BREAKING NEWS
.

POLITIK

OPINI & ANALISA

AGENDA & RELAWAN

Wednesday, March 12, 2014

Deklarasi Capres Jokowi, Klimaks atau Antiklimaks?




Sampai saat ini penulis belum menemukan informasi tentang pengumuman resmi dari PDIP maupun dari Ketum PDIP Megawati tentang kepastian jadwal Deklarasi Capres Jokowi. Informasi yang muncul ke media lewat para petinggi PDIP memberi bocoran bahwa rencana deklarasi itu pada hari terakhir masa kampanye Pemilu atau beberapa hari menjelang hari pencoblosan tanggal 9 April 2014.

Berdasarkan asumsi bahwa pernyataan para petinggi PDIP itu benar bahwa Jokowi akan mendeklarasikan sebagai capres menjelang Pemilu maka paling tidak ada 3 skenario yang akan terjadi, yaitu: tiga skenario klimaks dan tiga skenario anti klimaks. Pertama, untuk skenario klimaks nya bahwa deklarasi Capres Jokowi sesuai dengan harapan PDIP dan gerakan pendukung jokowi akan mendongkrak secara signifikan perolehan suara PDIP dalam Pemilu tanggal 9 April 2014. Karena memang Deklarasi ini sudah lama ditunggu-tunggu. Namun skenario antiklimaks nya juga mulai mengintip karena para calon pendukung Jokowi sudah kehilangan kesabaran atas sikap ragu-ragu dari Ketum PDIP Megawati untuk segera mencalonkan Jokowi sebagai Capres PDIP.

Kedua, untuk skenario klimaks nya sampai survai terakhir elektabilitas Jokowi masih pada posisi teratas dalam persaingan Capres, jauh meninggalkan para pesaingnya. Dalam survei yang dilakukan 7-10 Februari 2014, Lembaga survei Pusat Data Bersatu (PDB) mendudukkan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo alias Jokowi sebagai calon presiden dengan elektabilitas paling tinggi, yaitu mencapai angka 31,8%. Baru menyusul peringkat kedua elektabilitas kandidat capres adalah Prabowo Subianto sebesar 12,8%

Sementara skenario antiklimaks yang kedua, bahwa elektabilitas Jokowi ini sudah mentoks pada angka 30-an%. Bahkan kalau kita mengutip survei PDB enam bulan sebelumnya (Agustus 2013) ada trend penurunan dari elektabilitas Jokowi yang semula sebesar 36% menjadi 31,8%. Sebaliknya untuk elektabilitas Prabowo Subianto selama 6 bulan terakhir menunjukan trend meningkat secara signifikan signifikan dalam enam bulan terakhir dari 6,6% menjadi 12,8%.

Ketiga, untuk skenario klimaks nya deklarasi Capres Jokowi akan lebih mempersatukan dua kubu di dalam PDIP, yaitu: kubu Projo (Pro Jokowi) dan kubu Promeg (Pro Mega), yang selama ini terjadi tarik-menarik untuk mencalonkan Jokowi atau Megawati sebagai Capres PDIP. Keputusan deklarasi Capres Jokowi meskipun membawa kekecewaan dari salah satu kubu, namun bagaimanapun keputusan ini lebih membawa kepastian, daripada terombang-ambing dalam ketidakpastian. 

Sementara dalam skenario antiklimaks yang ketiga, bahwa molornya deklarasi Capres Jokowi menunjukan betapa kerasnya tarik-menarik diantara dua kubu tersebut, karena bagaimanapun deklarasi Capres Jokowi ini mempuyai konsekuensi yang besar bagi masa depan partai moncong putih ini. Nanti andaikata Jokowi bisa menjadi Presiden, akan ada dua matahari kembar di dalam PDIP, yaitu: Jokowi dan Megawati, karena tentu Jokowi tidak akan hanya menjadi presiden boneka dari Megawati. Padahal tradisi sebagai pemersatu yang ada di dalam PDIP selama ini, bahwa matahari tunggal itu hanya dari trah Soekarno. Pertanyaan selanjutnya, sudah benar-benar rela dan siapkah para anggota partai moncong putih ini dipimpin oleh orang diluar trah Soekarno?

Sumber: Bisnis.com dan Merdeka.com
FB: Arofiq Aja
Twitter: @rofiq70
http://www.kompasiana.com/rofiq70 [Nama lengkap arofiq biasa dipanggil rofiq, kenapa di kompasiana Username URL-nya menggunakan inisial rofiq70

KOMPASIANA | OPINI | 11 March 2014 | 22:36

 
Copyright © 2013 JokoWidodo.ORG
Powered by Blogger