BREAKING NEWS
.

POLITIK

OPINI & ANALISA

AGENDA & RELAWAN

Wednesday, January 22, 2014

Pak Amien Rais Kenapa Jokowi Harus Minta Maaf?


Saya sempat menulis bahwa ada ‘politisi karbitan’ di republik ini. Mereka-mereka yang memperalat bencana, dan ‘rasa peduli’ mereka terhadap para korban bencana. Bahwa para politisi yang katanya pintar ini, ternyata hanya memanfaatkan kepintaran mereka untuk mencari peluang apa saja demi menaikkan pamor mereka, serta selalu suka mencari kambing hitam, apalagi mereka-mereka yang memanfaatkan bencana dan mengatasnamakan diri peduli terhadap korban bencana. Itu omong kosong belaka. Kenapa? Ya iayalah, kenapa tidak segera turun tangan saja membantu korban banjir atau turun gunung mengatasai banjir, ketimbang mencari-cari siapa yang salah. Menunjuk-nunjuk hidung, dan berkomentar sana-sini tebar pesona. Baca penggalannya di sini: Banjir besar, siapa yang salah?

Barusan tadi saya baca di Kompas.com, bahwa politisi gaek Amien Rais meminta supaya Jokowi minta maaf karena Jakarta masih banjir. Walaupun disampaikan secara halus dan terselubung, namun ujung-ujungnya kalimat ini sebetulnya adalah terjemahan bebas, atau dapat diartikan sebagai “Banjir di Jakarta adalah kesalahan Jokowi”. Sebabmya, jikalau Jokowi tidak salah, terus kenapa ia harus minta maaf.
Amien Rais mungkin lupa, kalau Jakarta itu selalu saja banjir tiap tahun, dan gubernur yang sementara menjabat harus meminta maaf, bila harus ikut maunya dia, jadi ada 30 tahun lebih dimana setiap tahunnya sang gubernur harus minta maaf, termasuk si Foke yang sudah memimpin selama bertahun-tahun, dan gubernur-gubernur sebelumnya.
Lantas, lihat saja komentar Amien Rais yang mengatakan bahwa permintaan maaf adalah tindakan paling simpatik yang dapat Jokowi lakukan saat ini. Saya hanya bisa tertawa geli, minta maaf bukanlah solusi, dan bukan hal yang paling simpatik saat ini. Tindakan yang simpatik adalah turun terjun ke lapangan, dan berusaha melakukan sesuatu. Itu.
Kalau pun Jokowi harus minta maaf, apa salah beliau? Bukankah Amien Rais sendiri yang bilang, “Ya karena banjir yang terjadi merupakan di luar kemampuan manusia.” Nah, kalau begitu jangan menggiring persepsi orang untuk menerjemahkannya menjadi, “Banjir ini adalah kesalahan Jokowi”. Justru Jokowi dan Ahok sudah melakukan tindakan yang simpatik, melakukan apa yang dapat mereka lakukan, bahkan turun terjun langsung ke lapangan, hal mana mungkin termasuk ‘paling pantang’ dilakukan para penguasa atau pemimpin lain.
Amien Rais pun mengatakan bahwa, “Mau dipasang Jokowi atau Joko siapa pun kalau sudah banjir seperti ini tentu tidak bisa diatasi. Dikurangin bisa,” katanya seusai bertemu Pengurus Daerah Muhammadiyah Kota Semarang, di halaman Kampus Unimus, Minggu (19/1/2014) kemarin. (Kompas.com hari ini). Kalau begitu, tidak perlu ada yang dipersalahkan, jangan-jangan Tuhan nanti juga dipersalahkan karena mengirim hujan begitu banyak ke muka bumi ini.
Di FB Kang Pepih menulis, kalau Amien Rais meminta Jokowi untuk meminta maaf, maka ia menunggu hal yang sama disampaikan Amien Rais kepada Foke. Ya, kalau perlu disampaikan juga ke semua gubernur Jakarta sebelumnya. Saya bahkan punya pertanyaan lebih gamblang, kalau Jakarta banjir itu salah Jokowi, kalau banjir di seluruh Indonesia itu salah siapa? Apakah salah Jokowi juga? Atau salah Presiden Indonesia?
Jokowi bukan gagal menanggulangi banjir. Ia masih belum selesai membereskan Jakarta ini, karena waktu memimpin Jakarta belumlah lama, maka sebaiknya ia diberikan ruang seluas-luasnya, dan didukung sepenuh-penuhnya. Bukan sebaliknya. Contoh sederhana lainnya, bagaimana banjir mau selesai kalau anggaran dan dana yang diperuntukkan untuk itu saja masih terlihat ‘dihambat-hambat’ DPRD?
Jokowi sendiri mengakui bahwa saat ini anggaran Rp 20 miliar untuk rekayasa cuaca masih menggunakan dana dari BNPB. Terus bagaimana dengan Dana Pemprov DKI Jakarta sendiri? Oh, ternyata lagi-lagi belum dapat dipakai oleh karena Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2014 belum disetujui DPRD. Bagaimana mengharapkan masalah tuntas, bila dana saja tidak cukup.
Tadi saya baca juga ada update status dari kawan saya, Julianto Simanjuntak. Statusnya berisi lelucon seputar banjir Jakarta. Tapi mungkin ini jawaban yang dicari banyak orang?
Percakapan seputar banjir telah terjadi…..(Hanya lelucon saja, tapi siapa tahu memang sudah seharusnya begitu….)
Banjir Jakarta, siapa salah?
Di sela-sela warga Jakarta dilanda banjir, para mantan Gubenur DKI saling mencari kambing hitam.
Sutiyoso : “Jaman saya dulu banjirnya gak separah ini lho Fok..!”
Foke : “Wah…Apalagi jaman saya Mas Yos… Gak pernah banjir sebesar dan sehebat ini…”
JOKOWI : “Sudah… sudah…nggak usah ribut, memang yang salah itu saya, kenapa saya kok TELAT JADI Gubernur DKI ya…..! Nah, sekarang saya sudah paham, saya tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Saya tidak mau telat lagi, iya saya nggak mau telat untuk jadi PRESIDEN….! (Tunggu tanggal 25 Januari nanti, siapa tahu Jokowi memang akan segera dicalonkan Bu Mega, mewakili PDIP….) —-MES—-
Banjir oh banjir….


OPINI | 20 January 2014 | 16:49
http://www.kompasiana.com/michusa
MICHEL SENDOW
 
Copyright © 2013 #01JOKOWILAGI
Powered by Blogger