BREAKING NEWS
.

POLITIK

OPINI & ANALISA

AGENDA & RELAWAN

Tuesday, February 11, 2014

Survei LCS: Blusukan Efektif Naikkan Elektabilitas, Banjir Belum Mampu Jegal Jokowi

Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo

JAKARTA - Hasil survei dari lembaga LCS menunjukkan pola sosialisasi dan kampanye lewat cara beriklan atau mendapat banyak pemberitaan positif dari media massa tak lagi efektif meningkatkan tingkat  kepopuleran dan keterpilihan calon legislator maupun calon presiden.
Direktur Eksekutif LCS Survey, Tomi Syavitra, mengatakan, dari hasil survei terbaru lembaga yang ia pimpin memperlihatkan, pola kampanye yang mengena saat ini adalah lewat cara kampanye model blusukan dengan menyapa warga secara langsung.
"Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh LCS Survey(www.lcssurvey.com), cara partai politik maupun para capres mendapatkan elektabillitasnya bisa dilakukan dengan 3 hal utama, yaitu, iklan di media massa (25,8%), pemberitaan (35,9%) dan kunjungan langsung atau yang sekarang populer dengan istilah blusukan. Responden yang menyukai disapa politisi dengan cara ini ada (38,3%). Ini adalah komunikasi yang paling diinginkan oleh pemilih," kata Tomi dalam rilis yang diterima Tribunnews.com, Selasa (11/2/2014)
Selain itu, hasil survei juga menunjukkan tingkat ekspektasi masyarakat pada Caleg dan Capres. Tomi menyebut, para calon pemilih mengharapkan para Caleg dan Capres bisa mewujudkan tuntutan mereka seperti perbaikan infrastruktur jalan (18,7%,) ketersediaan lapangan pekerjaan (13,7%), dan pelayanan kesehatan murah yang memadai (11,5%).
Tomi menambahkan, survei juga menunjukkan perolehan suara sejumlah Parpol peserta Pemilu berdasarkan pola komunikasi yang sudah dilakukan partai politik saat ini.
Hasilnya, PDI Perjuangan menduduki posisi teratas dengan 20,9%. Pola komunikasi yang dilakukan Partai Gerindra, kata Tomi berdasar hasil survei, membuat partai tersebut meraup 19,2%, disusul Partai Golkar 16,5%, Partai Hanura 10,0%, Partai Demokrat 9,6%, PKS 9,2%, PAN 3,9%, dan Partai Nasdem 3,7%.  Sedangkan partai lain seperti PKB hanya 3,1%, PPP 2,2%, PBB 1,1% dan PKPI 0,6%.
Adapun untuk calon presiden, kata Tomi, walaupun isu penanganan banjir awal tahun ini di Jakarta cukup membuat nama Gubernur DKI Joko Widodo dianggap belum pantas untuk bersaing di pilpres 2014, ternyata perolehan hasil surveinya jauh melampaui calon presiden lainnya.
"Jokowi memimpin dengan perolehan sebesar 41,0%, selanjutnya Prabowo sebesar 17,2%," ujarnya.
Kemudian disusul Wiranto mendapatkan 10,8%, Aburizal Bakrie dengan angka 8,4%, disusul perolehan Dahlan Iskan sebanyak 5,9% dan Jusuf Kalla sebesar 5,5%. Sedangkan nama-nama lain seperti Mahfud MD, Hatta Rajasa, Rhoma Irama, Gita Wiryawan, Pramono Edhie berada di bawah 5,0%.
Survei disebutkan dilakukan dari 1 Januari hingga 30 Januari 2014 di 34 Provinsi di seluruh Indonesia, menggunakan metodologi multistage random sampling, dengan melibatkan 2.400 orang responden yang memiliki hak pilih di Pemilu 2014, dengan margin of error 1,88% dan tingkat kepercayaan 95%.
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara via telepon dengan menggunakan kuesioner yang diinstal di tablet dan smartphone surveyor. Survei dilakukan dengan biaya sendiri.TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Hasil survei dari lembaga LCS menunjukkan pola sosialisasi dan kampanye lewat cara beriklan atau mendapat banyak pemberitaan positif dari media massa tak lagi efektif meningkatkan tingkat  kepopuleran dan keterpilihan calon legislator maupun calon presiden.
Direktur Eksekutif LCS SurveyTomi Syavitra, mengatakan, dari hasil survei terbaru lembaga yang ia pimpin memperlihatkan, pola kampanye yang mengena saat ini adalah lewat cara kampanye model blusukan dengan menyapa warga secara langsung.
"Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh LCS Survey(www.lcssurvey.com), cara partai politik maupun para capres mendapatkan elektabillitasnya bisa dilakukan dengan 3 hal utama, yaitu, iklan di media massa (25,8%), pemberitaan (35,9%) dan kunjungan langsung atau yang sekarang populer dengan istilah blusukan. Responden yang menyukai disapa politisi dengan cara ini ada (38,3%). Ini adalah komunikasi yang paling diinginkan oleh pemilih," kata Tomi dalam rilis yang diterima Tribunnews.com, Selasa (11/2/2014)
Selain itu, hasil survei juga menunjukkan tingkat ekspektasi masyarakat pada Caleg dan Capres. Tomi menyebut, para calon pemilih mengharapkan para Caleg dan Capres bisa mewujudkan tuntutan mereka seperti perbaikan infrastruktur jalan (18,7%,) ketersediaan lapangan pekerjaan (13,7%), dan pelayanan kesehatan murah yang memadai (11,5%).
Tomi menambahkan, survei juga menunjukkan perolehan suara sejumlah Parpol peserta Pemilu berdasarkan pola komunikasi yang sudah dilakukan partai politik saat ini.
Hasilnya, PDI Perjuangan menduduki posisi teratas dengan 20,9%. Pola komunikasi yang dilakukan Partai Gerindra, kata Tomi berdasar hasil survei, membuat partai tersebut meraup 19,2%, disusul Partai Golkar 16,5%, Partai Hanura 10,0%, Partai Demokrat 9,6%, PKS 9,2%, PAN 3,9%, dan Partai Nasdem 3,7%.  Sedangkan partai lain seperti PKB hanya 3,1%, PPP 2,2%, PBB 1,1% dan PKPI 0,6%.
Adapun untuk calon presiden, kata Tomi, walaupun isu penanganan banjir awal tahun ini di Jakarta cukup membuat nama Gubernur DKI Joko Widodo dianggap belum pantas untuk bersaing di pilpres 2014, ternyata perolehan hasil surveinya jauh melampaui calon presiden lainnya.
"Jokowi memimpin dengan perolehan sebesar 41,0%, selanjutnya Prabowo sebesar 17,2%," ujarnya.
Kemudian disusul Wiranto mendapatkan 10,8%, Aburizal Bakrie dengan angka 8,4%, disusul perolehan Dahlan Iskan sebanyak 5,9% dan Jusuf Kalla sebesar 5,5%. Sedangkan nama-nama lain seperti Mahfud MD, Hatta Rajasa, Rhoma Irama, Gita Wiryawan, Pramono Edhie berada di bawah 5,0%.
Survei disebutkan dilakukan dari 1 Januari hingga 30 Januari 2014 di 34 Provinsi di seluruh Indonesia, menggunakan metodologi multistage random sampling, dengan melibatkan 2.400 orang responden yang memiliki hak pilih di Pemilu 2014, dengan margin of error 1,88% dan tingkat kepercayaan 95%.
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara via telepon dengan menggunakan kuesioner yang diinstal di tablet dan smartphone surveyor. Survei dilakukan dengan biaya sendiri.

TRIBUNNEWS.COM, Selasa, 11 Februari 2014 21:24 WIB

Penulis: Hasiolan Eko P Gultom
 
Copyright © 2013 JokoWidodo.ORG
Powered by Blogger