BREAKING NEWS
.

POLITIK

OPINI & ANALISA

AGENDA & RELAWAN

Friday, January 17, 2014

Menanti Buah Pilihan PDI-P



KOMPAS.com - KEPUTUSAN Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan untuk memilih menjadi partai oposisi dalam kongres II pada tahun 2005 dan kongres III pada tahun 2010 di Bali sekarang mulai terasa buahnya. Soliditas internal terjaga dan popularitas meningkat.
PDI-P merupakan kelanjutan dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang dideklarasikan 10 Januari 1973. PDI merupakan hasil fusi atau penggabungan lima partai peserta pemilu tahun 1971.
Kelima partai itu adalah Partai Nasional Indonesia (PNI), Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), Partai Murba, Partai Kristen Indonesia (Parkindo), dan Partai Katolik.

Konflik berkali-kali terjadi di partai berlambang kepala banteng ini. Menurut Cornelis Lay (2010), konflik internal di PDI selama Orde Baru, jadi strategi perlawanan terhadap penguasa. Kisruh politik yang sering terjadi di internal PDI memupus obsesi politik pemerintah saat itu pada keteraturan dan harmoni.
Pemerintahan Orde Baru makin gusar ketika di tahun 1987 Megawati Soekarnoputri terjun ke politik, menjadi anggota PDI. Kehadiran putri Soekarno itu berpengaruh signifikan pada hasil Pemilu 1987, PDI mendapat tambahan 16 kursi, dari 24 kursi di DPR menjadi 40 kursi. Di Pemilu 1992, PDI mendapat lagi tambahan 16 kursi, sehingga menjadi 56 kursi di DPR.
Dalam proses politik yang diwarnai konflik, Megawati akhirnya terpilih menjadi ketua umum DPP PDI periode 1993-1998.
Sejarah mencatat, berbagai tekanan dan intervensi terus diterima PDI. Puncaknya, terjadi dalam kasus penyerbuan kantor DPP PDI pada 27 Juli 1996.
Wajah baru Pada 1 Februari 1999 PDI pro Mega lalu membentuk partai baru kelanjutan dari PDI, dengan nama PDI Perjuangan.
Pada Pemilu 1999, PDI-P berhasil mendulang 33,7 persen suara dan menempatkannya di posisi teratas. Namun, di Pemilu 2004 suara PDI-P turun ke 18,53 persen di bawah Partai Golkar yang saat itu meraih suara terbanyak. Pada Pemilu 2009 posisi PDI-P melorot ke urutan tiga dengan 14,03 persen suara, di bawah Partai Golkar dan Partai Demokrat yang lalu jadi pemenang pemilu. Keterlibatan sejumlah kader PDI-P dalam kasus korupsi, jadi salah satu faktor yang menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap partai itu.
Namun, sejumlah survei belakangan ini menunjukkan naiknya elektabilitas PDI-P. Hasil survei Litbang Kompas dalam setahun terakhir menunjukkan tingkat keterpilihan publik terhadap PDI-P di atas 20 persen.
Latar belakang pemilih PDI-P memang belum banyak berubah. Sebagian besar masih berasal dari kelompok masyarakat ekonomi bawah dan berpendidikan rendah. Namun, karakter psikopolitiknya mulai berimbang antara yang konservatif, tetap menginginkan aturan nilai yang ada serta yang menginginkan perubahan atau progresif.
PDI-P memanfaatkan posisi sebagai oposisi untuk melakukan konsolidasi. Selain pembenahan organisasi dan pemantapan ideologi, mereka juga aktif membangun jaringan. Kini, buah berbagai langkah itu mulai didapat, antara lain dengan kemenangan Joko Widodo (Jokowi) di Pilkada DKI Jakarta 2012.
Munculnya Jokowi telah mencuri perhatian publik. Namun, masih banyak tugas lain yang menunggu PDI-P, seperti mengapa menurut Badan Pusat Statistik jumlah orang miskin bertambah 480.000 orang selama Maret- September 2013? (Yohanes Krisnawan/Litbang ”Kompas”)

Editor : Inggried Dwi Wedhaswary , Jumat, 17 Januari 2014 | 09:07 WIB
 
Copyright © 2013 #01JOKOWILAGI
Powered by Blogger