BREAKING NEWS
.

POLITIK

OPINI & ANALISA

AGENDA & RELAWAN

Sunday, March 16, 2014

Marzuki Alie, Anis Matta dan Ical Paling Rajin 'Serang' Jokowi


Jakarta - Sebuah riset terkait para kandidat capres dalam pemilu 2014 menunjukkan pengaruh Joko Widodo (Jokowi) terhadap para kandidat lainnya. Riset ini dilakukan dengan memantau aktivitas para kandidat capres di dunia maya, yakni Twitter.

Adalah Reading Indonesia Project (Ripro) yang terdiri dari Paramadina Graduate School dan Awesometrics melakukan pemantuan tren kicauan kandidat capres terhadap Jokowi.


Hasilnya menunjukkan, ada tiga capres yang kerap mengkritisi kinerja Jokowi sebagai gubernur DKI.

"Permasalahan Jakarta yang dihadapi Jokowi juga menjadi salah satu isu yang dilekatkan publik kepada para capres. Banyak pula capres yang sengaja atau tidak sengaja riding the wave isu-isu Jokowi," kata peneliti Ripro Koesworo Setiawan.

Koesworo menyampaikan hal ini dalam jumpa pers bertajuk 'Pemilu Presiden, Karnaval Simbol Demokrasi? Rekaman Celoteh Publik Terkait Capres 2014', yang digelar di Universitas Paramadina, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Minggu (16/3/2014). Penelitian ini dilakukan dengan memantau aktivitas Twitter publik terhadap para kandidat capres pada 1 Januari 2014 hingga 15 Februari 2014.

Selama 75 hari pemantauan itu, Ripro mendapatkan 2,6 juta kicauan yang kemudian dipilah sehingga menyisakan 1,42 juta kicauan aktif seputar para capres. Jumlah terakhir itu yang digunakan Ripro untuk mengetahui isu-isu yang berkembang di publik terkait pilpres 2014.

"Marzuki Alie tercatat paling banyak mengkritisi dan dikaitkan dengan Jokowi sebesar 46,90 persen. Sedangkan tokoh lainnya yang juga dikaitkan dan berbicara mengenai Jokowi adalah Anis Matta 19,53 persen dan Aburizal Bakrie 18,93 persen," kata peneliti lainnya bernama Abdul Malik Gismar di lokasi yang sama.

Kemudian, kicauan akun-akun anonim masih mendominasi dalam membicarakan capres-capres tertentu. Lalu muncul juga akun-akun pendukung para capres. Kicauan akun-akun ini memberikan dampak yang tinggi terhadap arah perkembangan isu pencapresan.

"Kalau feeding-nya hanya seputar pergantian kekuasaan, elektabilitas, dan sebagainya, maka diskursus publik juga tidak menyentuk esensi demokrasi seperti kesejahteraan dan keadilan," ujar Abdul.

Pengumpulan data riset ini dilakukan oleh lembaga pemantau sosial media Awesometrics, menunjukkan percakapan mengenai pencapresan dan percaturan politik untuk RI 1 sebesar 62,5 persen, kapabilitas capres 12,5 persen, berkaitan dengan lembaga negara seperti KPK atau DPR sebesar 11,3 persen, dan wacana khusus seperti wajib militer menempati 6,8 persen.

Sementara, kicauan publik terhadap para capres terkait isu-isu kebangsaan dan konstitusi hanya 0,4 persen. Isu kesejahteraan, pendidikan, dan kesehatan lebih kecil lagi, yaitu 0,2 persen dari 1,4 juta kicauan yang dipantau.

Minggu, 16/03/2014 14:29 WIB
Prins David Saut - detikNews
 
Copyright © 2013 JokoWidodo.ORG
Powered by Blogger