BREAKING NEWS
.

POLITIK

OPINI & ANALISA

AGENDA & RELAWAN

Wednesday, April 2, 2014

Ini Empat Partai yang Paling Sering "Diserang" Kampanye Negatif

Adjie Alfaraby memaparkan hasil survei Pemilu Legislatif 2014 di Kantor LSI


JAKARTA, Hasil riset kualitatif Lingkaran Survei Indonesia (LSI) mendapati empat partai peserta pemilu yang paling sering menghadapi kampanye negatif jelang Pemilu Legislatif 2014. Keempat partai itu adalah Partai Golkar, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Partai Demokrat, dan Partai Gerindra.

"Golkar terkena kasus Ketua Umumnya (Aburizal Bakrie) ke Maladewa bersama artis dan rombongan. Kasus ini ramai diperbincangkan di media sosial," kata Peneliti LSI, Adjie Alfaraby di kantornya, Rawamangun, Jakarta, Rabu (2/4/2014).

Sementara itu, PDI-P diserang kasus perjanjian batu tulis dengan Partai Gerindra dan munculnya video komitmen Jokowi memimpin Jakarta selama lima tahun. Kemudian, Partai Demokrat menonjol dalam kasus korupsi yang menimpa beberapa kadernya. Terakhir, tersangka kasus dugaan korupsi gratifikasi Hambalang yang juga mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, menuding adanya penggunaan dana Century untuk Pemilu 2009.

Adapun, Partai Gerindra tak terlepas dari kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia yang disebut melibatkan Ketua Dewan Pembina Prabowo Subianto. Adjie mengatakan, kampanye negatif berbeda dengan kampanye hitam.

"Kampanye negatif berisikan pesan-pesan negatif terhadap lawan, berdasarkan fakta yang jujur dan relevan," terang Adjie.

Ia menjelaskan, kampanye negatif biasanya terkait kemampuan seseorang, pengalaman, rekam jejak yang kurang baik, masalah pribadi, maupun skandal masa lalu yang pernah terjadi. Sedangkan kampanye hitam atau black campaign merupakan pesan negatif terhadap kandidat yang tidak didasarkan fakta dan tidak ada sumber data yang bisa dipertanggungjawabkan. Menurut Adjie, kampanye negatif ini turut menghambat laju elektabilitas keempat partai politik tersebut.

"Setelah masa kampanye, rata-rata kenaikan empat partai teratas hanya kurang lebih 3 persen saja," katanya.

Survei ini dilakukan pada 22-26 Maret 2014 dengan margin of error sekitar 2,9 persen. Survei menggunakan metode multistage random sampling dengan 1200 responden dari 33 provinsi di Indonesia. Survei juga dilengkapi dengan penelitian kualitatif yaitu melakukan analisis media, FGD, dan wawancara mendalam. Survei dibiayai oleh LSI sendiri dan dana public interest yang telah dialokasi setiap tahunnya.

Penulis : Dian Maharani , Editor : Inggried Dwi Wedhaswary 
KOMPAS.com -  Rabu, 2 April 2014 | 17:50 WIB
 
Copyright © 2013 JokoWidodo.ORG
Powered by Blogger