INILAH.COM, Rabu (8/1/2014) malam. Menurutnya, bukan hanya Jokowi yang memiliki gagasan hebat. Masih banyak tokoh yang memiliki pemikiran bagus soal membangun negara ini. Mantan politikus Partai Nasional Demokrat (NasDem) ini menyebut Wali kota Surabaya Tri Risma Harini. "Surabaya menjadi langganan Adipura sejak dipegang Risma," ujarnya. Mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia ini berharap media adil dalam memberitakan kandidat capres lain, termasuk para peserta konvensi Demokrat.(berbagai sumber/RM)

RIMANEWS-Thu, 09/01/2014 - 09:19 WIB
 
Copyright © 2013 JokoWidodo.ORG
Powered by Blogger