BREAKING NEWS
.

POLITIK

OPINI & ANALISA

AGENDA & RELAWAN

Thursday, April 3, 2014

Jokowi dan Prabowo Mendekati Basis Islam

Joko Widodo Bersama Faozan Amar, Malik Fajar Dan Prof. Din Syamsudin & Seluruh Jajaran PP Muhammadiyyah


Jakarta, GATRAnews - Macet Jakarta membuat Joko Widodo (Jokowi) terlambat satu jam tiba di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis siang, pekan lalu. Pertemuan calon presiden (capres) dari PDIP itu dengan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Din Syamsuddin, dijadwalkan pukul 11.00. Namun Jokowi tiba saat mendekati lohor. 
  
Faozan Amar, 41 tahun, kader Muhammadiyah yang jadi salah satu Ketua PP Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi), sayap Islam PDIP, cemas menanti di teras kantor PP Muhammadiyah itu. 

Begitu tiba, Jokowi disambut Faozan dan diantar ke lantai II gedung. Menu makan siang bersama sudah siap santap. Gubernur DKI Jakarta itu didampingi Teten Masduki, mantan calon Wakil Gubernur Jawa Barat usungan PDIP dan Andi Widjajanto, putra tokoh PDIP Theo Syafei, yang juga analis militer Universitas Indonesia. 

Tak lama setelah Jokowi bersalaman dengan Din, kumandang azan lohor terdengar. "Salat dulu," kata Din. Agenda makan siang pun ditunda. 

Din mengajak Jokowi menuju masjid di belakang gedung. Setelah salat sunat qabliyah, Din membisiki imam masjid, "Biar Pak Jokowi jadi imam." Tangan Din lalu merangkul Jokowi dan mengarahkan ke ruang imam. Jokowi sempat menolak halus, "Jangan sayalah." Tapi, Din meyakinkan, "Tidak apa-apa, Pak Jokowi." 

Salat jamaah diimami Jokowi pun berlangsung. Selesai salat, Jokowi diajak melihat areal tanah di samping gedung utama yang baru dibeli.Tanah itu direncanakan untuk pembangunan Gedung Muhammadiyah berjumlah 22 lantai. 

"Kita minta Gubernur membantu agar proses perizinan IMB lebih cepat," kata Faozan, yang juga Wakil Sekretaris Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah. Acara berlanjut makan siang. 

Din didampingi tim tangguh. Tampak Ketua PP Muhammadiyah, Malik Fadjar --Mendiknas era Megawati dan mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Hadir pula Sekretaris PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti; Bendahara Anwar Abbas, Ketua Lembaga Hubungan Luar Negeri Rizal Sukma, yang juga Direktur Eksekutif CSIS; serta Ketua Litbang Muhammadiyah, Riefqi Muna, yang juga peneliti LIPI. 

"Penafsiran saya, Pak Din, juga sebagai Ketua MUI, boleh jadi juga ingin mendapatkan kepastian kalau ditanya tentang capres. Pak Din bisa menjelaskan bahwa Jokowi muslim taat, karena pernah jadi imam salat," ulas Faozan menilai langkah Din meminta Jokowi menjadi imam. Edy Kuscahyanto, Direktur Eksekutif TV Muhammadiyah, menyatakan, "Dari dulu cita-cita Bung Karno sejalan dengan Ahmad Dahlan." 

Edy, salah satu Ketua PP Bamusi juga membenarkan bahwa Bamusi turut memediasi pertemuan. "Jadi jembatan," katanya kepada Andi Anggana dari GATRA. Pertemuan itu, kata Edy, inisiatif Jokowi. 

"Murni dari Pak Jokowi, Baitul Muslimin hanya mempermudah," kata caleg PDIP Dapil Jawa Timur II (Probolinggo-Pasuruan) itu. 

Isi pertemuan, kata Edy, "Tentang cita-cita Jokowi menjadi presiden dan cita-cita membawa negeri ini." Secara tersirat ada indikasi permintaan dukungan Muhammadyah. 

"Muhammadiyah adalah ormas Islam pertama yang dikunjungi Pak Jokowi setelah men-declare capres," ujar Edy. "Detailnya Pak Din dan Pak Jokowi yang tahu." 

Kepada pers, Din menjelaskan, "Cawapres belum waktunya. Tadi kami minta Pak Gubernur merenovasi gedung PP Muhammadiyah. Beliau menyanggupi. Mudah-mudahan Pak Jokowi belum pindah kantor," kata Din. 

Jokowi setali tiga uang. "Ndak ada omongan soal cawapres. Kami membahas SD, SMP, SMK, universitas, dan rumah sakit. Muhamadiyah kan ada semua. Kalau pendidikan mengenai KJP (kartu Jakarta Pintar), kalau rumah sakit mengenai KJS (kartu Jakarta Sehat)," kata Jokowi. 

Din dan Jokowi, kata Edy, mencapai kesepahaman dalam membantu wong cilik dan kaum duafa. "Itu konsen Muhammadiyah dan cocok dengan cita-cita PDIP. Komitmen tidak, tapi terjadi kesamaan visi," tuturnya. 

Edy menambahkan, Jokowi sudah dekat dengan Muhammadiyah Solo sebelum menjadi Gubernur Jakarta. "Jokowi membantu sekolah alam dan men-support kegiatan Muhammadiyah di sana. Pak Jokowi menempati hati tersendiri di kalangan warga Muhammadiyah," Edy menuturkan. 

Sebelum Jokowi, capres parpol lain, Prabowo Subianto dan Wiranto, juga pernah ke PP Muhammadiyah. 

Warga Muhammadiyah yang menjadi caleg PDIP, kata Edy, hanya sekitar enam orang. "Ada di Bandung, Gresik, Tegal, dan Jawa Timur. Yang banyak di Golkar, Nasdem, dan Hanura," katanya. mengenai relasi Din dan PDIP, kata Edy, terjalin baik karena Din pendiri dan penasihat Bamusi. 

Kunjungan ini dimaknai Faozan sebagai blusukan ke kalangan atas. Mengapa Muhammadiyah yang jadi awal kunjungan? "Boleh jadi Muhammadiyah lebih tua dari NU. Kedua, Jakarta dulu, setelah itu Rembang. Jadi, alasan kelahiran dan geografis," ia menafsirkan. 

Faozan menolak pertemuan itu sebagai upaya menangkis serangan kampanye hitam terhadap Jokowi yang dinilai anti-Islam. 

"Stigma Jokowi anti-Islam tidak tepat. Beliau muslim taat dan menjalankan ajaran agama," katanya. 

Kedekatan Jokowi dan Muhammadiyah, kata Faozan, terbangun sejak Jokowi menjabat Wali Kota Surakarta. Terbuka ruang bagi elite Muhammadiyah di kabinet Jokowi? "Terlalu jauh. Yang jelas, kalau ada yang bertanya ke Pak Din tentang keagamaan capres, Beliau bisa menjelaskan," kata Faozan. 

"Kalau kita bicara umat Islam, mau tidak mau, kita tidak bisa melepaskan dari Muhammadiyah dan NU," ujarnya. Relasi Din dan parpol lain juga dikatakan baik. 

"Sebelum menerima Pak Jokowi, Beliau juga menerima Pak Prabowo Subianto, juga menerima Ketua Umum PPP di kantor MUI," ujar Faozan, Caleg DPR Dapil Jateng IX (Tegal-Brebes), nomor urut 4 itu. 


Setelah bertemu Din, malamnya Jokowi bertamu ke rumah Rais Am PBNU, KH Mustofa Bisri. Jokowi ditemani Ganjar Pranowo dan  Teten Masduki.

Wasekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menolak anggapan bahwa safari Jokowi ke tokoh Islam sebagai upaya menarik simpati suara Islam. "Ini lebih dari semangat PDI Perjuangan untuk membangkitkan kembali ingatan mengenai bagaimana sejarah bangsa ini dibuat," ujar Hasto. 

NU dan Muhammadiyah, Hasto melanjutkan, dalam perjalanannya sudah memberikan keringat dan darah untuk republik ini. "Acara kultural mereka adalah Islam kebangsaan yang bisa survive sepanjang sejarah negara ini. Itu adalah hal yang luar bisa dan tidak boleh dilupakan," katanya. PDI Perjuangan, lewat Jokowi, ingin mengembalikan pemahaman tersebut. 

Jadi, kata Hasto, dalam pertemuan dengan para tokoh Islam tersebut, tidak ada pembicaraan politik. "Apalagi sampai membicarakan deal-deal politik tertentu untuk pileg dan pilpres," katanya. 

PDIP sedang membuat gambaran sejarah Republik Indonesia lewat perjalanan kampanye Jokowi. Kampanye hari pertama, 16 Maret lalu, Jokowi memulai dari Jalan Teukur Umar, Menteng, Jakarta Pusat. 

Teuku Umar diambil sebagai representasi Aceh. Berlanjut ke Monumen Kebangkitan Nasional, Museum Sumpah Pemuda, dan berakhir di Stadion Cendrawasih, Cengkareng, Jakarta Barat. Cenderawasih simbol Papua. Artinya, dari Sabang sampai Merauke. 

"Kita mau mengajak melihat sejarah untuk menatap masa depan," kata Hasto. Hal itu juga yang mendasari pertemuan dengan tokoh NU dan Muhammadiyah, yakni kembali melihat sejarah bahwa kedua organisasi besar ini memberikan sumbangan besar bagi sejarah Indonesia. 

"Ini kita dialog untuk jangka panjang. Bukan untuk jangka pendek dan bukan hitung-hitungan suara," kata Hasto. 

Prabowo dan Suryadharma Ali

Tiga hari setelah Jokowi bertemu Din dan Gus Mus, Prabowo, capres dari Gerindra, dengan elektabilitas terkuat setelah Jokowi mengundang Ketua Umum PPP, Suryadharma Ali (SDA), hadir dalam kampanye Gerindra di Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu, 23 Maret lalu. 

Belum pernah ada kampanye model ini. SDA ditemani Ketua Majelis Syariah, KH Nur Muhammad Iskandar dan Djan Faridz, kader PPP di kabinet. 

Aksi SDA itu diprotes Wakil Ketua Umum PPP, Suharso Manoarfa, mantan Menteri Perumahan yang digantikan Djan Faridz. Karena Gerindra tidak masuk daftar capres usungan PPP hasil Mukernas PPP di Bandung. 

Sekjen PPP, Romahurmuzy malah pernah menawarkan tiga nama cawapres usungan PPP untuk Jokowi: Mahfud MD, Jusuf Kalla, dan Khofifah Indar Parawansa. Tahun 1999, sebelum mendukung SBY, Suryadharma sempat bermanuver mendukung Prabowo. 

Nur Iskandar bercerita, gagasan kampanye bersama itu bermula ketika SDA bertemu Prabowo di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Minggu 16 Maret lalu. Hari pertama kampanye terbuka itu, SDA hendak kampanye dan haul Gus Dur di Surabaya.

Suryadharma didampingi Nur dan Isran Noor, Ketua Demokrat Kalimantan Timur dan salah satu capres usungan PPP, yang hadir dalam kampanye PPP di Surabaya. 

Prabowo, kata Nur, menjelaskan kepada Suryadharma bahwa parpol Islam harus dihidupkan. "Jika tidak, akan tumbuh ekstremis Islam," katanya. Nur Iskandar menimpali dengan mengisahkan pertemuannya bersama 70-an kiai di Tangerang saat haul mertuanya. 

Para kiai membicarakan capres yang peduli pada Islam. "Di antara capres yang perhatian dan ngopeni Islam, kata mereka, Pak Prabowo," tutur Nur Iskandar. 

Prabowo pun tergerak mengundang Suryadharma hadir dalam kampanye Gerindra di Gelora Bung Karno. Suryadharma diminta pidato. 

"Saya diminta berdoa, tapi saya nggak enak, Pak Surya sudah pidato, masa saya doa, nanti seolah acara PPP," kata Nur Iskandar. 

Ia memuji pidato Prabowo. "Luar biasa, Beliau membangkitkan bangsa agar mandiri, tidak menjadi kacung," kata Nur. Langkah Surya, kata Nur, "Menunjukkan Islam itu rahmatan lil alamin." 

Habis acara, Nur mengaku banyak menerima telepon memuji. "Ini Indonesia baru, nggak ada kekerasan," kata Nur mengutip para pendukung acara itu. 

Ia juga menceritakan, ada ramalan Gus Mik --tokoh semaan Al-Quran yang meninggal dunia 5 Juni 1993 di Surabaya-- yang beredar di kalangan kiai, bahwa tahun 2014 nanti Presiden Indonesia galak, tapi rakyatnya makmur. Entahlah akurasi ramalan itu. 

Wakil Ketua Umum Gerindra, Fadli Zon, manyatakan senang melihat kehadiran SDA. "Itu tanda persahabatan," katanya kepada GATRA. Karena itu, Gerindra juga ingin menyampaikan tanda persahabatan. "Mungkin pada waktunya kita berbicara lebih lanjut," katanya. "Sebelum pemilu legislatif atau setelah." 

Bentuk persahabatan itu, menurut Fadli, dalam waktu dekat lebih berupa kunjungan balasan. "Pak Prabowo menyebut kalau ada kampanye PPP, Beliau akan hadir," kata Fadli. 

Dikaitkan bacaan bahwa langkah Gerindra untuk mendekati basis Islam, Fadli bilang, Gerindra banyak berisi tokoh Islam. "Saya kan juga Islam," ucapnya. 

Gerindra juga punya sayap berbasis Islam, Gemira (Gerakan Muslim Indonesia Raya). Gerindra melakukan komunikasi politik, bukan hanya dengan partai Islam, tapi semua partai. "Komunikasi kita ke partai Islam dan juga partai-partai lain," jelasnya. "Kehadiran SDA kemarin, menjadi hal bagus bagi kedua belah pihak." 

Sekjen Gerindra, Ahmad Muzani, menyebut kehadiran SDA merupakan tradisi demokrasi yang baik. Harapan dia, kehadiran SDA bisa mengarah ke komunikasi politik lebih produktif. "Upaya awal membangun koalisi untuk menyelamatkan Indonesia dengan memajukan Pak Prabowo sebagai presiden," Muzani menjelaskan. 

Muzani berharap, kedua partai mampu mengambil langkah lebih berani dan produktif. Pertemuan Prabowo dan SDA tahun 2014, menurut Muzani, baru sekali itu. "Tapi sebelumnya, mereka sering bertemu," katanya. "Pernikahan anak Pak Suryadharma Ali (Februari 2012), Pak Prabowo juga datang," contohnya. 

Ketua DPP PPP, M. Arwani Thomafi, menjelaskan tentang pertemuan itu. "Ini semacam alinea pertama dari komunikasi yang  memang harus dibangun dengan sesama tokoh partai, tokoh bangsa, dalam suasana kontestasi pemilu yang bisa saja semakin panas," kata Arwani. 

"Apa yang dilakukan SDA tidak perlu dimaknai berlebihan. Tafsirnya cukup satu, bahwa ini menunjukkan ada yang lebih penting dari kalah- menang dalam pemilu, yaitu persaudaraan antar-kader bangsa bisa semakin kokoh. Ini tradisi politik baru." 

Dua hari setelah kampanye bersama Prabowo-Suryadharma, Jokowi melanjutkan "blusukan elite" ke rumah keluarga Gus Dur di Ciganjur, Selasa malam lalu. Jokowi kembali ditemani Teten Masduki, diterima istri Gus Dur, Sinta Nuriyah dan putri Gus Dur, Yenny Wahid. 

Pada ulang tahun ke-9 The Wahid Institute, September 2013, Sinta memberi hadiah peci berbahan rotan warna krem kepada Jokowi. Saat ke Ciganjur, Jokowi juga berpeci. Tapi warna hitam. 

[Asrori S. Karni, Bernadetta Febriana dan Edmiraldo Siregar]
 
Copyright © 2013 JokoWidodo.ORG
Powered by Blogger