BREAKING NEWS
.

POLITIK

OPINI & ANALISA

AGENDA & RELAWAN

Monday, March 10, 2014

Teka-teki Capres PDI-P



JAKARTA, Bakal calon presiden Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) masih menjadi teka-teki yang membuat publik penasaran. Besarnya dorongan agar Joko Widodo diusung pada Pemilu Presiden 2014, misalnya, tak juga membuat partai ini tergesa-gesa mendeklarasikan figur yang akan dijadikan calon presidennya.

Penasaran publik antara lain terlihat pada Sabtu (8/3/2014). Dalam sebuah pertemuan, Barisan Relawan Jokowi Presiden 2014 (Bara-JP) mengajukan banyak pertanyaan pada Sabam Sirait, salah seorang pendiri PDI-P. Inti pertanyaan adalah ingin mendengar kepastian mengenai capres PDI-P, siapa orangnya dan kapan dideklarasikan.


Mendapat rentetan pertanyaan tersebut, Sabam selalu berusaha memberikan jawaban agar pembicaraan beralih fokus. Ketika terus "dicecar", Sabam akhirnya mencoba menjawab sesuai dengan substansi pertanyaan. Sebagai sesepuh PDI-P, Sabam mengerti betul dinamika yang terjadi di internal partainya.

Namun, untuk urusan bakal capres, ia tak ingin membeberkan banyak. Alasannya satu, Sabam ingin tunduk pada aturan partai yang memberikan kewenangan penuh kepada Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri untuk menentukan capres dengan mempertimbangkan kesiapan internal dan kondisi politik terkini.

"Saya enggak mudah berbicara karena saya pendiri PDI-P yang masih hidup. Saya harus patuh pada partai. Saya bisa mencoba mengira-ngira, tapi kalau untuk memastikan apa yang terjadi saya enggak bisa," kata Sabam.

Mendengar jawaban itu, penanya tak lantas puas. Mereka terus saja memberikan pertanyaan tentang siapa capres PDI-P dan kapan akan dideklarasikan. Sampai di satu sisi, Sabam tak dapat lagi menghindari pertanyaan.

Sabam pun akhirnya berjanji berencana menemui Megawati di rumahnya, Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, Senin (10/3/2014). Dia berjanji pula, pertanyaan publik akan dia sampaikan kepada Megawati. Dia pun berjanji membolehkan relawan Jokowi mendampingi, tetapi hanya sampai di depan rumah Megawati. "Kalian boleh ikut, tapi tunggu di luar," selorohnya.

Namun, saat dikonfirmasi Kompas.com, Minggu (9/3/2014) malam, Sabam mengaku kondisi kesehatannya sedang tidak fit. Ia mengatakan rencananya menemui Mega pada hari ini belum dapat dipastikan. "Saya sedang kurang sehat, kita lihat besok (Senin) ya. Kalau sudah sehat, saya telepon Mega, saya mau datang," ujarnya.

Secara pribadi, Sabam mengusulkan PDI-P mendeklarasikan capresnya sebelum pemilu legislatif digelar pada 9 April 2014. Ia tak secara gamblang mengakui mendukung Jokowi sebagai capres, tetapi Sabam mengatakan Indonesia akan lebih sejahtera dan berdaulat jika memiliki minimal tujuh pemimpin daerah seperti Jokowi dan Basuki Tjahaja Purnama.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua Umum Bara-JP, Sihol Manullang, yakin bahwa Megawati Soekarnoputri menampung semua aspirasi yang berkembang terkait nama-nama yang akan diusung menjadi capres. Atas dasar itu, dia pun tak ingin mendesak Megawati dan batal mendampingi Sabam yang berencana ke Jalan Teuku Umar.

"Kalau kami datang (mendampingi Sabam), kami khawatir akan diartikan mendesak. Padahal, kami tak ingin mengganggu, kami percaya Megawati sudah menyerap informasi yang berkembang," kata Sihol.

Menurut pengamat politik dari Universitas Indonesia, Boni Hargens, teka-teki bakal capres PDI-P lahir bukan tanpa sebab. Ia yakin nama Jokowi ada dalam skenario capres PDI-P. Hanya, keputusan dan waktu deklarasinya sengaja diulur untuk menjaga suasana politik tetap kondusif.

Boni menilai, praktik politik negatif akan terjadi jika PDI-P menentukan Jokowi sebagai capres pada waktu yang tidak tepat. Pasalnya, Jokowi merupakan figur potensial yang menduduki posisi teratas dari banyak hasil survei tentang capres.

Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) itu memprediksi PDI-P akan menang dalam pileg tahun ini. Perolehan suaranya akan tembus di atas 30 persen jika mendeklarasikan Jokowi sebagai capres sebelum pileg dan hanya akan memperoleh sekitar 23 persen jika deklarasi tersebut dilakukan setelah pileg.

"Teka-teki ini bukan tanpa dasar. Sekarang tergantung PDI-P lebih nyaman menang dengan angka berapa. Saya yakin Bu Mega akan cepat dan tepat mengambil keputusan," ujar Boni.

Penulis : Indra Akuntono , Editor : Palupi Annisa Auliani 
KOMPAS.com —  Senin, 10 Maret 2014 | 06:27 WIB
 
Copyright © 2013 JokoWidodo.ORG
Powered by Blogger