BREAKING NEWS
.

POLITIK

OPINI & ANALISA

AGENDA & RELAWAN

Monday, February 10, 2014

Jokowi Sang Fenomenal. Siapkah Jokowi Jadi Presiden?

Deklarasi Rejo Semut Ireng Dukung Jokowi Capres RI 2014, di arena Car Free Day Solo, Minggu (9/2/2014). Foto by Eddy Asa


Berdasarkan hasil surveli Lembaga Survei Nasional (LSN) menyebut popularitas Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo semakin menurun. Beberapa penyebabnya yaitu permasalahan banjir dan kemacetan yang belum teratasi.
Berdasarkan temuan LSN, secara umum persentase publik yang mengaku puas dan kurang puas terhadap kinerja Jokowi, panggilan akrabnya, masih seimbang. Namun, publik yang mengaku puas menurun yaitu 47,5 %, angka ini turun dari sebelumnya sebanyak 68,3 %. Sementara itu,  71 %  warga DKI  tidak menghendaki Jokowi  nyapres.

LSN juga menyebutkan Megawati Soekarnoputri lebih diharapkan menjadi calon presiden (Capres) ketimbang  Jokowi. Dalam survei tersebut, Mega mengalahkan Jokowi sebagai capres dalam pandangan warga ibukota sebanyak 33,8 persen menilai ketua umum PDIP perjuangan itu masih pantas untuk maju lagi dalam pemilihan presiden (pilpres) 2014.
Senada dengan hasil survey LSN, peneliti dari LSI menyatakan, tanpa mencalonkan Jokowi sebagai calon presiden (capres), Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri, diprediksi tetap bakal memenangkan pertarungan perebutan kursi RI 1 pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014.

Dari pernyataan diatas, bahwa sesungguhnya kalkulasi politik tidak ada yang pasti, dinamika politik setiap saat akan mengalami perubahan.  Dilihat dari tingkat kepercayaan terhadap sebuah hasil survey politik, kepercayaan itu akan tumbuh manakala  lembaga survey tersebut dipercaya sebagai lembaga yang independent.
Pertanyaannya, adakah lembaga survey politik tersebut adalah lembaga yang independent ?. Tidak pula digeneralisasi, tapi kita melihat dari prilaku politik saat ini. Indikatornya dapat dilihat dari prilaku parpol dan politisi itu sendiri.
Parpol sudah berubah fungsinya menjadi kendaraan politik seperti layaknya mencari penumpang.  Para politisi yang mememakai kendaraan parpol berjuang dan bersaing dengan segala cara. Hasil perjuangan para penumpang yang ikut dalam kontes legislatif  dipakai oleh parpol untuk melakukan bargaining politik.

Menunnggu hasil pileg, mau tidak mau, sebagai sebuah kenyataan politik,  kekuatan partai dalam baragaining politik harus menunggu hasil penguasaan kursi di parlemen.   Jabatan presiden adalah porsi ketua umum, maka ketika mendekati pileg seperti saat ini, orientasi lembaga survey pun ikut bergeser mengarahkan Megawati sebagai figur yang diunggulkan setelah sebelumnya Jokowi menjadi unggulan.
Perlahan tapi pasti Jokowi ditenggelamkan, banjir dan macet dijadikan handicap Jokowi. Faktor prilaku politik seperti saat ini belum memnungkinkan  rakyat bebas memilih presiden dalam artian yang sesungguhnya. Sebab, parpol memiliki hak prerogatif untuk menentukan calon presiden yang dapat maju bersaing dalam kontes pemilihan secara langsung.

Fenomena Jokowi adalah fenomena media yang dikembangkan karena kedekatan hubungan kerja namun tidak dapat menggoyang hak prerogatif parpol yang memiliki kekuasaan menentukan dalam pencapresan. Dan hal ini semakin terlihat belakangan ini, Megawati tak rela kedudukannya dikendalikan oleh media ataupun lembaga survey.  Hasil surveypun mengikuti, Megawati diprediksi akan memenangkan pilpres tanpa Jokowi. Alasanya juga ciptaan lembaga survey, 71 % warga DKI tak ingin Jokowi nyapres walaupun yang puas hanya 47,5 %. Lain kata rakyat, lain kata lembaga survey, capresnya Megawati, bukan Jokowi lagi.



http://www.kompasiana.com/nikensatyawati

Niken Satyawati [Ibu 4 anak, tinggal di Solo. Memimpikan SEMUA anak Indonesia mendapat pendidikan layak: bisa sekolah dan kuliah dengan murah. Berharap semua warga Indonesia mendapat penghidupan layak: jaminan sosial dan kesehatan. TANPA KECUALI. Karena begitulah amanat Undang Undang Dasar 1945.]

REP | 09 February 2014 | 22:51

 
Copyright © 2013 JokoWidodo.ORG
Powered by Blogger