BREAKING NEWS
.

POLITIK

OPINI & ANALISA

AGENDA & RELAWAN

Monday, March 17, 2014

Kenegarawanan Megawati





Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) telah meresmikan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) secara calon presiden (capres) pada pilpres Juli mendatang. Keputusan yang dituangkan dalam sebuah perintah harian Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri, Jumat (14/3) tersebut, mengakhiri penantian siapa capres yang akan diusung parpol berlambang kepala banteng itu.

Banyak kalangan meyakini, capres yang diusung PDI-P memengaruhi konstelasi suara publik pada pilpres mendatang. Keputusan pencapresan Jokowi, juga diyakini sedikit memberi kepastian mengenai arah dukungan publik pada pilpres nanti. Hal itu merujuk pada hasil jajak pendapat sejumlah lembaga survei yang menyebut Jokowi sebagai kandidat capres yang memiliki tingkat popularitas dan elektabilitas tertinggi.

Keputusan Jokowi menjadi capres, tentu tak lepas dari peran Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri. Sebab, Mega diberi mandat dan kepercayaan oleh partai untuk menentukan siapa yang diusung menjadi capres mendatang.

Keputusan itu juga mencerminkan sikap legowo dan kenegarawanan Megawati. Sebagai ketua umum parpol besar dan masih memiliki pengaruh kuat di masyarakat, Mega tentu juga berpeluang untuk maju sebagai capres, sebagaimana sejumlah ketua umum partai lainnya. Putri sulung presiden pertama RI, Soekarno itu memiliki kesempatan untuk menunjuk dirinya maju keempat kalinya dalam pemilihan presiden.

Namun, kesempatan itu tidak digunakannya. Dia legowo dengan memberi mandat kepada Jokowi untuk maju sebagai calon presiden RI. Keputusan mahapenting tersebut tentu tidak datang begitu saja, tetapi melalui proses permenungan dan pemikiran yang sangat matang.

Pencapresan Jokowi oleh PDI-P juga menunjukkan kebesaran jiwa keluarga besar Soekarno. Sebagai representasi anak biologis dan anak ideologis sang proklamator, Megawati tidak terpengaruh dengan “provokasi” sejumlah kalangan, bahwa dipilihnya Jokowi sebagai capres, akan menenggelamkan dinasti politik Soekarno.

Dalam hal ini, kita melihat betapa keputusan yang diambil oleh Megawati adalah dengan pertimbangan yang terbaik bagi partai dan tentunya bagi bangsa Indonesia. Dia tidak terpenjara oleh ego pribadi, dan tradisi politik di Tanah Air bahwa seorang ketua umum partai mutlak menjadi calon presiden.

Di sinilah kita bisa melihat Megawati telah menampilkan diri sebagai sosok negarawan. Dia memilih tetap memimpin partai dan memberi kesempatan kader terbaiknya sebagai capres. Dengan pilihan ini, diyakini nama Megawati tidak akan tenggelam. Sebaliknya, dia akan tetap disegani sebagai tokoh politik yang memberi warna dan pengaruh secara arif dan bijaksana pada perjalanan bangsa ini ke depan.
Dengan tidak menjadi capres, bukan pula berarti Megawati kehilangan peran dalam politik pemerintahan. Sebab, sebagai ketua umum partai, dia akan tetap menentukan sikap politik PDI-P di parlemen. Apalagi, jika PDI-P kembali meraih kejayaan pada pemilu legislatif (pileg) 9 April nanti, sebagaimana diprediksi banyak lembaga survei, perannya akan sangat menentukan dalam mengimbangi kebijakan pemerintah, dalam merumuskan dan mengimplementasikan program pembangunan.

Jatuhnya pilihan pada Jokowi sebagai capres, tentu saja bukan keputusan yang membabi buta dan emosional, yang hanya mendasarkan pada besarnya euforia masyarakat terhadap mantan wali kota Solo ini. Mega tentu melihat ada kekuatan dalam diri Jokowi yang bisa menjadi modal dalam memimpin bangsa ini lima tahun ke depan.

Setidaknya, Jokowi adalah sosok yang relatif segar, yang mencerminkan regenerasi kepemimpinan nasional. Fenomena dukungan publik, yang tercermin dalam banyak survei, menunjukkan perubahan besar dalam pola pikir dan pilihan publik. Mereka tak lagi terpukau dengan orasi yang membius, atau nama besar yang berpengaruh di panggung politik nasional.

Dalam diri Jokowi, publik melihat genuinitas seorang pemimpin. Rekam jejaknya memimpin Kota Solo selama tujuh tahun, ditambah 17 bulan menjadi gubernur DKI Jakarta, membuat publik kini berpaling kepadanya.

Salah satu kelebihan Jokowi dibanding sosok pemimpin lain adalah dia melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang pemimpin. Dia menawarkan pola kepemimpinan yang tidak lazim. Kekuatan terbesarnya adalah kesediaannya hadir di tengah-tengah warga, untuk melihat, menyapa, dan mendengar berbagai problema sosial dan ekonomi. Dia menunjukkan sosok pemimpin yang berpihak kepada yang lemah, tanpa mengganggu yang kuat.

Konsep kepemimpinannya merangsang partisipasi publik. Itulah yang meyakini berbagai pengamat bahwa hadirnya Jokowi sebagai capres, diharapkan mampu meningkatkan minat masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya. Dengan demikian, angka golput pada Pemilu 2014 diharapkan bisa turun, dengan hadirnya sosok alternatif seperti Jokowi. 

Semua ini tentu dilihat oleh Megawati sebagai model kepemimpinan yang diinginkan oleh publik. Karakter kepemimpinan dalam diri Jokowi telah meyakinkan Megawati, bahwa inilah momentum untuk memercayakan tongkat estafet kepemimpinan kepada kaum muda. 

Senin, 17 Maret 2014 | 08:25
 
Copyright © 2013 JokoWidodo.ORG
Powered by Blogger