BREAKING NEWS
.

POLITIK

OPINI & ANALISA

AGENDA & RELAWAN

Friday, April 25, 2014

Seknas Jokowi Buat "Plan" Ekonomi Berbasis Trisakti untuk Jokowi


Anggota DPR RI 2009-2014 dari Fraksi PDI P, Eva Kusuma Sundari

JAKARTA, Sekretariat Nasional Jokowi menyusun buku yang berisi pernyataan sikap tentang rencana (plan) ekonomi Indonesia di masa mendatang yang akan disodorkan kepada bakal calon presiden Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Joko Widodo atau Jokowi.

"Dalam buku ini ideologi menjadi basis, bukan seperti exercise akademik semata. Di belakangnya ada Pancasila dan Trisakti. Itu menjadi basis kami," kata anggota tim pakar Seknas Jokowi, Eva Kusuma Sundari, saat peluncuran buku itu yang berjudul "Jalan Kemandirian Bangsa" di Kantor Megawati Institute, Menteng, Jakarta, Kamis (24/4/2014).


Trisakti merupakan "doktrin" yang pertama kali dimunculkan istilahnya oleh Presiden Soekarno. Di dalamnya termuat prinsip kedaulatan dalam berpolitik, kemandirian dalam ekonomi, dan kebribadian dalam kebudayaan.

Eva mengatakan kemandirian ekonomi dengan basis Trisakti menjadi sangat penting diterapkan sekarang. Langkah konkretnya, ujar dia memberikan contoh, adalah dengan membuka hubungan kerja sama yang baru dan lebih luas, misalnya ke kelompok ekonomi BRIC (Brasil, Rusia, India, China) maupun ke kawasan Eropa Timur.

"Banyak kawasan-kawasan yang bisa dikembangkan. Orientasi kebijakan ke depan seharusnya membuka ranah-ranah baru. Jangan hanya konvensional yang itu-itu saja," ucap Eva.

Sementara itu, pengajar ekonomi politik Universitas Indonesia, Andrinof A Chaniago, mengatakan buku tersebut merangkum berbagai pemikiran dan gagasan besar. Inti dari plan ekonomi yang ditawarkan Seknas Jokowi, kata dia, adalah upaya penataan dari pengelolaan sumber daya alam.

"Sebagai pembaca buku, saya membaca buku yang sangat besar dan dipadatkan dalam 60 halaman," ujar Andrinof. Kendati demikian, Andrinof mengatakan, sebenarnya tidak ada gagasan yang baru dalam plan ekonomi tersebut.

 Dengan kata lain, apa yang disampaikan sudah pernah dikemukakan oleh para ahli. "Yang membedakan itu pemimpinnya. Jadi tergantung pemimpin. Kalau hanya bisa berwacana pro growth, pro job, dan pro poor ya enggak akan jadi-jadi," ujar Andrinof.

Penulis: Rahmat Fiansyah
Editor : Palupi Annisa Auliani
 KOMPAS.com - Jumat, 25 April 2014 | 05:57 WIB
 
Copyright © 2013 JokoWidodo.ORG
Powered by Blogger