BREAKING NEWS
.

POLITIK

OPINI & ANALISA

AGENDA & RELAWAN

Tuesday, March 11, 2014

Opini: Hari Ini Tepat Jokowi Dicapreskan



Tadi malam, kendati terlambat datang, Jokowi hadir di peluncuran buku Surya Paloh Sang Idiolog, di Hotel Grand Hyatt, Jakarta. Pas di kedatangannya, tepat di momen para tokoh hendak diberi buku maju ke panggung, di antaranya Jusuf Kala, Hamengkubuwuno X, dan menteri kabinet saat ini, M. Lutfi, Zulkifli Hasan.
Usai acara itu, rombongan wartawan dari berbagai media, berjejer di pintu ke luar. Mereka menunggu dengan deretan kamera. Siapa paling dinanti? Ternyata lagi-lagi Jokowi. Tujuh langkah di belakang Jokowi, saya mendengar beberapa pertanyaan wartawan. Kapan dicapreskan? Siapa wakil? Bagaimana dengan beragam masalah Jakarta belum beres? Ada juga pertanyaan soal pengadaan bus Trans Jakarta samar-samar.
Di media sosial tak kalah hangat topik Jokowi dicapreskan; sebelum Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) atau setelahnya?
Saya menduga Jokowi memang akan dicapreskan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Ihwal waktu pengumumannya sudah pula saya tuliskan di media sosial sebelum Pileg. Tentu ini dugaan, bisa saja salah. Saya tentu tak mau salah. Lantas kapan waktu tepat bagi Ketua Umum PDIP mengumumkan pencapresan?
Dalam kalkulasi saya, hari ini, 11 Maret 2014, adalah waktu paling tepat.
Pada 16 Maret mendatang Pileg memasuki waktu kampanye. Dari obrolan ringan dengan Komarudin Watubun, pengurus DPP PDIP, juga salah satu Ketua DPR Papua, nama Jokowi, Gubernur DKI Jakarta, masuk ke dalam Juru Kampanye (jurkam) nasional partainya. Demi etika, tentunya gubernur DKI Jakarta itu sebaiknya mengajukan cuti. Saya simak beberapa agenda kampanye PDIP ke kawasan Indonesia wilayah timur, Jokowi salah satu jurkam.
Bila dicapreskan Jokowi hari ini, maka ada tenggang waktu empat hari pengajuan surat cutinya sebagai gubernur ke Mendagri. Itu artinya jeda sempit, namun masih di atas tiga hari.
Secara nyeleneh ke kawan-kawan kongkow, saya katakan angka sebelas adalah kawin. Jodoh. Solid. Sebelas Maret juga memiliki sejarah bagi bangsa Indonesia, di mana ada Surat Sebelas Maret ditanda-tangani oleh Bung Karno diberikan kepada Soeharto. Surat “alih kekuasaan” itu wujud aslinya kini kontroversi. Entah di mana lembar aslinya. Bagi keluarga Soekarno tentulah 11 Maret itu membekas. Sebagai momen mengenang 11 Maret, bisa diimplementasikan dengan memperingatinya melalui pengumuman Capres PDIP oleh Ketua Umumnya Megawati Soekarno Puteri.
Lantas siapa wakilnya? Tadi malam itu, di saat keluar Ballroom Hotel Grand Hyatt, Jusuf Kala (JK) menyampaikan kesiapannya jika diminta menjadi wakil presiden-nya Jokowi. Beberapa wartawan saya simak kaget. Mereka mencecar JK dengan pertanyaan lain. Kepada saya dua bulan lalu JK, sudah menyampaikan kesiapannya jika diberi kepercayaan menjadi wakil Jokowi. Bahkan secara berseloroh JK mengatakan, “Menjadi Ketua Dewan Masjid saja saya mau, apalagi wakil presiden.”
Dari bertemu beberapa tokoh, nama JK dianggap bagus mendampingi Jokowi; paham ekonomi, berpengalaman, relatif tak berpikir lagi untuk duniawi, tegas. Seorang pengusaha melakukan investasi di atas US 5 miliar di Indonesia Timur, mengatakan jika JK menjadi wakil Jokowi, Indonesia ligat bergerak cepat bangkit dari berbagai sembelit.
Pertanyaan apakah memang seperti itu pula logika Megawati Soekarno Putri? Saya belum pernah berbicara empat mata dengan Mega. Saya hanya mencoba bertanya, mencari tahu ke beberapa sosok dekatnya. Dan itu sudah sejak lama, mulai dari teman “berdebat” saya Alm. Tarto Soediro, era 90-2000-an awal, hingga saat ini, sebutlah kini saya masih rutin berdiskusi dengan Engelina Pattisiana. Ia encer bertutur cakap Palembang dengan Megawati.
Dari perjalanan itu, kuat dugaan saya bukan JK akan dicawapreskan oleh Mega untuk mendampingi Jokowi. Dan pekan lalu Puan Maharani ke media mengatakan bahwa PDIP sudah punya Capres dan Cawapres. Maka mereka itu, menurut dugaan kuat saya adalah: Jokowi dan Ryamizard Ryakudu (RR).
Jenderal Purn. Ryamizard kelahiran 21 April 1950. Ia penah menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) 2002-2005. Menantu mantan Wakil Presiden Try Sutrisno ini, karirnya cemerlang ketika menjadi Pangdam V Brawijaya belanjut Pangdam Jaya. Dari kasak-kusuk, saya mendapatkan info, ada juga rencana Megawati mengumumkan Capres dan Wakil, nanti pada 21 April, pas ulang tahun 64 Ryamizard, bertepatan dengan hari Kartini. Jika ini pilihannya, itu artinya setelah Pileg. Tetapi pengurus teras PDIP sudah menyampaikan ke media bahwa pengumumuman Jokowi Capres sebelum Pileg.
Lantas apakah Jokowi-RR akan dimumkan hari ini?
Menurut saya pengumuman Capres lebih tepat dilakukan hari ini, ya, tanggal 11 ini. Sedangkan Cawapres bisa dilakukan sesuai rencana mereka, 21 April setelah Pileg. Namun bila pilihan Megawati sudah kukuh, solid, mengapa menunggu lagi, lakukan saja, sehingga PDIP bisa total football berkonsentrasi melakukan program dan strategi pemenangan Pemilu.
Kepada saya di media sosial kemarin banyak pertanyaan soal laporan utama majalah Tempo. Pertanyaan sinis, bagaimana Nabi Jokowi Anda dalam kasus pengadaan bus TransJakarta? Di Tempo disebutkan indikasi eks mantan tim sukses Jokowi terlibat pengadaan bus dari Cina berkualitas rendah. Saya belum mengkonfirmasi hal ini ke Jokowi. Baru hari ini mau jumpa. Dari yang saya baca di Tempo, Jokowi menjelaskan duduk soal.
Rating Jokowi dari riset Presstalk, karena banjir Jakarta, memang turun 3,7%. Dan isu bus Cina, menurunkan kepercayaan hingga 2%. Itu artinya sudah 5,7% drop. Di lain sisi elektabilitasnya tetap tertinggi.
Maka saya hanya bisa menjawab, bahwa selain merakyat, Jokowi punya banyak peruntungan. Contoh Jumat dua pekan lalu, rencana bersepada pagi bersamanya ke Kwitang, meresmikan jalan Oesman-Harun. Namun karena desakan kawan-kawan Kompas.com, rute berubah ke Redaksi Kompas. Rombongan lewat Kuningan. Tak berapa jauh dari gedung KPK, rombongan dihentikan polisi, karena di jalur cepat Wapres Boediono lewat. Saya simak adegan kikuk polisi menyetop Jokowi. Ihwal ini beritanya membuncah di media. Terutama media sosial. Empati tentu tertuju ke Jokowi. Ini contoh peruntungan kecil itu.
Jokowi orang baik. Tapi orang baik tak cukup menjadi presiden. Tentulah Jokowi bukan nabi. Ia pasti punya kekurangan. Kelebihannya merakyat dan beruntung bercitra positif di mata publik, beruntung banyak mendapat empati. Maka ketika kemarin Ryamizard bicara soal bahwa yang dicari adalah pemimpin, presiden benar, saya terkesima sejenak. Kalimat Jenderal Purnawirawan itu sekan lengkapi Jokowi, selain baik, pemimpin harus benar.
Jadi? Karena saya bukan Megawati, kita tunggu sajalah apa keputusannya.

 
@iwanpiliang citizen reporter [Iwanpiliang Social Activities: Citizen Reporter, Mengembangkan jaringan Indie junalis warga: PRESSTALK, mengingat media mainstream terkooptasi uang]

OPINI | 11 March 2014 | 08:22
 
Copyright © 2013 JokoWidodo.ORG
Powered by Blogger