BREAKING NEWS
.

POLITIK

OPINI & ANALISA

AGENDA & RELAWAN

Wednesday, March 12, 2014

Duet Sipil-Militer Jadi Pertimbangan




JAKARTA, Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal (Purn) Ryamizard Ryacudu berpendapat, jika calon presiden pada Pemilu 2014 dari kalangan sipil, sebaiknya didampingi calon wakil presiden dari kalangan militer. Demikian sebaliknya.
Demikian disampaikan Ryamizard, Selasa (11/3), di sebuah restoran di Jalan Sabang, Jakarta, saat ditanya kemungkinan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya Prabowo Subianto maju sebagai calon presiden pada Pemilu 2014.

Dalam acara itu, Ryamizard juga mengatakan, sebaiknya purnawirawan TNI AD yang maju sebagai calon di pemilihan presiden lebih banyak bekerja terkait dengan masyarakat. Namun, ketika hampir empat puluh wartawan yang datang di acara tersebut bertanya tentang kemungkinan dia maju menjadi calon presiden atau calon wakil presiden, Ryamizard menolak untuk banyak berbicara tentang politik. ”Nanti-nantilah kalau kita bertemu lagi,” katanya.
Dalam acara itu, Ryamizard mengaku masih kerap bertemu dengan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Pertemuan terakhir pada tahun ini terjadi saat Ryamizard pulang dari berobat ke Jerman. Dalam pertemuan tersebut, menurut Ryamizard, mereka hanya membicarakan hal-hal pribadi. ”Tidak ada soal politik,” katanya.
Ryamizard juga menyampaikan kriterianya tentang pemimpin. Selain visioner, menurut dia, pemimpin juga harus berani dan bisa tegas mengatasi beragam persoalan bangsa, seperti separatisme. ”Atasi geng motor aja susah. Kalau saya, saya pites,” katanya.
Persatuan
Di sela-sela pembinaan pengurus Dewan Pimpinan Wilayah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Serang, Banten, kemarin, Menteri Agama Suryadharma Ali meminta lembaga-lembaga Islam, seperti LDII, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan Mathla’ul Anwar, menjaga persatuan.
Suryadharma juga meminta umat Islam melakukan koreksi diri. Umat Islam jangan hanya besar dari jumlahnya, tetapi tidak berkualitas. ”Kita harus besar jumlah, juga kualitasnya. Ayo bangun kebersamaan dan persatuan. Kalau sudah, kita bisa jadi agen pembangunan,” ujarnya.
Umat Islam yang adalah mayoritas penduduk Indonesia, menurut Suryadharma, punya kelemahan, yaitu terpecah-pecah. Akibatnya, umat Islam hanya dipandang dari jumlahnya.
”Ibaratnya, umat Islam gampang digosok-gosok,” ujar Suryadharma. Jika tidak cocok dengan organisasinya, sebagian umat Islam membentuk kelompok baru. Kondisi itu juga terjadi dengan partai-partai politik baru yang bermunculan di era reformasi.
”Tidak cocok dengan pimpinan organisasi masyarakat, lalu bikin yang baru,” kata Suryadharma. Padahal, imbauan untuk bersatu sering disampaikan saat umat Islam menggelar berbagai acara.
”Sekarang, kita harus membuka mata, telinga, dan hati,” kata Suryadharma. (EDN/BAY)

Editor : Sandro Gatra , Rabu, 12 Maret 2014 | 09:32 WIB
 
Copyright © 2013 JokoWidodo.ORG
Powered by Blogger