BREAKING NEWS
.

POLITIK

OPINI & ANALISA

AGENDA & RELAWAN

Friday, March 14, 2014

"Medali Perpisahan" Jokowi di Kota Tua...




JAKARTA, Sebuah medali emas diberikan kepada Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo pada saat acara peresmian revitalisasi Kota Tua, Jakarta Barat, pada Rabu (13/3/2014) malam. Medali yang diberikan oleh konsorsium penyelenggara revitalisasi tersebut rupanya memiliki makna yang sangat spesial.

Salah seorang pengusaha peserta konsorsium sekaligus ekonom, Lin Cowei, mengungkapkan, pemberian medali tersebut didapat dari penelitian pihaknya soal kebiasaan gubernur ketika zaman Belanda. Ketika itu, gubernur yang telah menyelesaikan tugasnya di sebuah kota diberikan medali sebelum pulang ke negara asalnya.

"Dulu ada gubernur jenderal yang mau pergi mengabdi. Gubernur mendapat kenang-kenangan sebuah medali dari kaptennya," ujar Lin dalam sambutan di hadapan ribuan pengunjung yang datang.

Penyematan medali kepada sang gubernur, lanjut Lin, sangatlah cocok. Meski diakuinya Jokowi tidak pergi ke mana-mana, paling tidak medali tersebut merupakan bentuk penghargaan yang setinggi-tingginya bagi gubernur yang nekat merevitalisasi Kota Tua, mimpi yang selama ini hanya menjadi wacana banyak pihak.

Seusai sambutan, medali itu diberikan kepada Jokowi. Riuh rendah tepuk tangan dan sorak-sorai mengiringi penyerahan medali itu. Jokowi pun membukanya dan mengalungkan medali di lehernya.

Gayung bersambut

Revitalisasi kota tua ini sendiri, diakui Jokowi di dalam sambutan awal, bagaikan gayung bersambut. Saat pertama kali menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, Jokowi mengaku kerap blusukan ke kawasan tersebut. Terhitung, lebih dari 10 kali, baik pagi maupun siang dan malam, Jokowi berkeliling sekitar kawasan bersejarah.

"Dalam hati, saya sudah putuskan. Pokoknya tahun ini revitalisasi Kota Tua harus jadi. Nah, pas bapak-bapak (konsorsium) pada datang, kekuatan hati saya bertambah. Saya kian berkeyakinan revitalisasi kawasan 284 hektar ini bisa dikerjakan," kenangnya.

Kekuatan niat merevitalisasi kawasan itu, lanjut Jokowi, sangat beralasan. Berkaca pada beberapa kota bersejarah di belahan dunia, tidak ada emas yang didapat selain dari hasil ayakan serta polesan. Bahkan, salah satu kota di Rusia, lanjut Jokowi, telah mendatangkan wisatawan meski revitalisasi kota belum selesai.

"Kalau saya bandingkan dengan Kota Tua ini, potensinya ndak kalah besar. Mereka bisa per tahun beri uang Rp 3,5 triliun demi revitalisasi. Masa kita ndak bisa," ujar Jokowi. "Sehingga waktu beliau-beliau ini datang, langsung saya bilang aja, saya ndak ada waktu buat rapat-repet, rapat-repet, ini langsung dimulai sajalah," lanjut Jokowi.

Hasilnya cukup signifikan. Sumber pendanaan disepakati didapatkan dari kombinasi antara APBD Pemprov DKI Jakarta tahun anggaran multiyears, dana konsorsium, dan BUMN. Pembagian pendanaan dibagi berdasarkan kepemilikan heritage.

Pemprov DKI Jakarta, konsorsium swasta, serta pihak BUMN akan merevitalisasi kawasan Kota Tua. Revitalisasi dimulai di gedung PT Pos Indonesia, seberang Museum Fatahillah. Revitalisasi menggunakan pendekatan konservasi, yakni dengan merehabilitasi bangunan tua.

Catatan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, terdapat 85 bangunan yang akan direvitalisasi untuk tahap pertama. Jumlah itu akan berkembang. Tidak hanya merehabilitasi fisik bangunan, revitalisasi juga menyasar pada pengaktifan kegiatan-kegiatan berbasis seni dan budaya hingga industri kreatif di gedung tersebut.

Revitalisasi jangka panjang juga akan mengintegerasikan wisata berbasis kekayaan budaya dengan wisata berbasis sejarah di Jakarta. Wisata kekayaan budaya dikenal bernama Heritage Trail, yakni mulai dari Sunda Kelapa ke arah Ancol. Sementara wisata sejarah dikenal bernama Patriot Trail, mulai dari Monas ke beberapa titik di sekitarnya.

Penulis : Fabian Januarius Kuwado , Editor : Wisnubrata 
KOMPAS.com —  Jumat, 14 Maret 2014 | 07:12 WIB
 
Copyright © 2013 JokoWidodo.ORG
Powered by Blogger