BREAKING NEWS
.

POLITIK

OPINI & ANALISA

AGENDA & RELAWAN

Friday, January 17, 2014

Megawati: Sosok Itu Harus Taat Konstitusi

Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia PerjuanganMegawati Soekarnoputri [KOMPAS/LUCKY PRANSISK]

JAKARTA,  Tanpa bermaksud merendahkan partai politik lain, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri di kediamannya, Jalan Teuku Umar, Jakarta, Senin (6/1/2014), mengatakan, ”Saya ketawa lho, kalau melihat sekarang, memilih presiden, kok, seperti memilih pemain sinetron.”

”Bukannya saya merendahkan, tetapi harus tahu rekam jejak orang yang akan memimpin republik yang besar sekali ini. Sosok (pemimpin ideal) itu harus taat kepada konstitusi,” kata Megawati, dalam wawancara khusus dengan Kompas.


Pernyataan Megawati itu disampaikan saat banyak orang menantikan keputusannya mengenai sosok calon presiden yang akan diajukan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) untuk pemilihan presiden pada Juli 2014.

Dalam wawancara ini, Megawati mempertanyakan metode yang digunakan sejumlah partai politik untuk memilih calon presiden mereka. Ada partai berjuang keras mencari kandidat calon presiden (capres) dengan metode konvensi. Ada pula yang menggunakan strategi dengan mendorong musisi dangdut senior menjadi capres mereka.

”Tanya mereka yang akan nyalon. Pernahkah mereka pergi ke pulau kecil di ujung timur (Indonesia),” ujar Megawati. Dengan panjang lebar, dia menjelaskan jumlah pulau dan batas terluar wilayah. Ia menjabarkan kekayaan alam Indonesia, yang memicu keinginan asing kembali ”menjajah” setelah dulu selama 350 tahun bercokol di Nusantara.

Megawati menyampaikan pula gagasannya supaya Indonesia sejajar dengan negara maju, dengan terlebih dahulu memperkuat kemampuan bangsa ini. ”Bukan saya anti asing, melainkan kita harus punya harga diri,” ujarnya.

Ia menyinggung soal negara- negara penggerak ekonomi dunia saat ini yang dikenal sebagai BRIC—Brasil, Rusia, India, dan China. ”Awalnya, saya kira, ’I’ itu Indonesia, eh, ternyata India,” kata Megawati. ”Tidak apa-apa kan kalau kemudian ’I’ (di BRIC) jadi dua. Indonesia baru India,” ujarnya.

Berbincang dengan Megawati seperti menghadiri kuliah tentang sejarah bangsa. Ia duduk dikelilingi lukisan-lukisan besar Soekarno dan Megawati. Anak proklamator ini juga berulang-ulang menyebut Pancasila.

”Maaf saja banyak partai yang tidak bisa menerangkan ideologinya,” kata Megawati.

Pada 41 tahun lalu, PDI merupakan fusi dari PNI, Parkindo, Partai Katolik, Murba, dan IPKI. Lima partai itu punya latar belakang, sejarah, dan ideologi yang berbeda. Setelah fusi, menurut Mega, dirinya menginternalisasikan ajaran Bung Karno dan Pancasila.

Saat baru menjadi Ketua Umum PDI-P, menurut Megawati, kader PDI-P antara lain terdiri dari preman, tukang becak, ataupun tukang sapu. ”Mereka menjadi pemimpin struktur partai karena loyal kepada Bung Karno. Mengapa loyal? Karena tahu Bung Karno itu proklamator yang memerdekakan Indonesia. Juga karena Pancasila, mereka bisa mendapat makan, dapat sejahtera,” tuturnya.

Ajaran Trisakti dari Bung Karno juga disebut Megawati. Trisakti mengajarkan agar berdaulat di bidang politik, berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) di bidang ekonomi, serta berkepribadian di bidang kebudayaan.

”Saat memimpin PDI-P dengan kader preman-preman itu, saya diolok-olok,” kenang Megawati. ”Saya biarkan karena mereka (kader PDI-P) rakyat kita. Saya didik mereka. Baru setelah dua kali kongres, ada sarjana masuk PDI-P. Ada yang mau ke tingkat bawah untuk melihat (rakyat) di bawah,” katanya.

Menurut Megawati, pemimpin harus mempunyai kesabaran revolusioner. Kesabaran yang bergerak, tidak hanya menunggu. ”Kami harus melakukan sesuatu, memperbaiki diri,” katanya. Resepnya, Megawati menegaskan, harus mempunyai roh. Pancasila adalah roh dari PDI-P.

Menurut Megawati, PDI-P kini tidak hanya menghasilkan politisi, tetapi juga kepala daerah yang diacungi jempol warganya. Megawati menyebut nama Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Tentang keberhasilan ini, Megawati mengatakan, ”Saya hanya memberi jalan, mengajarkan, memberi ruang, tetapi hasilnya ada pada kalian (mereka).”

Calon presiden

Hasil survei terakhir Litbang Kompas pada Desember 2013 menunjukkan, popularitas PDI-P untuk dipilih sebesar 21,8 persen. PDI-P memuncaki survei tersebut. Megawati pun makin kencang menyerukan agar pemilihan umum berjalan dengan jujur dan adil.

Berulang-ulang Megawati mengisahkan kemelut Pilkada Bali di depan umum. Mahkamah Konstitusi, yang lahir pada eranya, seolah ”membokong” dirinya dengan putusan MK yang memperbolehkan pencoblosan perwakilan (noken). Fokus Megawati bukan soal menang atau kalah di Pilkada Bali, melainkan dia khawatir pola serupa terjadi di Pemilu Legislatif dan Presiden 2014.

”Sampai hari ini, saya masih berjuang,” kata Megawati.

Pada Jumat (10/1), dalam upacara bendera di Kantor DPP PDI-P untuk memperingati hari jadi ke-41 PDI-P, dibacakan Perintah Harian Ketua Umum DPP PDI-P. Ada empat butir perintah harian, yang salah satunya mengingatkan semua elemen partai mengawal proses pemilu legislatif dan presiden.

Dalam perintah harian itu, juga dikemukakan agar para kader partai ini bergotong royong dalam berkonsolidasi menghadapi pemilihan umum mendatang.

Megawati juga menjelaskan, kongres dalam struktur organisasi merupakan institusi tertinggi partai. Dalam kongres, menurut Megawati, kader datang bukan sekadar peserta, melainkan utusan yang mendapatkan mandat dari struktur PDI-P di tingkat bawah.

Menurut Megawati, Kongres III PDI-P dan Rapat Kerja Nasional PDI-P di Ancol, Jakarta, telah memberikan hak prerogatif kepada ketua umum partai ini untuk menentukan calon presidennya.

Suka atau tidak, keputusan ada di tangan Megawati Soekarnoputri seorang.

Ketika orang mengatakan tahun 2014 adalah ”tahun politik”, Megawati membahasakannya sebagai ”tahun penentuan”. Kita pun menantikan siapa yang ditentukan oleh Megawati menjadi capres.

(HARYO DAMARDONO/C WAHYU HARYO)
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary ,
KOMPAS.com — Jumat, 17 Januari 2014 | 09:21 WIB
 
Copyright © 2013 #01JOKOWILAGI
Powered by Blogger