BREAKING NEWS
.

POLITIK

OPINI & ANALISA

AGENDA & RELAWAN

Saturday, March 1, 2014

Kaum Muda Harus Melek Politik

Photo: Pak Faozan berpose dgn angkot jurusan Bumiayu Bantarkawung
Faozan Amar: Caleg DPR dari Dapil Jawa Tengah IX [Tegal, Slawi dan Brebes]




Ingar bingar politik di negeri ini rupanya masih belum mampu menjamah potensi generasi muda Indonesia.

Kaum muda umumnya dilibatkan ketika masa kampanye pemilukada datang. Untuk pendidikan dan pembinaan, partai politik rupanya belum bisa melakukannya secara maksimal.

“Partai-partai politik yang ada sekarang ini kebanyakan masih belum melakukan pencerdasan kepada anak muda. Mereka (anak-anak muda) hanya dijadikan objek menjelang adanya pemilu atau pemilukada saja,” kata Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Muhammad Ilyas.


Padahal, ia menyebut saat ini ada sekitar 60 juta anak muda yang bisa memberikan suaranya pada setiap pemilu. Dengan jumlah yang besar tersebut, Ilyas mengatakan, di tangan anak mudalah kelanjutan demokrasi di negeri ini bisa tetap berjalan.

“Saya kira mereka (generasi muda) harus dilibatkan dalam bentuk partisipasi aktif karena masa depan bangsa ini sangat ditentukan lewat politik. Kalau tidak melek politik, tentunya bahaya juga. Nah inilah yang menjadi peran dan tugas partai,” ujarnya.

Upaya untuk melibatkan generasi muda agar melek politik itu, kata Ilyas, bisa dilakukan lewat kajian seperti diskusi dan seminar. Selain itu, kata dia, partai dapat pula melakukan pembinaan dalam bentuk pelatihan kepada kaum muda agar sadar politik. Namun, cara yang dipilih harus mengikuti gaya kaum muda masa kini.

Pendidikan politik itu, kata Ilyas, dapat pula dilakukan secara aktif lewat media sosial. Ia kemudian menyebut bagaimana partai-partai politik harusnya bisa memaksimalkan ruang yang ada di laman Facebook, Twitter, hingga SMS, dan BBM Broadcast.  “Saya kira partisipasi aktif ini bisa dilakukan melalui media sosial.''

Kondisi yang terjadi sekarang ini, kata Ilyas, tidak lepas pula dari peran pemerintah. Pemerintah, lanjutnya, masih belum memiliki grand design untuk melakukan pembinaan kepada kaum muda agar sadar politik yang santun.

“Pemerintahnya konyol. Kementerian Pemuda dan Olahraga masih terjebak pada urusan Hambalang, begitu juga dengan Kementerian Dalam Negeri yang tak becus dalam mengurus e-KTP. Akhirnya, pendidikan politik buat kaum muda menjadi tak terpikirkan oleh mereka.”

Ilyas menggambarkan pemerintah dan partai politik baru menempatkan kaum muda sebagai sebuah etalase setiap kali pemilukada dan pilpres mau datang. Langkah sejenis juga dilakukan dengan memboyong para artis terlibat di partai politik. “Yang ada mereka itu hanya dijadikan objek saja, bukan untuk dicerdaskan,” ujarnya.

Namun demikian, kondisi yang terjadi sekarang tak lepas pula dari kondisi kaum muda yang cenderung apatis. Ilyas menyebut anak-anak muda masa kini sekarang telah terjebak pada pragmatisme.

Sebagai seorang mahasiswa, kata dia, mereka hanya ditanamkan cara berpikir bagaimana lulus cepat dan segera memperoleh pekerjaan. “Ini menyebabkan adanya sikap kurang peduli terhadap lingkungan sosial. Ini sangat berbahaya,” katanya.
 Ence Surahman, aktivis mahasiswa Universitas Diponegoro menilai, pendidikan politik yang dilakukan parpol itu masih sebatas iklan-iklan saja.

“Kalau pengaderan di tingkat mahasiswa sepertinya masih belum dilakukan. Partai itu hanya mendekati kaum muda itu pada masa-masa pemilu saja.”

Ence mengakui saat ini kesadaran berpolitik mahasiswa lebih banyak dicurahkan lewat organisasi ekstra kampus. Ia pun menyebut organisasi semacam PMII, HMI, serta sejumlah organisasi kemahasiswaan lainnya.

Lantas seperti apakah partai yang ideal bagi kaum muda tersebut? Ence mengatakan, sebagai seorang Muslim, ia menginginkan partai-partai tersebut bisa menerapkan nilai-nilai keislaman.

“Bukan hanya sekadar simbol, melainkan bagaimana nilai-nilai tersebut tergambar. Secara garis besar, partai-partai Islam yang ada sekarang ini sudah ada yang memperlihatkannya,” kata mantan ketua Lembaga Dakwah Kampus Undip ini.

Pendidikan politik kepada generasi muda menjadi sebuah keharusan. Diperkirakan pada pemilihan presiden pada tahun depan akan ada 50 juta jumlah pemilih pemula dari kaum muda.

“Kalau sebuah partai bisa meraih seluruh suara pemilih pemula, tentunya ini suara yang akan sangat signifikan,” kata Faozan Amar, Ketua PP Baitul Muslimin Indonesia.

Baitul Muslimin Indonesia merupakan salah satu sayap dari sebuah parpol kontestan Pemilu 2014. Faozan mengatakan, para pemilih pemula ini memiliki idealisme yang tinggi dibandingkan para pemilih yang sudah tua. Para pemilih pemula ini, kata dia, umumnya menginginkan masa depan Indonesia 100 tahun ke depan.

“Akhirnya, mereka juga sangat selektif dalam memilih partai. Sebaliknya, para kelompok tua. Biasanya mereka terjebak membanggakan masa lalu mereka,” kata salah satu pimpinan Pengurus Pusat Muhammadiyah itu.

Dengan jumlah suara yang besar tadi, Faozan sangat meyakini, jika sebuah partai kontestan Pemilu 2014 bisa meraih suara mereka maka akan bisa dipastikan meraih kemenangan. “Nah, di sinilah tantangan besar kepada para pengurus partai bagaimana bisa menarik pemilih pemula ini mau menggunakan hak suaranya secara cerdas. Jika ada sebuah partai mampu meraih suara dari pemilih pemula ini, saya yakin partai tersebut akan bisa menang,” paparnya.

Dari hasil riset yang dilakukan sejumlah lembaga, Faozan mengatakan, para pemilih pemula ini memiliki rentang usia dari 17-23 tahun. Lalu untuk pendidikan, kata dia, minimal kelas 3 SMA hingga perguruan tinggi.

Sedangkan, sebagian besarnya adalah pekerja di sektor informal. “Dari sini partai tentunya harus bisa membuat program-program yang mampu membuat para pemilih muda itu tertarik kepada mereka.”

Walau partai masih belum sepenuhnya melakukan pendidikan politik, namun Faozan melihat mesin partai itu sebenarnya sudah berupaya memberikan tempat kepada kaum muda untuk terlibat aktif di partai.

Ia menyebut seperti Banteng Muda Indonesia dari PDI Perjuangan, Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) milik Golkar, ataupun PPP dengan Angkatan Pemuda Ka'bah. “Tapi, sekali lagi organisasi-organisasi tersebut harusnya bisa terlibat aktif melakukan pendidikan politiknya kepada generasi muda,” ujarnya.

Sabtu, 01 Maret 2014, 19:46 WIB
Oleh: Mohammad Akbar
Redaktur : Chairul Akhmad
 
Copyright © 2013 JokoWidodo.ORG
Powered by Blogger