BREAKING NEWS
.

POLITIK

OPINI & ANALISA

AGENDA & RELAWAN

Monday, January 27, 2014

Pekerjaan Pak Jokowi Paling Berat dalam Mengatasi Banjir

Bendera PKS di lokasi Banjir. Apakah Tokoh Parpol mau Bantuin Relokasi Warga? Foto; Ilyani


Beberapa bulan sebelum banjir seperti ini, saya pernah bertemu seseorang yang tinggal di dekat sungai Gunung Sahari. Dengan bangga si ibu bercerita bahwa rumahnya didatangi ‘orangnya Jokowi’ dan ditawar seharga 7 milyar rupiah (? saya lupa angka pastinya, tetapi dibawah 10 M). Walaupun nilai itu berlipat dibandingkan NJOP, tetapi si ibu tidak mau melepas. Katanya tetangganya yang ukuran tanahnya kurang dari dia bisa menjual tanahnya puluhan milyar.

Ya ampun, padahal si ibu tiap tahun mesti mengalami kebanjiran. Dan kita tidak tahu kebenaran harga jual tetangganya itu. Hanya, mengingat daerah itu sebenarnya sudah sangat tidak sehat (dekat bengkel, kotor), seharusnya si ibu bisa melepas saja rumah itu dan membeli rumah yang jauh lebih baik di bagian Jakarta yang lain (paling sehat dan enak itu Jakarta Selatan). Apalagi area itu bukan sumbernya mencari nafkah.
Itu baru satu keluarga. Bagaimana dengan ribuan keluarga? Ketika beberapa hari yang lalu melihat dan memberi bantuan ke korban banjir pengadegan, saya juga melihat, korban banjir adalah warga yang tinggal di bantaran sungai. Bahkan yang diseberang jalan, kontur tanahnya lebih rendah dari sungai. Ya pasti kebanjiranlah kalau debit air sungai melimpah. Begitu juga dengan di Rawajati, kp. Melayu, kp.Pulo, berada di daerah yang sangat rendah, di bantaran sungai. Tidak bisa tidak, jika normalisasi sungai dilakukan, ribuan warga ini harus direlokasi.
Inilah pekerjaan pak Jokowi yang terberat. Seharusnya pihak-pihak terkait ikut membantu pak Jokowi membujukin warga. Jangan seperti ini, pas banjir aja, semua seperti peduli. Jadi masih ada aja bendera partai yang mejeng di lokasi ini. Satu-satunya bendera yang saya lihat ya bendera PKS. Padahal warga yang tidak kebanjiran, pada dikasih tugas ma RT/RW masing-masing untuk memasak setiap harinya. Ada yang 10, 20 bungkus, tetapi tidak perlu mengukir bendera sebagai yang berjasa membantu korban banjir.
Dan lagi, bantuan yang sesungguhnya itu ya ketika merelokasi warga ini. Saya kebayang tugas berat pak Jokowi ini. Berhadapan dengan ribuan orang yang maunya sendiri. Apakah para tokoh, pimpinan parpol mau bantuin bujukin demi kebaikan warga sendiri (bebas dari banjir) dan warga DKI umumnya? Kerugian akibat banjir Jakarta bernilai Rp 20 Milyar per hari (sumber: Kompas cetak).
Dalam merelokasi warga ini, tentu yang pertama adalah membangun rusun untuk warga. Beberapa rusun sudah ada, seperti di Jatinegara, yang sekarang banjir parah. Tetapi warganya gak mau pindah. Balik lagi ke lokasi awal hanya karena katanya kejauhan dari lokasi kerja. Ya ampun.
Kalau di Kalibata, kebetulan di sebelah kali Ciliwung, ada apartemen bersubsidi puluhan tower, dan banyakan kosong atau disewakan kepada warga asing. Dulu idealnya apartemen bersubsidi ini adalah untuk warga menengah biar bisa tinggal di tengah kota. Tetapi karena penjualan tidak terkontrol, satu orang bisa membeli banyak apartemen untuk investasi dan kemudian disewakan atau dijual kembali dengan harga mahal. Bisa gak, 2 tower dibeli aja oleh Pemprov untuk relokasi warga?
Apalagi kalau banjir sudah surut, ya ampun, kesusahan selama banjir bisa dilupakan. Sulit sekali merelokasi. Negosiasinya alot banget. Istilahnya bukan ganti rugi, tapi ganti untung, cuman untungnya gak kira-kira. Itu baru sungai, belum yang tinggal di bantaran waduk. Semoga sandaran legal untuk melakukan ini cukup kuat, sehingga Pemprov DKI juga bisa tegas, tetapi juga santun, negosiasi yang terbaik dalam merelokasi warga ini nantinya.
Ya sudah, gitu aja. Salam Kompasiana!

OPINI | 27 January 2014 | 10:00
http://www.kompasiana.com/Ilyani  ["You're the soul of the soul of the Universe..and your name is Love....- Rumi -]
 
Copyright © 2013 JokoWidodo.ORG
Powered by Blogger