BREAKING NEWS
.

POLITIK

OPINI & ANALISA

AGENDA & RELAWAN

Sunday, June 29, 2014

Anies: "Prabowo mengakomodasi dan merangkul kelompok ekstremis seperti FPI"

JAKARTA — Juru Bicara Tim Pemenangan Joko Widodo-Jusuf Kalla, Anies Baswedan,  mengaku heran mengapa calon presiden Prabowo Subianto dinilai sebagai sosok yang tegas oleh masyarakat. Menurut Anies, ketegasan yang ada dalam diri Prabowo hanyalah citra yang dibangun. 

Berdasarkan rilis survei Indo Barometer, sebanyak 27 persen masyarakat mengidentikkan Prabowo sebagai sosok yang tegas. Sebesar 25,1 persen lainnya mengidentikkan Prabowo dengan latar belakang militernya. 

"Kita malah menganjurkan masyarakat untuk menilai secara baik-baik, Prabowo itu tegas dari mananya? Coba tunjukkan, apa bukti kalau Prabowo tegas?" kata Anies seusai menghadiri rilis survei di Jakarta, Minggu (29/6/2014). 

Menurut Anies, ketegasan tidak bisa dikaitkan dengan latar belakang militer ataupun gaya bicara yang berapi-api. Rektor Universitas Paramadina itu mencontohkan bukti ketidaktegasan Prabowo melalui visi misi yang dia sampaikan. 

"Misalnya nih, dia tidak tegas soal perekonomian. Secara retorik dia sering menyampaikan kalau ekonominya bersifat nasionalisme tertutup, tapi saat diskusi dia juga sering sampaikan mengenai ekonomi terbuka. Yang mana yang benar?" ujarnya. 

Contoh lain, lanjut Anies, adalah janji Prabowo yang seakan berpihak kepada heterogenitas dan pluralisme yang ada di Indonesia. "Tapi, dia justru mengakomodasi dan merangkul kelompok ekstremis seperti FPI," sambungnya. 

"Masyarakat harus bertanya, tegasnya Prabowo itu pencitraan atau kenyataan? Tunjukkan tiga saja keputusan Prabowo yang tegas," tambah Anies.

Penulis: IhsanuddinEditor: Ana Shofiana Syatiri
Sumber: Kompas (http://nasional.kompas.com/read/2014/06/29/1519549/Anies.Tunjukkan.Tiga.Saja.Keputusan.Prabowo.yang.Tegas)

Saturday, June 28, 2014

Ruhut Sebut Orang yang Kaitkan 'Revolusi Mental" dengan Komunis, Galau

Anggota tim sukses pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla, Ruhut Sitompul


JAKARTA, Anggota tim sukses pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla, Ruhut Sitompul menyangkal, jika ide "Revolusi Mental" yang diusung Jokowi mengakar ke ideologi komunis. Ia bahkan menyebut pihak yang mengaitkan itu dengan komunis sebagai kelompok yang sedang galau.

"Yang ngomong itu sebenarnya orang-orang yang semakin sudah galau menurut saya," kata Ruhut saat dijumpai di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu (28/6/2014).

Ruhut menjelaskan, ide "Revolusi Mental" yang dibawa Jokowi yakni ingin mengubah perilaku masyarakat selama ini. Ruhut mencontohkan, jika sebelumnya masyarakat kurang disiplin, maka Jokowi ingin mengembalikan kedisiplinan tersebut.

Dia menambahkan, tidak sedikit anggota timses Jokowi-JK yang merupakan mantan jenderal TNI yang cinta Tanah Air. Sehingga, tidak mungkin ada paham komunis yang masuk ke dalam visi misi pasangan nomor urut dua itu.

"Pak Luhut itu jenderal, beberapa purnawiranan tentara juga ikut ini. Jadi bayangkanlah sangat selektifnya tentang komunis itu," ujar Ruhut.

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon menyebutkan bahwa gagasan "Revolusi Mental" yang diusung pasangan nomor urut dua Jokowi-JK memiliki akar yang kuat dengan paham komunisme.

"Karl Marx gunakan istilah 'revolusi mental' tahun 1869 dalam karyanya Eighteenth Brumaire of Louis Bonapartem. 'Revolusi Mental' juga jadi tujuan May Four Enlightenment Movement di China 1919 yang diprakarsai Chen Duxui (pendiri Partai Komunis Cina)," ujar Fadli.


Penulis: Dani Prabowo
Editor : Glori K. Wadrianto

KOMPAS.com - Sabtu, 28 Juni 2014 | 11:00 WIB

Menjawab Surat Terbuka Tasniem Fauzia Binti Amien Rais untuk Joko Widodo

Jokowi Bersama Habib Syech di Solo, Menebar Revolusi Mental


Wahai Saudari Tasniem Fauzia Binti Amien Rais,

Terimakasih atas surat terbukamu terhadap Bapak Jokowidodo calon presiden republik Indonesian,
Respon ini adalah surat jawaban dari anak bangsa yang mewakili suara tulus kebhinekaan,

dimana yang merasa untuk menjawab suratmu tidak perlu dijawab oleh yang bersangkutan cukup sy yg jawab, cukup dijawab oleh anaknya petani yang kebetulan dapat kesempatan study doctoral di Perth,

Pertama menjawab pertanyaan sumpah, saya yakin karena sumpah beliau untuk bisa mengemban amanah pembangunan masyarakat yang lebih baik, menciptakan ruang ruang publik bagi masyarakat yang lebih baik tidak hanya di jakarta tapi juga rakyat Indonesia, itu mengapa beliau mau dan bersedia menerima mandat dari ketua umum PDI Perjuangan untuk menjadi calon presiden. Beliau tidak pernah mencalonkan diri atau mengiklankan diri sebelumnya. Saya yakin dalam perjalanan beliau memimpin jakarta 2 tahun terakhir ini efeknya sangat terasa meski perubahan itu tidak semudah membalikkan tangan, namun proses masih berjalan dan akan terus berjalan. proses perbaikan yang dirasakan masyarakat Jakarta inilah yang ingin juga dirasakan kami para warga yang tinggal di daerah,kami ingin mendapatkan efisiensi pelayanan publik sebagaimana mulai dijalankan di masa kepemimpinan beliau, Jokowi Jusuf Kalla tidak akan sanggup tapi dengan dukungan iklas putra putra terbaik untuk melaksanakan semangat reformasi dan untuk menjadikan Indonesia Hebat saya yakin bersama kita bisa.

Kedua Semua mantan presiden dan semua mantan penjabat tinggi negara termasuk bapak njenengan pasti akan didengar masukannya, termasuk ibu Megawati Soekarnoputri, namun jangan paksa beliau untuk melawan atau menghinakan para mantan presiden dan pejabat tinggi negara, suaranya harus tetep didengar sebagai bahan pertimbangan.

Ketiga, untuk aplikasi program program pemerintah seperti pembelian drone, program kesehatan, pendidikan, dan lainnya didapatkan dengan banyak jalan.  Yang pasti memaksimalkan potensi pendapatan dan mengikis habis tikus tikus anggaran. Transaparansi budgeting dengan sistem lelang online akan mengurangi pat-gulipat permainan anggaran. Dengan maksimalkan potensi pendapat negara dan memaksimalkan kinerja KPK saya yakin program tersebut akan berjalan. Karena inti dari pembangunan adalah pembangunan manusia, bukan explorasi sumber daya alam saja.

Keempat, beliau tidak ada urusan dengan majalah Fortune atau urusan asing lainnya, sejauh tidak memberikan kemaslahatan kepada bangsa ini saya yakin beliau akan “melawan”. hal ini sudah terlihat dari setiap kebijakan yang di kreate beliau selau mengedepanakn dialog, diskusi dan yang pasti kepentingan bersama dan memberdayakan. Jadi saya jamin beliau akan tegas dalam renegosiasi kontrak karya perusahaan asing di nusantara.

Kelima, Blusukan adalah suatu proses untuk mendengar langsung keluhan masyarakat, mengkontrol pelaksanaan pembangunan secara langsung, bisa mencari solusi yang tepat krn mendapat informasi yang lebih akurat dan up todate, mengenai wartawan, itu memang kerjaan wartawan mencari berita, baik berita buruk ataupun berita baik, saya ndak tahu motivasi wartawan mengikuti Jokowi blusukan, tapi yang pasti itu wartawan dan media itu memiliki tugas menginformasikan informasi yang perlu diketahui publik, jadi kalau blusukan tidak layak diberitakan ya ndak usah diliput, gitu aja kog repot.

Keenam, Mengorbankan jiwa raga itu tidak harus dengan mengabdi diketentaraan atau ikut berperang, menmgorbankan jiwa raga bisa dilakukan oleh semua profesi termasuk dosen seperti ayahhanda njenengan Prof. Amien Amin Rais  atau bapak saya yang seorang petani, dalam era saat ini proses pengorbanan jiwa raga adalah dengan menggulung kepentingan pribadi dan golongan untuk membentuk tatanan masyarakat yang lebih setara seimbang dan makmur adalah proses pengorbanan yang bisa dilakukan oleh anak bangsa.

Menggaris bawahi jawab saya diatas, Jokowi insya Allah akan mampu membawa Indonesia menuju arah yang lebih baik dengan dukungan seluruh elemen anak bangsa. Indonesia tidak butuh pemimpin yang hanya pandai berkata kata, Indonesia membutuhkan pemimpin yang bekerja.

Saya yakin majunya Jokowidodo akan memberikan harapan kedepan kepada anak cucu kita untuk memiliki kesempatan dan harapan utk jd pemimpin tertinggi negeri ini. Pemimpin yang lahir dari rahim komunitas, rakyat yang bukan bukan jendral, bukan pengusaha super kaya, bukan pemilik media, bukan anak tokoh terkenal, bukan professor, bukan pelaku poligami, bukan doktor apalagi PhD lulusan Luar negeri, yang menjadikan orang biasa bisa bermipi untuk bisa menentukan arah negeri ini

salam dua Jari -Perth 27 Juni 2014

Oleh : Kompasianer: Achmad Room Fitrianto [Achmad Room adalah staf pengajar di UIN Sunan Ampel Surabaya sejak tahun 2003.]

Kompasiana  | 27 June 2014 | 15:02

Dipecat Golkar, Agus Gumiwang Bentuk "Relawan Dulur Jokowi-JK" di Jawa Barat

Agus Gumiwang Kartasasmita


JAKARTA, Mantan Ketua DPP Partai Golkar, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan siap memenangkan pasangan calon presiden-wakil presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla, dengan membentuk relawan Dulur Jokowi-JK di Jawa Barat.

"Kami membentuk relawan sendiri di Jawa Barat yang kami sebut Dulur Jokowi-JK. Ada 8.000 relawan yang siap memenangkan Jokowi-JK," kata Agus di Gedung Pusat Perfilman Ismail Usmar, Kuningan, Jakarta, Jumat (27/6/2014). Agus hadir dalam deklarasi Relawan Biji Kopi alias Barisan Jiwa Kotak-kotak Putih yang juga mendukung Jokowi-JK.

Menurut Agus, dukungannya kepada Jokowi adalah panggilan hati. Dia juga menyatakan siap menanggung seala risiko, seperti risiko yang sudah dijalaninya yaitu dipecat dari Partai Golkar, partainya selama ini. "Saya terima risiko dan konsekuensi dari pilihan saya. Saya lebih khawatir 250 juta masyarakat Indonesia bila mereka salah memilih," sambungnya.

Kendati tetap merasa kecewa dengan pemecatan atas dirinya, Agus mengaku akan lebih konsen untuk memenangkan pasangan Jokowi-JK. "Mereka punya subyektivitas untuk memecat saya. Tetapi, saat ini saya akan konsen untuk memenangkan Jokowi-JK," kata dia.

Pilihannya membentuk relawan di Jawa Barat, diakui Agus karena kondisi dukungan terkait Pemilu Presiden 2014 di provinsi tersebut. "Di Jawa Barat memang akan sulit. Untuk itu kami akan bekerja semaksimal mungkin," ujar dia.

Agus dipecat dari Partai Golkar karena memilih mendukung pasangan Jokowi-JK saat partainya bergabung ke koalisi yang mengusung pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Bersama Agus, dipecat pula dua kader lain Partai Golkar karena alasan yang sama, yaitu Nusron Wahid dan Poempida Hidayatullah.


Penulis: Yohanes Debrito Neonnub
Editor : Palupi Annisa Auliani

KOMPAS.com - Sabtu, 28 Juni 2014 | 07:01 WIB

Jokowi: Saya Difitnah, Sabar, Sabar, Sabar...

Jokowi di Ponpes Babussalam, Pagelaran, Kabupaten Malang, (27/6/2014)


MALANG, Calon presiden Joko Widodo terus "curhat" soal fitnah yang menurut dia terus menyambanginya. Dia mengaku bersabar saja menghadapi semua itu.

"Kalau saya difitnah, saya sabar, sabar, sabar. Ada yang menjelekkan, sabar, sabar, sabar," ujar Jokowi saat pidato di depan ribuan hadirin dan santri di Pondok Pesantren Babussalam, Kecamatan Pangelaran, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (27/6/2014).

Jokowi pun mengatakan, bila ada pihak yang menjelek-jelekkan, maka perbuatan itu harus dibalas dengan kebaikan. "Jangan balas dengan kejelekan juga. Aku rapopo," kata dia.

Dalam kampanye tersebut, Jokowi mengaku membawa sebuah tabloid. "Saya bawa tabloid Obor. Tapi (ini) tabloid Obor Rahmatal Lil Alamin. Tidak berisi hasutan (atau) fitnah tentang saya," ujar dia menyindir tabloid Obor Rakyat. "Kalau Obor Rahmatal Lil Alamin ini isinya baik semua," kata dia.

Lagi-lagi, Jokowi mengulang dialog tentang dirinya yang dituduh sebagai anak dari orang Singapura. "Ada yang mengatakan katanya saya anaknya orang Singapura. Wong wajah saya ndeso, kok bisa," ungkapnya.

Di depan hadirin yang mayoritas warga Nahdliyin itu, Jokowi juga mengatakan, jika Nahdlatul Ulama (NU) dan nasionalis bersatu dan bergandengan, maka kemenangan akan diraih. "Kita lihat tanggal 9 Juli nanti, siapa yang menang," katanya. 

 Penulis: Kontributor Malang, Yatimul Ainun Editor : Palupi Annisa Auliani

KOMPAS.com — Sabtu, 28 Juni 2014 | 06:26 WIB

Relawan Biji Kopi: Biar Kurus, Jokowi Orangnya Tegas




JAKARTA, Ratusan orang yang menamakan diri Relawan Biji Kopi atau Barisan Jiwa Kotak-kotak Putih resmi mendeklarasikan dukungan bagi kubu Jokowi-Jusuf Kalla, Jumat (27/6/2014). Mereka mengaku mendukung Jokowi karena sosoknya yang sederhana, bersih, merakyat, dan tegas.

"Ada yang bilang Jokowi tidak tegas. Saya tegaskan, biar kurus, Jokowi orangnya tegas," kata inisiator Relawan Biji Kopi, Hasan Nasbih, di Gedung Pusat Perfilman Ismail Usmar, Kuningan, Jakarta, Jumat. Menurut dia, sikap tegas tidak harus dinilai dari badan yang tegap, tatapan mata yang tajam, badan berotot, ataupun suara yang lantang ketika berorasi.

"Jokowi tegas dalam prinsip. Dia tegas ingin memberantas korupsi sehingga menolak partai yang bermasalah," ujar Hasan. "Jokowi menolak bekerja sama dengan partai bermasalah, tidak ingin bagi-bagi kursi, membuat banyak pihak atau parpol bermasalah akhirnya tidak bergabung dengan kubu Jokowi."

Hasan pun mengajak para pendukung Jokowi-Kalla untuk terus menolak kampanye hitam. "Mari kita lawan kampanye hitam yang mengatakan Jokowi tidak tegas, biar masyarakat bisa melihat siapa yang tidak tegas sekarang," ujar dia.

Sebelumnya, ratusan perwakilan relawan dari berbagai kecamatan dan kelurahan di DKI Jakarta mendeklarasikan dukungan kepada pasangan capres nomor urut dua Jokowi-JK. Kebanyakan relawan adalah para bekas relawan yang pernah mendukung Jokowi dalam Pemilu Gubernur DKI Jakarta pada 2012.


Penulis: Yohanes Debrito Neonnub
Editor : Palupi Annisa Auliani

KOMPAS.com — Sabtu, 28 Juni 2014 | 04:27 WIB

Friday, June 27, 2014

Mendekati Pilpres, Jokowi Gencarkan Kampanye di Jatim




JAKARTA - Calon presiden nomor urut 2, Joko Widodo kembali melaksanakan kampanyenya menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2014 yang tinggal 2 pekan lagi. Kali ini, pria yang akrab disapa Jokowi akan mengelilingi Provinsi Jawa Timur.

Sesuai jadwal yang diterima, Jokowi akan memulai kegiatannya pada pukul 08.30 WIB, mengunjungi kota Jember sembari menyambangi beberapa pasar yang ada di Jember. Pukul 11.00 WIB, Jokowi melakukan konsolidasi dengan tim pemenangan Jember.

Pukul 11.30 WIB, Jokowi akan mengelilingi kota Jember sembari membagikan kaos Jokowi - JK kepada warga yang dijumpainya sepanjang mengelilingi kota. Barulah, pada pukul 13.00 WIB menuju Malang melalui jalur udara.

Pukul 16.00 WIB, pria yang telah nonaktif dari jabatannya sebagai Gubernur DKI ini akan melakukan apel siaga yang rencananya dihadiri 10.000 saksi. Pada pukul 17.00 WIB, Jokowi akan menghadiri acara Haul Bung Karno dan KH Hasyim Ashari.

Pukul 19.00 WIB, Jokowi melaksanakan ziarah ke makam Bung Karno dan dilanjutkan melakukan konsolidasi serta pertemuan dengan tokoh masyarakat dan relawan pada pukul 21.30 WIB.

Penulis: Imanuel Nicolas Manafe 
Laporan Wartawan Tribunnews.com/Nicolas Timothy
Editor: Budi Prasetyo

TRIBUNNEWS.COM, Jumat, 27 Juni 2014 07:52 WIB

Netizen Pertemukan Jokowi dengan 2 Tukang Becak dan Keluarga Sopir Angkot




JAKARTA,  Calon presiden Joko "Jokowi" Widodo dipertemukan dengan dua tukang becak dan satu keluarga sopir angkutan kota, di Hotel Lumire, Senen, Jakarta Pusat, Kamis (26/6/2014) malam. Terkait apa pertemuan tersebut?

Pertemuan itu diagendakan oleh komunitas dunia maya atau netizen, yang beranggotakan blogger, pengguna twitter, pengguna Facebook, dan penulis media jurnalisme warga Kompasiana. Ada cerita dari kedua tukang becak dan keluarga sopir angkot ini terkait Jokowi.

"Saya Aris Van Java dan teman saya ini tukang becak di Prawirotaman (Yogyakarta). Tanggal 13 Juni kami berangkat dari Malioboro (Yogyakarta) menuju ke Jakarta, genjot becak," ujar Aris memperkenalkan diri.

"Kami bukan sekedar jalan-jalan tanpa makna. Kami menggalang dana. Karena banyak ya masyarakat kecil mau bantu kampanye bapak. Tapi enggak tau caranya gimana, kami inilah yang menawarkan diri bantu," sambung Aris. Sesudah memperkenalkan diri dia dan temannya masing-masing menyerahkan satu kotak plastik berisi uang receh kepada Jokowi.

Sementara itu, sopir angkot yang dipertemukan dengan Jokowi, mengaku bernama Purba. Dia datang bersama istrinya. Pasangan ini menyatakan terima kasih kepada Jokowi untuk program di DKI Jakarta, yaitu Kartu Jakarta Pintar dan Kartu Jakarta Sehat.

Program KJS, kata Purba, membuat sang istri menjalani operasi tanpa mereka harus mengeluarkan uang. Anak pasangan ini pun bersekolah dengan gratis berkas KJP. "Padahal anak saya sekolah di swasta. Tapi Pak Jokowi memperhatikan sekolah yang swasta juga. Kami berterima kasih, Pak," ujarnya.

Keluarga Purba pun berharap Jokowi menjadi presiden supaya program-program serupa bisa menjadi program nasional. Dengan demikian, efek positif program tersebut bisa dirasakan oleh masyarakat di seluruh Indonesia.

Acara yang digelar para netizen ini berlangsung meriah. Sekitar dua ratus netizen hadir di sana. Selain mempertemukan Jokowi dengan "wong cilik", para netizer juga berdialog dengan Jokowi soal industri kreatif. Seluruh rangkaian acara baru rampung pada Jumat (27/6/2014) pukul 00.05 WIB.


Penulis: Fabian Januarius Kuwado
Editor : Palupi Annisa Auliani

KOMPAS.com - Jumat, 27 Juni 2014 | 03:58 WIB

Thursday, June 26, 2014

Masyarakat Tionghoa Minta Jokowi-JK Tuntaskan Kasus HAM dan Jaga Pluralisme



JAKARTA, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Indonesia-Tionghoa (INTI) Budi Santoso meminta pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla menuntaskan pengusutan kasus dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM), jika memenangi Pemilu Presiden 2014. Hal itu disampaikan Budi dalam silaturahim Jokowi-JK dengan INTI, di Ballroom Sun City, Jakarta Pusat, Kamis (26/6/2014) malam.

"Apabila Jokowi-Jusuf Kalla jadi presiden, kita minta pluralisme, kebhinekaan, pelanggaran HAM berat, bisa dituntaskan dengan baik. Sehingga bangsa kita melaju ke depan tanpa beban," ujar Budi.

Budi mengatakan, Indonesia telah ditakdirkan menjadi bangsa yang pluralis. Ia menilai, Jokowi-JK mampu membawa Indonesia menjaga keutuhan bangsa di tengah keberagaman. Salah satunya dengan menyelesaikan kasus pelanggaran berat HAM.

Harapan senada juga diungkapkan salah satu pendiri INTI Benny Gatot Setiono. Menurut Benny, warga Tionghoa yang hidup di DKI Jakarta selalu sulit menjawab jika ditanya soal kasus 1998. 

"Ditanya kasus Mei, kasus penculikan, kami ini bingung jawabnya. Siapa yang akan tanggung jawab. Kami percaya kalau Bapak (Jokowi) menang, pasti mau menyelesaikan masalah ini," ujarnya.

Acara silaturahim itu dihadiri oleh sekitar dua ribu warga Tionghoa. Acara yang dijadwalkan pukul 20.00 WIB molor hingga pukul 21.10 WIB, karena menunggu kedatangan Jokowi. Ia datang seorang diri tanpa pasangannya, Jusuf Kalla. 


Penulis: Fabian Januarius Kuwado
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary

KOMPAS.com - Kamis, 26 Juni 2014 | 22:04 WIB

Sofjan Wanandi: Para Pengusaha Merapat untuk Dukung Jokowi

Ketua tim relawan Harmoni, Wiryanti Sukamdani dan Sofjan Wanandi


JAKARTA, Mantan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi dan para pengusaha komunitas yang tergabung dengan Relawan Harmoni mendeklarasikan dukungan untuk Jokowi-Jusuf Kalla di Hotel Sahid Jaya, Kamis (26/6/2014). Mereka menilai sosok Jokowi-JK adalah pilihan yang tepat karena keduanya memiliki latar belakang pengusaha. 

Ketua Tim Relawan Harmoni, Wiryanti Sukamdani, mengungkapkan, Relawan Harmoni adalah wadah bagi para pelaku dunia usaha untuk menyalurkan dukungannya kepada Jokowi-JK.

"Tujuan kami mendukung Jokowi-JK dari kacamata pengusaha, dianggap mereka cukup paham karena mereka juga pengusaha," ujar Wiryanti di sela-sela acara Malam Puncak Solidaritas Pelaku Dunia Usaha untuk Jokowi-JK, Kamis malam ini.


Malam Puncak Solidaritas Pelaku Dunia Usaha untuk Jokowi-Jk dihadiri oleh 1.200 pelaku usaha dan kaum profesional yang datang dari Jawa, Sumatera, dan Papua. Tidak hanya itu, tujuh komunitas yang terdiri dari Komunitas Lembaga Indonesia-China (LIC), Ikatan Dagang Indonesia-Tiongkok (IDIT), Komunitas Pedagang HP, Komunitas Dayak, Komunitas Guru PSKD, Komunitas Fotografi, dan Komunitas UKM turut hadir pada malam ini.

Hadir pula analis makroekonomi Christianto Wibisino dan Anggota Dewan Pengarah tim pemenangan Jokowi-JK, Luhut Panjaitan. Koordinator Media dari Tim Pejuang Harmoni, Sandy Manuhutu, menambahkan, sejak berdiri, Relawan Harmoni telah melakukan kerja nyata penggalangan suara para pelaku usaha melalui sosialisasi dan dialog intensif dengan pelaku usaha Jabodetabek, kampanye media sosial melalui Jasmev, blusukan ke sentra pasar tradisional, dan memproduksi alat peraga.


Penulis: Sabrina Asril
Editor : Fidel Ali Permana

KOMPAS.com Kamis, 26 Juni 2014 | 21:37 WIB

Survei LIPI: Elektabilitas Jokowi-JK 43 Persen, Prabowo-Hatta 34 Persen




JAKARTA, Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P LIPI) merilis hasil survei nasional terkait peta dukungan kepada calon presiden dan calon wakil presiden dalam pemilu presiden mendatang. Dalam survei tersebut, pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla unggul atas pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

"Pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla unggul 43 persen. Sementara pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa mendapat 34 persen," kata peneliti P2P LIPI, Wawan Ichwanuddin, di Auditorium LIPI, Jakarta, Kamis (26/6/2014).

Wawan mengatakan, tingkat keterpilihan ini didasarkan pada pertanyaan penelitian "jika pemilihan presiden diselenggarakan pada hari ini, siapakah yang akan Anda pilih?"

Dia pun menegaskan, survei tersebut hanya melakukan pemotretan persepsi masyarakat dalam rentang waktu tertentu.

"Dalam survei ini juga masih ada 23 persen responden yang belum menentukan pilihan atau undecided voters," ucap staf pengajar Ilmu Politik Universitas Indonesia itu.

Penelitian yang dilakukan secara nasional tersebut dilakukan dari tanggal 5 Juni sampai 24 Juni 2014. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan sampel sebanyak 790 responden.

Pemilihan sampel dilakukan melalui metode multistage random sampling. Berdasarkan jumlah sampel ini, diperkirakan margin of error sebesar kurang lebih 3,51 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Seluruh biaya kegiatan survei ini bersumber pada dana DIPA (negara).


Penulis: Rahmat Fiansyah
Editor : Sandro Gatra

KOMPAS.com - Kamis, 26 Juni 2014 | 16:08 WIB

Jokowi: KPK Dikuatkan demi Antisipasi yang Bocor-bocor

Calon Presiden Joko Widodo tiba di Gedung KPK, Kamis (26/6/2014) pagi.

JAKARTA,  Calon presiden Joko Widodo menegaskan komitmennya untuk menguatkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) jika dia terpilih menjadi presiden.

Hal itu dikatakan calon presiden bernomor urut 2 itu ketika datang ke KPK untuk melakukan klarifikasi kekayaannya, Kamis (26/6/2014). "Penguatan KPK ini ya untuk mengantisipasi yang bocor, bocor, bocor itu," ujar Jokowi.

Penguatan lembaga tersebut, lanjut Jokowi, dilakukan dengan dua program. Pertama adalah menambah anggaran hingga 10 kali lipat dari sebelumnya. Kedua, menambah jumlah penyidik demi optimalisasi kerja KPK.

"Ini semua agar KPK betul-betul jadi institusi yang kuat. Kami sangat mengapresiasi kerja KPK selama ini," ujar Jokowi.

Sebelumnya, dalam putaran kedua debat capres-cawapres yang bertemakan "Pembangunan Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat", calon presiden nomor urut 2, Prabowo Subianto, mengutip Abraham Samad yang menyebut kebocoran negara hingga Rp 7.200 triliun, meskipun setelahnya Prabowo mengatakan akan menutup kebocoran sebesar Rp 1.000-an triliun.

Menanggapi pernyataan Prabowo, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Chairul Tanjung mengatakan, jumlah itu terlalu berlebihan sebab pengawasan atas APBN dilakukan dengan ketat.

Chairul berpendapat, pernyataan Prabowo hanya dilontarkan dalam rangka kampanye. Pasalnya, Chairul menyebutkan bahwa APBN 2014 hanya mencapai Rp 1.500 triliun. (C18-11)


Penulis: Fabian Januarius Kuwado
Editor : Kistyarini

KOMPAS.com — Kamis, 26 Juni 2014 | 14:03 WIB

Jokowi-Kalla Tak Berbarengan Jalani Verifikasi Kekayaan di KPK



JAKARTA, Calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla akan menjalani verifikasi laporan harta kekayaan mereka di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Kamis (26/4/2014). Namun, mereka tak akan berbarengan menjalani pemeriksaan tersebut.

"Jokowi jam 09.30 WIB. JK tadi konfirmasi sekitar jam 14.00 WIB karena dia ada acara," kata Juru Bicara KPK Johan Budi, Rabu (25/4/2014). Jokowi dan Kalla akan diminta klarifikasi soal laporan harta kekayaan yang mereka serahkan ke KPK pada akhir Mei 2014, terkait pencalonan mereka di Pemilu Presiden 2014 ini.

Sesuai Pasal 5 huruf f dan Pasal 14 Ayat (1) huruf d Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, calon presiden dan wakil presiden wajib melaporkan hartanya ke KPK. Selanjutnya, KPK akan menguji kebenaran laporan harta tersebut.

Lembaga antikorupsi itu juga menghimpun masukan dari masyarakat mengenai harta kekayaan capres dan cawapres. Hasil uji kebenaran laporan harta kekayan capres dan cawapres ini kemudian akan diserahkan kepada Komisi Pemilihan Umum, dan diumumkan ke publik pada 1 Juli 2014. Tindak lanjut bila ada temuan yang tak sesuai merupakan kewenangan KPU.

Pada Pemilu Presiden 2014, untuk pertama kalinya pasangan calon presiden dan wakil presiden menjalani verifikasi laporan harta kekayaan ini dengan mendatangi Gedung KPK. Lima tahun lalu, petugas KPK yang mendatangi para capres dancawapres di kediaman masing-masing untuk menjalani verifikasi ini.

Sebelumnya, Rabu (25/6/2014), pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa sudah pula menjalani verifikasi laporan kekayaan mereka. Verifikasi tersebut berlangsung selama kurang lebih tiga jam. Seusai diverifikasi, Prabowo mengakui ada laporan hartanya yang dikoreksi KPK. Adapun Hatta mengaku ditanya KPK tentang cara perolehan harta tersebut.


Penulis: Icha Rastika
Editor : Palupi Annisa Auliani

KOMPAS.com - Kamis, 26 Juni 2014 | 07:03 WIB

Bos Indosat: Paparan "Buyback" Jokowi Dongkrak Valuasi Saham



JAKARTA, Presiden Direktur dan CEO PT Indosat Tbk (ISAT) Alexander Rusli mengklaim harga jual (valuasi) saham perusahaan berkode ISAT di lantai bursa ini melejit, usai disebut akan dibeli kembali (buyback) jika Joko Widodo terpilih jadi Presiden.

"Saya enggak tahu persisnya, cuma kemarin pas diomongin harga valuasinya naik," kata Rusli di Kantor Pusat Indosat, Jakarta, Rabu (25/6/2014). "Kami ketawa cengar-cengir saja. Tapi sayangnya manajemen tidak punya saham, ya mau diapain," imbuh dia.

Saat ini saham Indosat dikuasai oleh Ooredoo Asia Pte Ltd (65 persen), Pemerintah Indonesia (14,29 persen), SKAGEN AS (5,42 persen), dan publik (15,29 persen). Adapun Ooredoo Asia Pte Ltd adalah perusahaan yang berbasis di Qatar.

Rusli mengatakan keputusan buyback adalah kewenangan para pemegang saham. "Jadi ya kalau mau buyback itu melalui UU Pasar Modal. Jadi sebenarnya manajemen tidak terlibat sama sekali," ujar dia.


Penulis: Estu Suryowati
Editor : Palupi Annisa Auliani

KOMPAS.com - Kamis, 26 Juni 2014 | 05:48 WIB

Wednesday, June 25, 2014

"Time" Sebut Video Dhani sebagai Kampanye yang Buruk




JAKARTA, Video kampanye untuk pencalonan Prabowo-Hatta yang dibuat musisi Ahmad Dhani disebut sebagai kampanye paling buruk oleh majalah Time. Video yang menggunakan lagu "We Will Rock You” dari Queen itu menampilkan Dhani mengenakan seragam petinggi Nazi, Heinrich Himmler.
Artikel Time yang ditulis Yenny Kwok itu berjudul "This Indonesian Nazi Video Is One of the Worst Pieces of Political Campaigning Ever". Yenny Kwok juga mengutip pernyataan Prabowo di laman Facebook-nya yang menyebut video tersebut menambah semangat berjuang.

Sebelumnya, media online berbahasa Jerman, Der Spiegel, menyoroti pemunculan simbol-simbol yang menyerupai identitas Nazi dalam perhelatan politik Indonesia (baca: Media Jerman Soroti Baju Ahmad Dhani yang Mirip Seragam Pemimpin Nazi). Sorotan tersebut tertuju kepada pakaian yang dikenakan oleh musisi Ahmad Dhani dalam video lagu dukungan untuk pasangan calon presiden-wakil presiden Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.
Dhani tampil bersama tiga finalis Indonesia Idol membawakan lagu modifikasi dari "We Will Rock You" milik Queen. Lagu modifikasi tersebut diberi judul "Prabowo-Hatta: We Will Rock You". Dalam video lagu itu, Dhani mengenakan mantel hitam, dengan dua kantong di dada, tanda pangkat, dan emblem di kerah.
Menurut Spiegel, pakaian Dhani ini mirip dengan seragam para pemimpin Nazi. Pakaian ini disebut secara spesifik menyerupai jaket seragam komandan Schutzstaffel (SS), Heinrich Himmler. Kemiripan tersebut diperkuat dengan pemasangan emblem merah pada kerah dan saku dada.
Dalam tulisan berjudul "Indonesien: Wahlkampf in Himmlers SS-Uniform", Spiegel menulis simbol rezim Nazi ini terlihat sengaja dipakai di Indonesia untuk mempertontonkan kekuatan militer dan efisiensi pemerintahan.
Artikel di Time juga menyebutkan bahwa gitaris Queen, Brian May, menyatakan, pihaknya tak pernah memberi kewenangan pada pembuat dan pelaku video untuk menggunakan irama lagu "We Will Rock You" sebagai basis musik yang digunakan di video itu.

"Tentu saja ini sama sekali tak mendapat persetujuan dari kami," kata Brian May seperti dikutip TIME.com.


Penulis: Wisnubrata
Editor : Laksono Hari Wiwoho

KOMPAS.comRabu, 25 Juni 2014 | 21:35 WIB

Tangkal Fitnah terhadap Jokowi, Relawan Terbitkan Tabloid "Obor Rahmatan Lil'alamin"

Tampilan tabloid mini Obor Rahmatan Lil'alamin, Jakarta, Rabu (25/6/2014)


JAKARTA, Setelah kemunculan tabloid Obor Rakyat yang kontroversial, kini muncul tabloid mini Obor Rahmatan Lil'alamin. Berbeda dari Obor Rakyat yang dianggap mendiskreditkan calon presiden Joko Widodo, Obor Rahmatan Lil'alamin memuat berita-berita yang menjawab fitnah ataupun kampanye hitam yang ditujukan kepada Jokowi.
"Isinya 99 persen untuk pencerahan tentang hal yang benar. Jokowi itu tidak seperti yg difitnahkan," kata Penanggung Jawab Tabloid Obor Rahmatan Lil'alamin Amal Alghozali kepada Kompas.com, Rabu (25/6/2014) malam.
Koordinator Relawan Demi Indonesia itu mengatakan, tabloid mini tersebut telah dicetak sebanyak 200.000 eksemplar dan disebarkan di sejumlah daerah di Pulau Jawa, antara lain Madura, Brebes, Cirebon, Indramayu, Tasikmalaya, Garut, Bandung, Sukabumi, Depok, dan Bekasi. Tidak menutup kemungkinan akan disebarkan di luar Pulau Jawa karena saat ini sudah ada permintaan dari Lampung dan Kalimantan Selatan.
Seluruh biaya penerbitan tabloid itu diperoleh dari sumbangan komunitas-komunitas pendukung Jokowi. Selain diberikan kepada pemesan penyumbang dana, tabloid setebal 32 halaman itu juga dijual secara eceran dengan harga promosi Rp 1.000. Banderol resminya Rp 5.000.
Pada edisi perdana, tabloid yang diterbitkan oleh Padepokan Demi Indonesia—dulu merupakan markas pemenangan Dahlan Iskan—itu menggunakan judul headline "Fatwa 9 Kiai: Jokowi-JK Lebih Maslahat". Isinya lebih banyak membantah fitnah-fitnah yang ditujukan kepada Jokowi.
"Edisi pertama ini kita menjawab soal fitnah yang berbau SARA. Bukan tidak mungkin nantinya membahas soal program-program Jokowi," kata Amal.
Menurut Amal, seluruh berita yang dimuat dalam tabloid tersebut diproduksi sendiri oleh tim redaksinya tanpa menjiplak ataupun mencomot berita dari media lain. Edisi perdana yang terbit pada Juni 2014 ini antara lain memuat wawancara dengan KH Salahuddin Wahid, pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur. Ada pula petikan wawancara dengan mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Hasyim Muzadi serta Ketua Majelis Syariah DPP Partai Persatuan Pembangunan Maimoen Zubair. Pemenang Konvensi calon Presiden Partai Demokrat Dahlan Iskan juga menuliskan artikel untuk tabloid tersebut.
Kini Amal tengah bersiap untuk menerbitkan 200.000 eksemplar tambahan edisi pertama. Dalam waktu dekat, akan ada edisi baru serta laman Obor Rahmatan Lil'alamin.


Penulis: Laksono Hari Wiwoho
Editor : Fidel Ali Permana

KOMPAS.comRabu, 25 Juni 2014 | 19:26 WIB

Sumbangan Relawan Tembus Rp 57 Miliar, Jokowi Geleng-geleng





PALEMBANG, Calon presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku senang sekaligus terkejut saat mengetahui sumbangan masyarakat yang masuk ke rekeningnya telah tembus Rp 57 miliar. Menurut Jokowi, besarnya sumbangan itu merupakan bukti tingginya harapan masyarakat atas kepemimpinannya.

"Uang yang masuk ke rekening kita sampe Rp 57 miliar, enggak tahu dari mana, saya sampai geleng-geleng," kata Jokowi, dalam acara deklarasi relawan se-Sumatera Selatan, di Posko Induk, Jalan Tanjung Api-Api, Kota Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (25/6/2014).
Jokowi menyebutkan, semua sumbangan itu masuk ke dalam rekening yang sengaja dibuka untuk menampung sumbangan dari masyarakat.

Ada tiga rekening yang dibuka khusus untuk sumbangan gotong royong pemenangan Joko Widodo-Jusuf Kalla: BRI nomor 122301000172309 a.n. Joko Widodo/Jusuf Kalla, Mandiri nomor 070-00-0909096-5 a.n. Joko Widodo/Jusuf Kalla, dan BCA nomor 5015.500015 a.n. Joko Widodo/Jusuf Kalla.

"Ada yang nyumbang Rp 10.000 kita terima, Rp 100.000 kita terima, Rp 2 miliar kita terima, Rp 500 juta kita terima. Saya kadang enggak enak, tapi wong sudah masuk ke rekening ya mau gimana," pungkasnya.


Penulis: Indra Akuntono
Editor : Fidel Ali Permana

KOMPAS.com — Rabu, 25 Juni 2014 | 18:39 WIB

JK: Tak Perlu Persiapan Khusus untuk Debat Cawapres

Calon wakil presiden Jusuf Kalla


TASIKMALAYA,  Calon wakil presiden nomor urut dua Jusuf Kalla alias JK, mengaku tak perlu persiapan khusus untuk menghadapi debat cawapres beberapa hari lagi. Ia pun telah siap untuk menghadapi debat cawapres perdananya tersebut.

"Tak perlu persiapan, nanti tinggal debat saja," kata JK kepada wartawan seusai berkunjung ke Pondok Pesantren Suryalaya, Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya, Rabu (25/6/2014) siang.

JK mengatakan, dirinya siap untuk menghadapi debat yang akan digelar akhir pekan ini.

"Siap saja, nanti bisa dilihat," kata JK.

Sebelumnya diberitakan, JK berkunjung untuk berziarah ke makam Abah Anom, salah satu pimpinan pondok pesantren tersebut. Tujuan kedatangannya pun untuk bersilaturahim bersama para kiai dan pimpinan pesantren tersebut.

Setelah mengunjungi Pesantren Suryalaya, JK bersama rombongan langsung bertolak menggunakan helikopter ke Garut. Rencananya ia akan menghadiri sebuah acara deklarasi di Kota Dodol tersebut. Setelah Garut, JK pun berencana akan langsung melanjutkan perjalanannya ke Kota Bandung.


Penulis: Kontributor Ciamis, Irwan Nugraha
Editor : Caroline Damanik

KOMPAS.com —Rabu, 25 Juni 2014 | 15:02 WIB

Lola Amaria: Jokowi Sudah Terbukti Bekerja

Lola Amaria (kedua dari kiri)


JAKARTA, Bagi artis peran, sutradara, dan produser film Lola Amaria (36), calon presiden dan calon wakil presiden Jokowi (Joko Widodo) dan JK (Muhammad Jusuf Kalla) lebih mengena untuk memimpin negeri ini. Lola menilai pasangan tersebut sudah terbukti bekerja.

"Track record jelas dua-duanya, untuk memimpin punya kapasitas, semenjak jadi wali kota, gubernur sampai jadi calon presiden. Bukan berarti yang satunya lagi enggak bagus ya. Tapi, kalau di-compare, Jokowi beberapa kali menjabat dan hasilnya ada," kata Lola dalam wawancara di Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI), Jakarta Selatan, Selasa (24/6/2014).

Meski Jokowi belum lama menjalankan tugasnya sebagai Gubernur DKI Jakarta, yaitu sejak 2012, Lola mengaku merasakan perbaikan di Jakarta.

"Kemarin di ulang tahun Jakarta, HI (Bundaran Hotel Indonesia) sampai ditutup. Belum pernah ada kan selama ini. Pembantu saya juga laporan, katanya enak, gratis berobat di puskesmas, bener terjadi. Dia yang kalangan bawah bilang gratis, berarti kan bener programnya jalan," lanjut sutradara film Sanubari Jakarta ini.

Lola juga menilai bahwa pasangan peserta nomor urut 2 dalam Pemilu Presiden tersebut bisa memberi kebebasan berekspresi.

"Saya melihat pasangan nomor 2 lebih menghargai kebebasan, suku, agama, ras. Saya memilih presiden yang menghargai hal itu, karena di dunia film angkat tema apa pun butuh kebebasan," ujar Lola.


Penulis: Ichsan Suhendra
Editor : Ati Kamil

KOMPAS.com -- Rabu, 25 Juni 2014 | 15:59 WIB

Kamis, Relawan Jokowi Berkumpul Nyatakan Lawan Politik Uang

31 Komunitas Relawan Jokowi



JAKARTA, Seluruh elemen relawan capres Joko Widodo berkumpul menjadi satuan tugas (satgas) anti-kecurangan dan politik uang, dalam acara akbar yang akan digelar di Parkir Timur Senayan, Jakarta, Kamis (26/6/2014) pukul 14.00. Satgas ini juga dibentuk sebagai upaya memenangkan Jokowi pada Pilpres 2014.

"Seluruh elemen relawan akan hadir. Kini relawan memasuki tahap memastikan dukungan dan mengamankan perolehan suara. Untuk kecurangan dan politik uang, hanya satu kata, lawan!" tegas humas pertemuan akbar relawan, Eko Sulistyo, di Jakarta, melalui siaran pers, Selasa (24/6/2014).

Selain itu, Ketua Panitia Viktor Sirait mengatakan, relawan yang akan hadir tak kurang dari 10.000 orang. "Pengabdian Relawan Jokowi bagi negeri ini segera mencapai puncak, maka harus diamankan," ujar Victor, yang juga Bendahara Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP). Viktor juga mengajak para relawan yang merasa belum diundang untuk datang ke acara tersebut.

Sementara itu, menurut koordinator Pro Jokowi, Budi Arie Setiadi, pertemuan ini juga dilakukan dalam rangka gerakan relawan yang bersatu memenangkan Jokowi. "Konsolidasi terus. Seluruh relawan harus bersatu padu untuk memenangkan Jokowi," ujar Budi saat dihubungi.

Dalam perhelatan akbar ini, Jokowi akan memberi kentungan kepada semua relawan sebagai simbol berjaga-jaga dan waspada mengamankan aspirasi rakyat. Relawan yang terlibat antara lain Seknas Jokowi, Pro Jokowi (Projo), Kornas, RPJB, Pepdem, Almisbat, Solidaritas Merah Putih, UPC Jerami, We Love Jokowi, Pos Raya, Rumah Koalisi, Relawan Indonesia Baru, Rekandas (Relawan Kaum Tertindas), Relawan Jokowi Banten, Rumah Koalisi, Bara JP, dan banyak lagi, termasuk Relawan Jusuf Kalla.

Pertemuan ini juga melengkapi Barisan Keamanan Aspirasi Rakyat (Bakar) Kecurangan Pemilu, yang sebelum pileg lalu sudah didirikan oleh golongan pencinta perubahan dan kejujuran.


Penulis: Arimbi Ramadhiani
Editor : I Made Asdhiana

KOMPAS.com — Rabu, 25 Juni 2014 | 12:13 WIB

Jokowi Terkejut Ruhut Mau Jadi "Herder" Pelindungnya



PALEMBANG, Calon presiden Joko Widodo (Jokowi) menyambut baik pilihan Juru Bicara Partai Demokrat Ruhut Sitompul yang menyatakan mendukung Jokowi-JK pada Pemilu Presiden 2014. Namun, Jokowi mengaku terkejut jika Ruhut bersedia menjadi "herder"-nya. (Baca: Ruhut Siap Jadi "Herder" Jokowi)

Jokowi mengatakan, dukungan yang diberikan Ruhut merupakan bukti adanya perubahan dalam diri anggota Komisi III DPR tersebut. Sebelumnya, Ruhut sering mengkritik Jokowi. Kini, Ruhut berbalik mendukungnya.

"Hah? Bahaya (kalau) jadi 'herder', bagaimana sih. Tapi, dukungannya bagus, artinya ada perubahan, entah ada sesuatu atau apa," kata Jokowi, di Palembang, Selasa (24/6/2014) malam.

Sebelumnya, Ruhut resmi mendeklarasikan dukungannya kepada Jokowi-Jusuf Kalla di Jakarta, Senin (23/6/2014). Ruhut tak akan mengubah watak kerasnya yang kerap berdebat dengan pihak lain. Watak keras itu bahkan dikatakan Ruhut akan dipakainya untuk membela Jokowi dari serangan lawan.

"Kalian sudah tahu bicara debat kapan aku bisa kalah? Jujur saja saya, siapa yang saya dukung, saya siap menjadi 'herder'-nya," ujar Ruhut.

Menurut Ruhut, dirinya sejak dulu selalu diibaratkan sebagai anjing herder. Dia menceritakan, saat menjadi Ketua Bidang Luar Negeri KNPI, dia menjadi "herder" yang bertugas menjaga Ketua Umum KNPI saat itu, Tjahjo Kumolo, dari serangan.

"Saat masuk Demokrat, saya jadi 'herder'-nya Pak SBY," katanya.

Ruhut mengaku tak akan takut menghadapi anggota tim sukses Prabowo-Hatta, seperti Fahri Hamzah dan Fadli Zon, yang kerap memberikan pernyataan pedas. Dia menilai, sejak awal, dirinya tidak pernah kalah dalam berdebat.


Penulis: Indra Akuntono
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary

KOMPAS.com — Rabu, 25 Juni 2014 | 09:02 WIB

Kisah Survei Palsu di CNN yang Menangkan Prabowo

Artikel iReport (kanan) di CNN menyadur artikel Gallup (kiri) yang ditulis oleh Lydia Saad pada 16 Juni 2008




Selasa (24/6/2014) malam, ruang-ruang di media sosial riuh. Sebuah link yang mengarah pada situs berita CNN mengabarkan soal survei yang memenangkan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa atas pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla.
Judul tulisannya, “Indonesia Predict Prabowo Will Be Next Indonesian President”. Tulisan itu menyebut, survei dilakukan oleh Gallup Indonesia. Hasilnya, 52 persen masyarakat Indonesia memperkirakan Prabowo akan menang, sementara yang memilih Jokowi 41 persen. Disebutkan,survei Gallup Indonesia dilakukan pada 10 -21 Juni.
Gallup adalah lembaga survei kredibel di AS. Galup selalu menjadi rujukan dalam setiap pemilihan umum di negeri itu. Survei Gallup ini berbeda dengan mayoritas hasil survei sejumlah lembaga survei di Indonesia yang diterbitkan di bulan Juni.

Survei Lingkaran Survei Indonesia yang dipublikasikan 15 Juni, misalnya, mendapatkan bahwa Prabowo-Hatta meraih dukungan 38,7 persen, sementara Jokowi-JK mendapatkan 45 persen, serta suara mengambangg 14,4 persen.

Hasil survei lain yang dilakukan Populi Center, dipublikasikan pada 4 Juni menyebutkan, Prabowo-Hatta mengumpulkan 36,9 persen, sedangkan Jokowi-JK sebesar 47,5 persen, dan suara mengambang 14,4 persen.

Survei Litbang Harian Kompas yang dipublikasikan pada 21 Juni juga mendapatkan hasil yang tak jauh berbeda. Prabowo-Hata meraih dukungan 35,3 persen suara, Jokowi-Jk 42,3 persen, dan suara mengambang 22,4 persen.

Wakil Ketua Umum Parta Gerindra Fadli Zon menunjukkan ketidaksukaannya terhadap hasil survei yang memenangkan Jokowi. Ia bahkan menuding itu merupakan hasil survei bayaran.

Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas Budiman Tanuredjo membantah survei yang dilakukan Litbang Kompas adalah survei bayaran. Menurut Budiman, tudingan itu melecehkan kredibilitas dan kerja-kerja intelektual tim litbang Kompas.

Survei Palsu
Tulisan yang diunggah di laman CNN itu sepertinya menggembirakan bagi para pendukung Prabowo. Pius Lustrilanang mewartakan hasil survei itu di laman Facebook. "Good news," tulis dia di didinding status Facebooknya.

Pius adalah mantan aktivis 98 yang pernah diculik oleh tim mawar bentukan Prabowo. Ia "berdamai" dengan Prabowo dan menjadi politisi Partai Gerindra.

Warga media sosial kemudian mendapati ternyata survei itu adalah survei palsu. Tulisan di laman CNN itu bahkan tulisan palsu. Tulisan itu adalah gubahan atas artikel Lydia Saad yang yang pernah diterbitkan gallup pada 16 Juni 2008. Si penggubah tulisan kurang jeli. Pada salah satu bagian masih tertera kata Obama.

Pula sesungguhnya, tulisan survei Gallup palsu itu bukanlah artikel atau laporan yang diterbitkan CNN melainkan tulisan yang ditulis oleh pembaca. Tulisan itu diunggah di laman iReport. Laman ini adalah laman yang disediakan CNN bagi audiensnya yang ingin berkontribusi menyampaikan informasi.

iReport mirip dengan Kompasiana di Indonesia. Kompasiana adalah sosial blog yang dikelola oleh kompas.com. Tulisan-tulisan yang diunggah di Kompasiana diposting oleh pembaca.

Tak lama setelah tulisan itu beredar, CNN kemudian mencabutnya. Kalau kita mengunjungi link artikel itu maka kita akan menemukan pengumuman ini, "This iReport has been removed because it was flagged by the community and found to be in violation of the iReport Community Guidelines and Terms of Use."


Editor : Heru Margianto

KOMPAS.com - Rabu, 25 Juni 2014 | 08:16 WIB

Iwa K: Dua Kali Tidak Golput karena Jokowi

Iwa K sesudah tampil dalam Konser Kebangsaan: Jejak Sang Pemimpin, di TIM, Jakarta, Senin (23/6/2014) malam.


JAKARTA, Dua kali Joko Widodo atau Jokowi mencalonkan diri menjadi pemimpin, yaitu pada Pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada 2012 dan Pemilihan Presiden periode 2014-2019 pada 9 Juli mendatang, dua kali pula rapper Iwa K tidak menjadi warga golput (golongan putih alias mereka yang tak menggunakan hak pilih).

"Sebenarnya, kalau boleh jujur, gue itu golput sampai akhirnya Pemilihan Gubernbur (DKI Jakarta) kemarin," kata Iwa setelah tampil dalam Konser Kebangsaan: Jejak Sang Pemimpin, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Senin (23/6/2014) malam.

Iwa memiliki alasan untuk menyalurkan suaranya ke Jokowi. Menurut Iwa, kesederhanaan dan kecerdasan seorang Jokowi merupakan modal penting seorang pemimpin.

"Ya, seperti yang banyak kita lihat, memang enggak banyak yang ditongolin di TV, tapi beliau memang sederhana dan pintar. Buat apa kalau sederhana tapi enggak smart," kata Iwa lagi.

Selain itu, Iwa menilai Jokowi, sebagai calon presiden, juga tepat memilih Muhammad Jusuf Kalla atau JK menjadi calon wakil presiden.

"Buat Pak JK, ini (kelebihannya) kayak masalah HAM di Poso, beliau cepat sekali menanggapinya," terang Iwa.

"Buat gue, ini (pasangan Jokowi-JK) perpaduan yang menarik, perpaduan yang saling mengisi," ujar duda dengan satu anak ini.



Penulis : Irfan Maullana
Editor : Ati Kamil
KOMPAS.com --   Rabu, 25 Juni 2014 | 08:05 WIB

Jokowi: Tarawih Harus Nomor Satu



PALEMBANG, Calon presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyesuaikan waktu debat antar kandidat selama bulan Suci Ramadhan. Menurut Jokowi, sebaiknya debat digelar setelah menunaikan ibadah shalat tarawih.

"Debatnya nanti mestinya sehabis tarawih. Entah jam sembilan, atau setengah sembilan," kata Jokowi, di Palembang, Selasa (24/6/2014) malam.

Penyesuaian waktu debat selama Ramadhan, kata Jokowi, sudah sangat tepat. Selain itu, konsentrasi masyarakat juga tak akan terbelah antara menjalankan shalat tarawih atau menyaksikan siaran debat melalui media elektronik.

"Jadi tarawih tetap nomor satu, tapi kalau presiden nomor dua," ujarnya.

Seperti diketahui, debat antarkandidat selalu digelar mulai pukul 20.00 WIB. Tim Pemenangan Joko Widodo-Jusuf Kalla mengimbau agar waktu pelaksanaan debat putaran keempat, Minggu (29/6/2014), diundur untuk menghormati umat Muslim yang akan melaksanakan shalat tarawih.

"Ikhtiar untuk mencermati visi misi capres dalam debat harus diiringi dengan sikap menghormati masyarakat untuk melaksanakan ibadah," kata Juru Bicara Jokowi-JK, Anies Baswedan, dalam siaran pers di Jakarta, Selasa (24/6/2014).

Menurut Anies, debat selanjutnya jika masih dilaksanakan dengan jam waktu yang sama akan berbarengan dengan waktu pelaksanaan shalat tarawih. Akan sangat ideal jika selama bulan Ramadhan umat Muslim dapat melaksanakan ibadah shalat tarawih tepat waktu. "Kami mengimbau kepada KPU untuk mengundur jam pelaksanaan debat agar umat Muslim dapat melaksanakan shalat tarawih terlebih dahulu," saran Anies.


Belum diputuskan KPU

Komisioner Komisi Pemilihan Umum Arief Budiman mengatakan akan membicarakan mekanisme jalannya debat selama bulan Ramadhan dengan tim kampanye capres dan media tuan rumah pelaksana. Ia juga akan membahas terkait adanya kemungkinan perubahan jam tayang debat capres yang bertepatan dengan shalat tarawih.

"Belum kita putuskan (mekanisme debat selama bulan Ramadhan), nanti kami akan berbicara dengan tim kampanye. Kami juga akan berbicara dengan tim media yang akan menyiarkan," ujar Arief di kantor KPU Pusat, Jakarta, Selasa (24/6/2014).
Arief membenarkan bahwa debat capres putaran keempat pada Minggu (29/6/2014) nanti menjadi pertimbangan karena bertepatan dengan bulan Ramadhan.



Penulis: Indra Akuntono
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary

KOMPAS.com - Rabu, 25 Juni 2014 | 07:40 WIB

Slamet Rahardjo: Jokowi, Sosok yang Dinanti Selama Ini



YOGYAKARTA,  Aktor senior Indonesia Slamet Rahardjo berpendapat Joko Widodo merupakan sosok yang selama ini dinantikan seluruh rakyat Indonesia. Menurut dia, Jokowi merupakan pribadi yang tak banyak bicara tetapi menyodorkan fakta langsung turun bekerja untuk rakyat.

"Kita tidak bisa lagi tidak berpihak, kebetulan pemikiran serta gayanya Jokowi orang yang suka bekerja dan memberi fakta, kalau ngomong ya dijalani. Sosok ini yang selama ini belum ketemu," ujar Slamet usai orasi di depan ribuan relawan non-partai Jokowi-JK di Alun-alun Utara, Yogyakarta, Selasa (24/6/2014).

"Dia (Jokowi) itu berani ngomong tapi ya menjalankan, bukan seperti yang lain hanya ngomong-ngomong doang," kata Slamat. Selain punya bukti, ujar dia, mantan Wali Kota Solo itu pun tak pernah meminta-minta. Justru, menurut dia rakyat yang meminta Jokowi menjadi presiden.

Slamet mengaku datang ke deklarasi ini sebagai pernyataan sikapnya sebagai seniman, warga negara, dan orang yang ingin memberikan sesuatu untuk bangsa. "Slamet Rahardjo dibayar? Sapa sing arep mbayar aku? Wani pira? Slamet tidak bisa dibayar karena Slamet orang Yogya. Presidenku Jokowi," papar dia.

Deklarasi ini uga dihadiri seniman senior Yogyakarta, seperti pelukis Joko Pekik, Djaduk Ferianto, Butet Kartaredjasa, dan vokalis Jogja Hip Hop Foundation Marjuki.


Penulis: Kontributor Yogyakarta, Wijaya Kusuma
Editor : Palupi Annisa Auliani

KOMPAS.com - Rabu, 25 Juni 2014 | 05:39 WIB

Tuesday, June 24, 2014

Tiga Politisi Golkar Dipecat, Ini Komentar Jokowi

JokoWi saat berkampanye di Pasar Angso Duo, Jambi, Selasa (24/6/2014)


PALEMBANG, Calon presiden Joko Widodo (Jokowi) tak mau mencampuri terlalu jauh pemecatan tiga politisi Golkar karena memberikan dukungan kepadanya dan Jusuf Kalla. Ia mengatakan, hal itu merupakan urusan internal Golkar.

"Itu urusan internal Golkar, dan saya menghargai apa pun keputusan yang ada," kata Jokowi, dalam perjalanan dari Jambi menuju Palembang, Selasa (24/6/2014) malam.

Menurut Jokowi, seharusnya Golkar tak perlu menjatuhkan sanksi hingga pemecatan terhadap tiga kadernya, yaitu Nusron Wahid, Agus Gumiwang, dan Poempida Hidayatullah. Pilihan ketiganya memberikan dukungan kepada Jusuf Kalla juga sama dengan memberi dukungan pada politisi Golkar.

"Mestinya yang di Golkar milih yang mantan ketua umumnya dong. Masa milih yang enggak ada hubungannya gitu," ujarnya.

Mengenai adanya peluang ketiga kader Golkar yang dipecat itu berlabuh ke partainya, PDI Perjuangan, Jokowi belum dapat memastikannya. Tetapi, ia merasa memiliki hubungan baik dengan ketiganya dan yakin ada alasan serta tujuan jelas di balik pemberian dukungan politik kepadanya.

"Nanti kita ketemu dulu dengan ketiganya. Tapi saya kira keputusan mereka itu pasti ada alasannya, yang saya dengar memang ingin mendukung Pak Jusuf Kalla," kata Jokowi.

Sebelumnya, Partai Golkar secara resmi memecat tiga kadernya karena mendukung pasangan Jokowi-Jusuf Kalla. Ketiganya adalah anggota fraksi Partai Golkar DPR RI, yakni Nusron Wahid, Agus Gumiwang, dan Poempida Hidayatullah. Dalam pilpres kali, Golkar masuk dalam barisan partai koalisi yang mengusung capres-cawapres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.


Penulis: Indra Akuntono
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary

KOMPAS.com —  Selasa, 24 Juni 2014 | 22:22 WIB

Ratusan Kusir Delman di Kabupaten Bandung Dukung Jokowi

Ratusan kusir di Kab. Bandung deklarasikan dukungan Jokowi-JK, (24/6/2014)


BANDUNG, Tak kurang dari 120 delman yang parkir di depan lapangan Katapang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, menggelar deklarasi dukungan terhadap capres-cawapres nomor urut 2, Jokowi-JK. Acara deklarasi digelar di di Jalan Raya Soreang-Bandung, Selasa (26/6/2014) sehingga membuat kawasan itu macet.

Berdasarkan pantauan Kompas.com, ratusan kusir delman yang tergabung dalam Laskar Jokowi-JK dan Paguyuban Kusir Delman di Kabupaten Bandung itu menghiasi delman-delman mereka dengan bendera dan pernak-pernik wajah Jokowi-JK.

Selain itu, mereka juga bergembira ria berjoget dengan diiringi alunan musik dangdut dari organ tunggal.

Perwakilan Paguyuban Kusir Delman Kabupaten Bandung, Deni Hartono mengatakan, deklarasi dukungan untuk Jokowi-JK tersebut adalah bentuk penyampaian harapan dari para kusir delman yang tidak ingin alat transportasi tradisional itu hilang dari Indonesia.

"Kami yakin pak Jokowi dan pak Jusuf Kalla akan bisa menyejahterakan kami dan mempertahankan delman sebagai alat transportasi tradisional," kata Deni seusai deklarasi, Selasa sore.

Selain kusir delman, lanjut Deni, dukungan juga mengalir dari ratusan sopir angkot dan tukang ojek yang ada di Kabupaten Bandung.

Di tempat yang sama, Panglima Laskar Jokowi-JK Indonesia, Dodi Permana, menambahkan, sosok Jokowi yang lahir dari rakyat biasa seperti halnya kusir delman. Jokowi diyakini bisa melestarikan keberadaan delman yang saat ini mulai terkikis oleh alat transportasi modern.

"Delman ini kan asli Kabupaten Bandung tapi sudah mulai terkikis, jadi harus dipertahankan," ujar Dodi.

Dengan dukungan dari para kusir delman itu, Dodi yakin pasangan Capres Cawapres Jokowi-JK bisa mendapatkan suara mayoritas di Kabupaten Bandung.

"Mereka siap bergerilya untuk memenangkan Jokowi-JK di Kabupaten Bandung dan saya optimistis bisa dapat 60 persen di Kabupaten Bandung," tuturnya.


Penulis: Kontributor Bandung, Putra Prima Perdana
Editor : Farid Assifa

KOMPAS.com - TSelasa, 24 Juni 2014 | 20:52 WIB

Timses Jokowi-JK Optimistis Kantongi 70 Persen Suara di Bengkulu




BENGKULU, Wakil Ketua Tim Pemenangan Joko Widodo-Jusuf Kalla, Rio Capella,  mengklaim 70 persen suara rakyat di Provinsi Bengkulu akan diberikan untuk pasangan nomor urut dua tersebut. Hal itu disampaikannya dalam kampanye yang dihadiri oleh calon wapres Jusuf Kalla.

"Pak JK, dari seluruh wilayah Bengkulu, 70 persen lebih masyarakat akan mendukung pasangan nomor urut dua," kata Rio, diiringi tepuk tangan ribuan orang yang menghadiri kampanye, di Taman Budaya, Bengkulu, Selasa (24/6/2014).

Menurut Rio, dukungan besar akan diperoleh Jokowi-JK karena keduanya dianggap sederhana, layak, dan cakap serta mau mendengarkan keluhan rakyat.

"Dari dua pasangan capres yang mau mendengar rakyat, berjuang untuk rakyat hanya pasangan Jokowi-JK yang mampu melakukan itu, pasangan ini sungguh-sungguh mau bekerja dan tak hanya bisa pidato, tetapi pemimpin yang mau bekerja untuk rakyat," kata politisi Nasdem tersebut.

Rio mengatakan, angka 70 persen tak sulit diraih Jokowi-JK dan akan dibuktikan pda 9 Juli 2014 mendatang.

Penulis: Kontributor Bengkulu, Firmansyah
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary

KOMPAS.com - Selasa, 24 Juni 2014 | 20:10 WIB

Tim Jokowi: Paparan Wiranto soal DKP Faktual dan Sesuai Konstitusi




JAKARTA,  Juru bicara tim kampanye Joko Widodo-Jusuf Kalla, Hasto Kristiyanto, menyatakan bahwa mantan Panglima ABRI Jenderal TNI (Purn) Wiranto tidak bersalah saat mengomentari surat keputusan Dewan Kehormatan Perwira (DKP) tentang rekomendasi pemberhentian Prabowo Subianto dari ABRI. Menurut Hasto, pernyataan Wiranto telah sesuai fakta dan konstitusi.

"Apa yang disampaikan oleh Pak Wiranto adalah hal-hal yang normatif dan faktual. Oleh karena itu, jika ada yang bereaksi negatif terhadap apa yang disampaikan Pak Wiranto, ya sebaiknya baca ulang konstitusi kita," kata Hasto melalui siaran pers, Selasa (24/6/2014).

Hasto menyatakan tidak ada yang keliru dari aksi buka-bukaan Wiranto karena keputusan DKP bukanlah sesuatu yang bersifat rahasia. Sikap Wiranto itu merupakan bagian dari tekad untuk menegaskan agar presiden terpilih nantinya benar-benar sesuai dengan amanat konstitusi.

"Salah satu perintah konstitusi terkait dengan persyaratan calon presiden adalah tidak pernah melakukan perbuatan tercela. Presiden terpilih nantinya harus mampu melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia. Tindakan menginstruksikan penculikan pada warga negara sendiri, selain melanggar konstitusi juga tidak sejalan dengan tujuan melindungi segenap bangsa," ujar Hasto.
Sebelumnya, tim advokasi pasangan calon presiden Prabowo Subianto-Hatta Rajasa melaporkan Wiranto ke Badan Pengawas Pemilu karena ia dianggap menyampaikan kampanye hitam.
Hari ini Wiranto memenuhi panggilan Bawaslu. Ia menantang Prabowo untuk membantah pernyataannya jika memang merasa apa yang disampaikannya adalah kebohongan. Dalam pernyataan sebelumnya, Wiranto menyebut Prabowo terlibat kasus penculikan aktivis atas inisiatif sendiri saat masih menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat pada 1998.


Penulis: Ihsanuddin
Editor : Laksono Hari Wiwoho
KOMPAS.com - Selasa, 24 Juni 2014 | 19:33 WIB

Timses Jokowi Yakin Raup Pemilih Mengambang di Kalimantan, Jawa, dan Sumatera




JAKARTA, Anggota tim pemenangan pasangan calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla, Arief Budimanta menyatakan keyakinannya untuk merebut suara pemilih mengambang yang belum menetapkan pilihannya. Pemilih itu akan direbut terutama dari wilayah di Kalimantan, Jawa dan Sumatera.
"Dengan perkembangan sekarang ini, suara dari undecided voters (pemilih yang belum memutuskan dukungan), kami yakin pada hari-H pemilu nanti akan memilih Jokowi-JK," ujar Arief dalam rilis survei “Elektabilitas Capres dan Cawapres: Membaca Perilaku Pemilih” di Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (24/6/2014).
Arief mengatakan, kampanye tidak hanya akan dilakukan Jokowi dan Kalla, melainkan juga pengurus partai pengusung pasangan calon itu, yaitu Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan, Partai Nasdem, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Hanura dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI).
Dalam kesempatan itu, Arief menjabarkan, di Jawa misalnya, provinsi Jawa Barat merupakan kantong suara Jokowi-JK, sedangkan di Sumatera, kantong suara Jokowi-JK dipercaya ada di Sumatera Utara dan Lampung.
Sebelumnya, Political Communication (PolcoMM) Institute merilis survei, elektabilitas Jokowi-Jusuf Kalla 46,4 persen. Sedangkan elektabilitas Prabowo-Hatta Rajasa 43,3 persen. Adapun, sisanya 10,3 persen responden, belum menetapkan pilihannya.
Survei dilakukan di 33 provinsi pada 16 hingga 20 Juni lalu dengan 1.200 responden. Saat survei dilakukan, debat capres baru dilakukan dua kali. Penelitian dilakukan dengan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen dan tingkat kesalahan (margin of error) sebesar 3,1 persen. Hanya 10,3 persen responden, belum menetapkan pilihannya.


Penulis: Deytri Robekka Aritonang
Editor : Fidel Ali Permana

KOMPAS.com - Selasa, 24 Juni 2014 | 19:17 WIB

Refleksi: Jokowi Sangat Layak jadi Presiden?


Jokowi Menerima Wejangan dari KH. Aziz Mansyur
Ini adalah percakapan dua insan manusia, Panjul dan saya. Panjul adalah teman saya sejak kecil. Meskipun umurnya sedikit lebih muda dari saya, kami sering main bersama, mandi di sungai Cimanuk atau berburu burung hanya untuk mencari kesenangan. Maklum saat itu jarang ‘hiburan’ dan permainan. Yang punya televisi sekampung paling cuma satu dua orang, hitam putih pula. Namun sejarah memisahkan kami ketika saya memilih sekolah di sebuah sekolah kejuruan, sedangkan dia di sekolah umum. Perpisahan pun berlanjut ketika dia melanjutkan kuliah ke sebuah perguruan tinggi, sedangkan saya harus bekerja.
‘Pertemuan’ antara kami terjadi seiring hiruk pikuk pemilihan presiden tahun ini (2014) dimana calon yang ada adalah Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK. Namun rupanya pilihan kami berbeda. Latar belakang, suasana kebatinan dan pilihan politik masing-masing menghasilkan pilihan yang berbeda. Dia lebih memilih nomor 1, sedangkan saya memilih nomor 2. Hal ini pun semakin diperjelas dari status, share, dan like yang dia lakukan di akun facebook miliknya. Sebenarnya saya tidak pernah sekali pun meladeni aktivitas dia di facebook yang berkaitan dengan Pilpres. Namun semakin hari menurut saya apa yang dia share dan like lebih mengarah ke ghibah, sumir, bahkan fitnah. “Awas lho nJul, kalau ketemu tak ladeni kamu”, pikirku.
Jokowi bersama Mbah Maemun Zubair

Saat pulang kampung saya berkesempatan bertemu dengannya. Di awal pertemuan kembali antara kami tidak terjadi percakapan yang serius, sekedar berbagi pengalaman masing-masing. Tadi malam malah kita ngobrol bersama perihal Reuni. Namun hari ini sepulang dari warung jalan kaki menuju rumah, saya mendapati dia sedang asyik duduk di pos kamling sambil asyik mainin HP miliknya. “Mmmh, sepertinya dia sedang asyik bersosial-media”, pikir saya. Saya hampiri dia sembari menyapa.
“Assalamu’alaikum nJul! Kumaha damang?” tegur saya sambil menyodorkan jabat tangan.
“Wa’alaikum salam Kang. Alhamdulillah sae” jawabnya sembari menjabat tangan saya dan melihat saya dari atas-bawah. “Bagaimana rencana reunian yang kita bicarakan tadi malam”, tanyanya kepada saya.
“Masih nunggu respon teman-teman yang lain” jawab saya. “Kamu mesti lagi fesbukan ya?”
“Iya kang. ‘Kan kita harus aktif menyampaikan kebenaran”, ujarnya dengan semangat.
Wah ini mesti arahnya ke Pilpres. Niatan untuk langsung menuju rumah pun saya urungkan. Ini mungkin kesempatan saya meladeni si Panjul.
“Wah kebetulan nih nJul. Bagaimana kalau kita diskusi masalah Pilpres. Kamu kan sudah memantapkan pilihan untuk nomor 1″ ajak saya sembari duduk di samping Panjul. Pos kamling ini terlihat sudah sangat tua dibandingkan dengan saat dulu saya dan Panjul kecil sering bermain di dalamnya.
“Ayo kang. Saya sangat senang berdiskusi. Saya mantap pilih nomor 1. Akang juga kan?”, ujar Panjul sambil memasukan HP nya ke saku.
Rupanya dia belum tahu pilihan saya. Maklum, saya tidak pernah posting apa pun terkait Pilpres. Apalagi share dan like link-link yang berkaitan dengan pilihan saya. Tadi malam saya update profile “I stand on the right side“. Namun sepertinya dia belum menyadari hal tersebut.
“Sebenarnya nomor 1 itu baik nJul, tapi saya lebih memilih nomor 2″ ujar saya sedikit berdiplomasi. Muka saya anggukan menunjukan ke gambar Jokowi-JK yang menempel di dinding pos kamling di sisi sebelah Panjul duduk.
Nampak air muka Panjul sedikit menggambarkan kekecewaan. “Kenapa kang? ‘kan sebagai seorang muslim kita wajib memilih nomor 1. Ada bahkan ulama yang mengharamkan memilih nomor 2 lho kang”
“Ya itu lah nJul, kita sering berpegangan kepada aturan yang sama, dalil yang sama, tetapi hasil akhir sering kali berbeda”, timpal saya. “Ayo kita bahas saja point-point nya saja. Bagaimana kalau kamu yang mulai menjelaskan kepada saya kenapa memilih nomor 1″, tantang saya.
“Sebenarnya nomor 1 dan nomor 2 itu tidak ada yang ideal ya kang”, ujarnya memulai diskusi. “Tapi karena harus memilih di antara dua, ya saya pilih nomor 1″
“Sama dengan saya nJul. Jadi di point ini kita sepakat ya”, timpal saya.
“Saya pilih Prabowo karena Jokowi tidak layak jadi Presiden Kang. Pertama, Jokowi itu tidak amanah. Dia melanggar sumpah jabatan. Belum menyelesaikan jabatan di Solo sudah jadi Gubernur. Terus belum selesai Gubernur sudah nyapres. Kalau sudah jadi Presiden apa nanti dia akan nyalon jadi sekjen PBB gitu? Ini kan tidak benar. Bahaya Kang kalau pemimpin seperti dia.”
“Masak sih?” kata saya sambil nyengir. “Yang bawa Jokowi ke Jakarta siapa? Prabowo kan? Seharusnya kan kamu pertanyakan juga sikap Prabowo”
Panjul diam seperti sedang berpikir untuk menyikapi pernyataan saya.
“Prabowo jelas melanggar sumpah ‘jabatan’ makanya PRABOWO DIBERHENTIKAN DARI MILITER. Kalau kamu pertanyakan sikap Jokowi yang terus promosi, bagaimana dengan Hatta Rajasa yang belum selesai menjabat menteri sudah nyawapres? Jika kamu tidak pilih nomor 2 karena Jokowi tidak amanah, maka kamu juga jangan pilih Nomor 1″ tambah saya lagi.
“Kamu partisan partai apa?” saya beranikan diri bertanya pilihan partai Panjul
“Pojok kanan atas kang” jawab Panjul
“Oh sama dengan saya. Pemilu 2009 saya partisan itu”, tambah saya. “Nah kamu tahu tidak partai tersebut mencalonkan 3 orang; 1 orang ketum parpol, 1 anggota DPR, 1 gubernur?” tanya saya
Panjul menimpali “Tahu Kang, kan yang Gubernur itu Gubernur kita sekarang ya?”
“Terus apa kamu mau bilang CAPRES KITA juga tidak amanah? Di sini kita harus adil. Kalau kamu permasalahkan Jokowi, maka kamu harus juga permasalahkan HATTA, AHER, HNW, dan ORANG-ORANG LAINNYA YANG TIDAK AMANAH. Bagi saya mereka semua tetap amanah, karena itu artinya menyanggupi untuk memikul amanah yg lebih besar. Tapi jika bagimu masalah, lihat lah di keduanya ada yang menurutmu tidak amanah”.
“Ya sudah, sekarang kita ke point berikutnya Kang. Jokowi itu masalahnya bukan sekedar tidak amanah, tapi Jokowi ingkar janji. Hatta dan yang dicapreskan dari partai saya tidak pernah berjanji untuk terus menjabat Kang” lanjut Panjul.
“Di mana kamu tahu janji Jokowi untuk jadi Gubernur 5 tahun?” tanya saya.
“Di sini kang  LINK
“Janjinya apa?” tanya saya lagi
“Jokowi dan Basuki komit untuk memperbaiki DKI Jakarta dalam lima tahun ini” jawab Panjul.
“Kalau saya bilang begini, Jokowi jadi presiden tapi tetap komit memperbaiki DKI Jakarta, apakah itu melanggar janji?”
“Ya iya atuh Kang!” kata Panjul.
“Yang dia janjikan kan komitmen 5 tahun, bukan Gubernur 5 tahun” timpal saya.
“Ya sama saja Kang. Dia kan juga nyebut gak mikir copras-capres, fokus ngurus rusun, MRT, jeung sajabana”
“Itulah perlunya Khusnudzon atas pernyataan orang. Secara tekstual kata dan kalimat tidak ada yang salah dengan ucapan Jokowi. Dia tidak berjanji jadi Gubernur 5 tahun kok. Kita tahu kok JOKOWI TIDAK KOMIT JADI GUBERNUR 5 TAHUN, meskipun dia komit untuk membangun Jakarta. Masalah copras-capres gak mikir, mungkin saat itu dia tidak tahu apa bisa nyapres apa tidak. Kan tergantung partainya juga”, ujar saya.
“Bagaimana dengan fakta bahwa Jokowi itu antek asing, aseng dan yahudi. Ada agenda asing dibalik Jokowi Kang. Saya ngeri membayangkan jika Jokowi jadi Presiden. Bisa-bisa Amrik akan lebih menguasai sumberdaya kita”. Panjul melontarkan point berikutnya.
“Fakta!?”
“Iya kang, dia kan sebelum nyapres sudah SOWAN KE DUBES-DUBES ASING
“Sepertinya kamu harus bisa membedakan fakta dan persepsi atau opini nJul” kata saya. “Jokowi bertemu dubes adalah fakta, sedangkan Jokowi antek asing adalah persepsi yang tergantung hasrat kita masing-masing.”
“Dulu waktu jadi Presiden, Megawati menjual aset-aset negara Kang. Megawati sudah menjual negara kita lho Kang”, ujar Panjul bersemangat.
“Mau tidak saya kaitkan Prabowo dengan lumpur lapindo, kasus impor sapi, atau korupsi haji?”, tanya saya
“Apa hubungannya Kang? Lumpur itu kasusnya ARB, impor sapi itu urusan mantan ketum Partai saya, korupsi haji itu kasus partai hijau. Gak ada hubungannya dengan Prabowo”, ujar Panjul
“Ya sudah, itu jawabannya. Yang dilakukan ketum partai pendukung itu urusan mereka masing-masing. Yang dilakukan megawati itu juga urusan dia, bukan urusan Jokowi. Dia sudah mencoba memberikan solusi untuk buyback aset2 yang terlanjur terjual kok. Itu yang sudah dia lakukan di Jakarta terhadap PALYJA”, balas saya. “Lagi pula kamu pakai standar ganda gitu. Kemarin kamu dukung Sri Mulyani. Katamu kebijakan tidak bisa dipidana, apalagi situasi dan kondisi memang mengharuskan Sri Mulyani melakukan bailout Bank Century. Terus saat Megawati terpaksa menjual aset karena situasi negara sedang perlu modal, kamu terus menghujat dia. Meskipun target hujatan adalah Jokowi toh?. Bukan kah itu semua atas persetujaun DPR/MPR juga? Kemana saja tuh orang-orang partai yang duduk di DPR/MPR?”.

“Tapi kalau Prabowo kan sangat anti asing Kang” Panjul berusaha menambah argumen
“Sudah nonton VIDEO yang menyatakan Prabowo pro Amrik? Di situ jelas-jelas disebut bahwa Amerika akan mendapatkan HAK-HAK KHUSUS jika Prabowo dan Gerindra menang” jelas saya lagi. “Bagi saya tidak masalah Prabowo berusaha mendapat dukungan asing sebagaimana tidak masalah juga Jokowi melakukan hal yang sama. Namun jika menurutmu itu masalah, silakan permasalahkan keduanya. Jangan cuma Jokowi yang dipermasalahkan” imbuh saya.
“Kalau Jokowi antek aseng bagaimana Kang?” timpal Panjul. “Dia itu antek aseng yang Katolik dan Protestan. Ada bukti dia itu ditunggangi oleh mereka”
“Mana buktinya” tanya saya
“Di LINK ini kang”
“Kamu jangan langsung percaya suatu berita. Tidak ada satu orang pun yang selalu benar dan selalu salah. Kita harus kritis terhadap kabar dari mana pun dan jangan langsung percaya. Cari berita pembanding sebanyak-banyaknya. Siapa tahu ada agenda politik di balik si penulis atau media yang bersangkutan. Kalau saya balikan bagaimana? Kamu tahu ‘kan konglomerat pendukung Prabowo adalah adiknya, Hashim Djojohadikusumo? Baca dulu tentang adiknya LINK1 dan LINK2. Apa boleh saya sebut Prabowo juga antek Kristen? Tidak bisa dong. Begitu pun dengan Jokowi”
“Ada lho kang bukti fotonya Jokowi itu juga antek James Riyadi di SINI, SINI dan SINI” ujar Panjul
“Memang siapa yang tidak boleh berfoto dengan James Riyadi? Di SINI banyak orang berfoto dengan James Riyadi tapi gak kita ributkan. Kabar yang sepotong jangan lantas jadi kesimpulan”
“Tapi kan yang lebih parah ada Yahudi di balik Jokowi Kang “, balas Panjul.
“nJul, kamu jangan selalu menarik ujung semua masalah umat ke Yahudi. Jika pos kamling ini roboh akan kau salahkan Yahudi juga? Lebih mudah menarik garis dari Prabowo ke Yahudi dari pada Jokowi. Ibunya Prabowo adalah keturunan Jerman-Manado. Kok bisa saat dulu itu ada keturunan Jerman di Manado, biasanya kan keturunan Belanda? Kalau pikiran konspirasi mu bermanin, tentu kamu akan langsung menghubungkan Ibunya Prabowo dengan YAHUDI DI INDONESIA. Mudah sekali. Tapi kita dilarang melakukan itu ke Prabowo. Ke Jokowi pun sama. Semua informasi yang tidak pasti itu adalah kabar dari orang fasik, yang dilarang untuk dipercaya apalagi disebar luaskan” jelas saya.
Panjul sedikit diam. Mungkin sedang mencoba mencerna penjelasan saya atau mencoba menggali isu baru.
“Kamu tentu tahu isu bahwa orang tua Jokowi adalah Cina? Percaya tidak kamu muka ndeso kayak gitu bapaknya cina? Lihat tuh mukanya HASHIM yang oriental. Mengapa tidak kamu cari informasi apakah dia keturunan cina apa bukan terus kaitkan dengan Prabowo. Bagi saya nJul, jangan lah kita mencari-cari Prabowo atau Jokowi itu keturunan cina atau apa pun leluhurnya. Kita tidak boleh rasis. Yang penting bagimu mereka seiman kan? Ya sudah” papar saya lagi.
“Ada lagi nih Kang. Jokowi itu kan Islam nya gak jelas. Wudhu saja gak tahu. Bacaan Shalatnya saja gak jelas gitu Kang?” tambah Panjul.
“Terus kamu kenapa tidak pernah cari tahu KEISLAMAN PRABOWO? Tidak ada referensi sejarah dia lekat dengan Islam. IBUNYA PRABOWO KRISTEN, ADIK PRABOWO KRISTEN. Kok kamu menutup mata akan hal itu dan malah mencari-cari masalah keIslaman Jokowi? Bagi saya, ini persepsi saya, keIslaman Jokowi dan Prabowo itu sebanding jadi tidak bisa dijadikan point keputusan memilih. Dua-duanya dari partai nasionalis, orang nasionalis, tidak dekat dengan Islam. Sekarang-sekarang saja mereka berdua terlihat agamis”.
Saya pun mencoba melanjutkan “Jokowi adalah muslim, maka dia adalah saudara kita. Saya kasihan sekali dengan Jokowi. Sampai2 dia harus membagi foto-foto shalat dan naik haji untuk menangkis isu-isu tersebut. Setelah dia membagi foto untuk mematahkan isu, terus kita sebut dia riya, pamer. Padahal kalau Jokowi mau riya, tentu harusnya foto-foto tersebut dikeluarkan dulu-dulu saat nyalon Gubernur dituding IBU JOKOWI KRISTEN oleh Rhoma Irama. Padahal kamu tahu jika seseorang menuduh saudaranya seiman kafir padahal tidak, maka kekafiran itu akan berbalik kepada dirinya”, jawab saya.
“Ya tapi itu kubunya Jokowi kan keterlaluan mempermainkan agama Kang. Masak nantang baca Quran segala”
“Lah itu salah kamu dan orang-orang yang terus menyerang keIslaman Jokowi. Dibalikin begitu saja langsung kita hujat padahal asal mula hujatan adalah dari siapa juga. Lha sekarang mana isu agamanya Jokowi kok hilang begitu saja kan? Apa mau dibilang Prabowo memang gak bisa ngaji jadi keislamannya meragukan? Kita tidak boleh seperti itu terhadap keduanya”
“Kalau ini gimana Kang, Jokowi kan produk pencitraan sejati. Dia adalah produk dari pencitraan. Jadi Gubernur dompleng mobnas esemka. Jadi Gubernur ke mana-mana bawa media yang notabene dikuasai kaum kafir dan asing” ujar Panjul.
“Benar kah demikian?” tanya saya kepada Panjul.
“Bener kang. Coba lihat berita-berita saat dia baru jadi Gubernur. Kemana-mana bawa wartawan. Ini sebenarnya produk yang sengaja dibuat. Ada grand design di belakang Jokowi. Coba baca di LINK ini Kang”
“nJul… nJul. Sepertinya kamu sudah mempercayai kabar dari orang fasik. Kalau kamu ikut menyebarkan dengan like atau share di facebook berarti juga kena penyakit hati”.
Saya melanjutkan, “Saya tidak percaya Jokowi pencitraan seperti yang orang INI sebutkan. Jokowi tidak punya media. Media mainstream yang punya siapa? TVOne dan VivaNews punya bakrie yang pro Prabowo, Trans dan Detik punya Chairul Tanjung teman dekatnya Hatta, Media Indonesia dan MetroTV punya Surya Paloh yang baru kemarin saja dukung Jokowi, Sindonews dan RCTI/MNC Group punya Hary Tanoe. Kalau saya melihat, salah wartawan sendiri kemana-mana ikut Jokowi. Tapi kalau kamu termakan kabar dari itu ya itu salahmu sendiri”.
Saya pun coba sedikit membalikan, “Terus Prabowo beriklan selama 6 tahun untuk jadi presiden itu bukan pencitraan? Jelas-jelas dia bayar media demi citra dirinya itu gitu. Terus masalah PEMBEBASAN WILFRIDA, apakah Prabowo bukan pencitraan menurutmu? Bagi saya Jokowi dan Prabowo tidak melakukan pencitraan. Kita saja yang terlalu suudzon terhadap salah satu atau keduanya. Kalau kamu permasalahkan pencitraan Jokowi, maka permasalahkan juga dong Prabowo”
“OK Kang, kita lewati point tersebut. Sekarang kita lihat, di belakang Jokowi ada Yahudi dan Syi’ah lho kang. Saya khawatir kepentingan non Muslim akan diprioritaskan. Terlebih JASMEV sudah menyebutkan bahwa jika Jokowi berkuasa, ISLAM TIDAK AKAN DIBERI RUANG“.
“nJul, tidak perlu ke Yahudi lagi ah. ‘Kan sudah saya sebutkan bahwa Prabowo lebih mudah ditarik-tarik ke Yahudi, baik melalui keturunannya maupun rekan KONGLOMERATNYA, ataupun KADERNYA. Tapi kan itu semua kabar fasik. Saya tidak yakin ada Yahudi di belakang Prabowo. Kita harus teliti dulu berita-berita seperti itu, baik tudingan ke kubu Prabowo maupun Jokowi” ujar saya.
“Terus yang SYI’AH DI BELAKANG JOKOWI gimana Kang?”
“Kamu sudah mulai pakai bahasa propaganda itu nJul. Saya yakin Jokkowi tidak tahu menahu kalau orang-orang Syi’ah mendukung dia. Saya baca di koran bahwa Jemaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) mendukung Jokowi. Terus jika IJABI dukung Prabowo, apakah Prabowo akan menolak? Tentu tidak. Prabowo jelas-jelas pejuang bhineka tunggal ika dan buktinya PRABOWO SANGAT MENDUKUNG AHOK sebagai pemimpin di Jakarta. PRABOWO akan melindungi Syi’ah dan Ahmadiyah kok. Keduanya, Prabowo dan Jokowi tidak akan menolak siapa pun yang mendukung, apakah katolik, protestan, budha, hindu, syi’ah atau ahmadiyah. Respon Jokowi dan Prabowo itu sama dalam isu ini. Apakah boleh kita mengkampanyekan ada agenda kristen di balik Prabowo karena Hashim adalah juga dedengkot kristen? Tentu tidak bisa. Begitu pun dengan Jokowi”
Sejenak saya diam dan menarik nafas sebelum melanjutkan. “Mengenai Jasmev, menurut saya itu adalah fitnah. Boleh kita membenci Jasmev, tapi kita tetap harus berlaku adil terhadap mereka. Saya tidak suka Jasmev karena profil komandan dan penggiatnya. Tapi tidak lantas kita boleh berbuat tidak adil terhadap mereka. Akun jasmev yang benar bukan @JasmevNew2014, melainkan @Jasmev2014. Apa boleh kita memfitnah orang lain karena dia tidak segolongan dengan kita? Siapa pun yang telah melakukan itu, maka dia telah melakukan fitnah yang sangat keji terhadap Jasmev.”
“Tapi saya masih tetap ragu dengan Jokowi Kang. Bagaimana dengan ‘Jokowi adalah boneka partai‘ Kang? Saya tidak ingin dipimpin oleh Presiden Boneka” taya Panjul.
“Dari mana kamu dapat istilah tidak patut seperti itu? Bukankah kita diajarkan berbuat baik dan berlaku adil meskipun kepada orang yang kita benci?” saya tidak kuasa menahan ketidaksukaan saya terhadap ucapan Panjul.
Prabowo yang sebut CAPRES BONEKA” jawab Panjul.
Oh, pantes capres mu saja tidak bisa menjaga ucapannya. Pendukungnya pun ikut-ikutan seperti INI dan INI, gumam saya dalam hati.
“Kamu mau tidak kalau saya sebut Prabowo boneka PAN, PKS, PPP dan Golkar. Tanpa partai-partai tersebut Prabowo gagal nyapres lho. Prabowo tersandera kepentingan partai-partai tersebut. Kalau ditarik2 pakai caramu, itu artinya dia capres boneka. Ini ada omongan orang yang pro Jokowi tentang CAPRES BONEKA. Ini bukan pendapat saya, cuma sebagai pembanding buatmu saja. Terus apa kamu masih ingat tiga orang yang dicalonkan dari partai kanan atas itu? Apakah mereka capres boneka? Mereka hanya menyanggupi amanah untuk dicalonkan oleh partai. Mau kamu menyebut mereka Capres Boneka juga?”, kilah saya. “Kamu pilih Nomor 1 karena partaimu mengarahkan mu ke situ kan? Kamu boneka, boneka partai ha..ha..”
Panjul pun turut tertawa tapi agak kurang lepas mungkin juga sekaligus mikir bagaimana membantah bahwa dia bukan boneka partai.
“Bagi saya Jokowi, Prabowo, dan siapa pun yg dicalonkan partai bukan boneka”, saya menambahkan.
“Tapi Jokowi selain boneka partai juga boneka mega. Lihat nih kang, Jokowi SUNGKEM KE MEGA” Panjul menambahkan.
“Begitu saja kok dipermasalahkan nJul. Meskipun saya pribadi tidak setuju dia melakukan itu, khusnudzon saja lah. Mungkin Mega sudah dianggap kakak sendiri. Bukan berarti dia itu boneka nya Mega. Daripada Prabowo SUNGKEM KE KUBURAN Pak Harto“, balas saya.
Kali ini Panjul tertawa lepas.
“Saya yakin kalau Jokowi yang melakukan itu maka media propaganda lawan jokowi akan menyoroti sangat luar biasa. Jokowi ziarah ke makan Soekarno, dikatakan Syirik. Saya juga tidak setuju Prabowo sungkem ke kuburan mantan mertua seperti minta izin untuk nyapres gitu. Namun kalau kita husnudzon saja, mungkin Prabowo sungkem kuburan Pak Harto mungkin menghargai mantan mertua. Jika prasangka kita ke Prabowo positive saja, ya mari kita juga berprasangka positif ke Jokowi masalah sungkem dan boneka ini”.
Sesaat pos kamling menjadi sepi karena saya dan Panjul sama-sama terdiam. Sesekali suara motor dan mobil yang lalu lalang di depan pos saja yang terdengar. Kaki Panjul sesekali digunakan menendang kerikil yang menghampar di depan pos kamling. Tidak lama Panjul memecah kesunyian.
“Maaf nih Kang, sepertinya akang anti sama media-media yang sering mengkritisi Jokowi. Padahal kritik itu kan penting Kang. Terus media-media tersebut kan media Islam?”, tanya Panjul.
Saya menengok ke arah Panjul sesaat. “Banyak media yang mengaku mengatasnamakan Islam tapi menggunakan cara-cara tidak islam dalam pemberitaan politik. Media-media tersebut sangat membantu kita saat membagi informasi masalah keimanan, ibadah, beramal baik dan sebagainya. Namun jika sudah membahas politik, banyak kemungkinan penulis dan atau medianya tidak netral dan cenderung menjadi media propaganda, menjadikan dugaan sebagai fakta, kemungkinan sebagai kenyataan, keinginan sebagai kebenaran. Kabar-kabar dari orang fasik  dan bahkan fitnah sering dijadikan alat perjuangan mereka. Media-media seperti itu sering disisipi tulisan propaganda”.
Panjul mengernyitkan dahi. Mungkin tidak percaya saya sampai berpendapat begitu.
“Cirinya mudah saja mengenali media sudah dijadikan alat propaganda. Pertama mereka tidak berlaku adil terhadap lawan, padahal kita diharuskan berlaku adil bahkan terhadap orang yang kita benci. Kedua, arah pemberitaan seragam dan bisa berubah sesuai situasi politik. Mereka menjelekan si A dan memuji si B secara masiv, dengan berbagai media agar terlihat random padahal orang2nya sama. Namun jika arah politik berubah, media tersebu bisa berbalik memuji si A. Ketiga, media-media tersebut berisi informasi yang sumir, tidak terkonfirmasi kebenarannya dan lebih banyak berisi kesimpulan yang dipaksakan sesuai hawa nafsu mereka saja. Terkadang informasi yang dimuat seperti sinetron, si penulis bisa menuturkan suatu persoalan seperti dia mengetahui dengan jelas dan menjadi saksi peristiwa”, lanjut saya.
“Nih saya beri contoh sederhana  bagaimana media telah berlaku tidak adil. Coba lihat gambar INI. Harusnya kita menangis, bukannya tertawa melihat gambar itu. Media tsb sudah berlaku tidak adil. Orang-orang yang ikut menyebarkannya juga telah berlaku tidak adail, padahal saya yakin mereka tahu itu dilarang dalam Islam. Itu gambar diambil pada masa yang berbeda. Padahal kamu tahu sendiri kondisi fisik prabowo saat ini tidak seperti itu lagi bukan? Selain itu,  sengaja dipilih foto saat Jokowi mati gaya. Jangan lah kita memanipulasi. Jangan kita memperolok-olok orang lain karena orang lain tersebut belum tentu lebih baik dari kita. Gambar ini lebih adil menurut saya INI atau INI“, papar saya
Panjul masih terdiam. Saya lihat dia masih tidak yakin atas apa yang saya sampaikan.
“Mau contoh yang lain. Coba baca berita berikut INI. Terlepas dari media di belakangnya, yang jelas posting berita tersebut tidak mengikuti kaidah-kaidah islam. Kita harus melihat berita per berita. Tidak bisa kita generalisir satu media isinya benar semua atau salah semua. Meskipun media yang memuat berita tersebut mungkin telah banyak memberikan manfaat bagi dunia islam, tapi jika suatu berita dibuat dengan cara yang tidak benar, akan saya sebut tidak benar. Benar tidak nya berita tersebut bukan masalah isi, melainkan cara membuat. Apakah bisa kita menyandarkan informasi menyangkut seseorang hanya berdasarkan informasi seseorang yang lain? Di situ disebut sumber berita adalah sebuah akun facebook yang katanya mantan Timses Jokowi waktu nyalon Gubernur. Lha wong Prabowo dan Hashim (adik Prabowo) saja Timses nya Jokowi waktu itu toh? Kita wajib menelisik kebenaran suatu informasi, bukan karena informasi tersebut sangat kita sukai lantas kita sebarkan! Tidak ada sedikit pun ruang bagi ‘tertuduh’ untuk menyampaikan counter-informasi. Media-media yang sering disebut kafir saja masih sering menyajikan hak jawab dari pihak yang diberitakan. Bagaimana sebuah berita di media islam telah secara gegabah dibuat”, saya sedikit berpanjang lebar.
“Termasuk kalau kita menyebarkan berita di facebook ya Kang?”, tanya Panjul
“Benar sekali. Jika kita share berita yang kebenarannya masih meragukan, kita bisa terjebak menyebarkan kabar orang fasik. Lebih parah lagi jika kemudian hari berita tersebut adalah tidak benar, maka kita telah menyebarkan fitnah. Tuh contohnya yang menimpa WIMAR. Sudah berapa lama kok saya lihat gambar itu berkeliaran di FB. Jika kita menyebarkan hal-hal yang tidak kita yakini kebenarannya, itu namanya menyebarkan kabar fasik, bisa menjadi fitnah. Ingat, tanggung jawab itu adanya adalah pada diri pribadi, bukan pada sumbernya saja. Kita tidak lepas tanggung jawab saat membagikan berita yang tidak benar”
“Tapi nih ada satu lagi, Jokowi itu kan sekelilingya bukan orang baik-baik, sedang Prabowo kan hampir semua orang shaleh berkumpul di Prabowo Kang. Bukan kah kita harus melihat hal ini juga jadi pertimbangan?”, ujar Panjul.
“Apa sudah kamu inventarisasi berapa orang yang alim dan shaleh di kubu Prabowo dan Jokowi terus kamu bandingkan gitu? Banyak orang-orang bermasalah di kubu Jokowi, begitu pun di kubu Prabowo. Yang bisa kita lakukan adalah berharap bahwa Prabowo atau Jokowi tidak terpengaruh oleh orang-orang ini. Lagi pula kan Prabowo sekarang ini saja kelihatannya alim gitu. Hal ini tidak bisa dijadikan tolak ukur untuk memilih pemimpin”.
“Baik kang, kita kembali ke masalah pilihan. Kalau keduanya itu kurang lebih sama terhadap isu-isu yang kita bahas, apa pertimbangan Akang pilih Jokowi?”, Panjul mulai bertanya alasan pilihan saya.
“Begini, nJul. Kita sudah sepakat Prabowo dan Jokowi itu tidak ideal jadi presiden kan? Tapi karena harus memilih dari keduanya, maka kita bandingkan keduanya sesuai tuntunan. Beberapa yang telah disampaikan dalam Islam adalah memilih pemimpin yang (1) beriman dan beramal shaleh, (2) tegas, (3) lemah lembut, (4) tidak korupsi, (5) adil, (6) berpegang kepada hukum Allah, (7) diutamakan laki-laki, (8) niat yang baik untuk jadi pemimpin, (9) menasehati rakyatnya, (10) shidiq, (11) amanah, (12) fathonah, (13) tabligh dan sebagainya yang mungkin saya tidak bisa menyebutkan karena keterbatasan pengetahun saya. Hadits dan ayatnya banyak perihal ini, silakan search saja saya tidak akan copy-paste ayat2 di sini”
“Nah kriteria pertama tentang keimanan menarik. Katanya Jokowi jangan dipilih karena meninggalkan pemimpin kafir di DKI”, timpal Panjul.
“Boleh saja kamu mengangkat isu keimanan, tapi terlebih dulu harus kamu tujukan jari kita ke Prabowo, karena dia yang gigih mencalonkan Ahok jadi pendamping Jokowi. Terus kita harus permasalahkan juga partai kita yang melakukan hal yang sama, mengangkat orang kafir sebagai wali/pemimpin seperti di SINI, SINI dan SINI. Satu jari menunjuk Jokowi, jari lainnya ke arah kita semua”
“Terus menurut Akang, apakah point-point kriteria memilih pemimpin tersebut mendorong Akang memilih Jokowi”, tanya panjul
“Nggak terlalu yakin juga nJul. Dari 13 point tersebut menurut saya keduanya hampir sama. Jokowi tidak lebih baik dari Prabowo dan pula sebaliknya. Jika kamu menafikan informasi sumir dan fitnah yang sering kamu baca, saya yakin kamu pun akan memiliki kesimpulan yang sama”, ucap saya sambil memandang ke tiang pos kamling yang banyak ditempeli sticker pasangan capres. Sepertinya Panjul juga baru nempel sticker, pikir saya. “Mungkin JK-Hatta lebih baik dari Prabowo-Jokowi dari segi keIslaman, sepertinya lho ya”, ujar saya pula.
Saya pun melanjutkan, “Tapi saya pilih Jokowi karena dia sudah berbuat, sedangkan yang satunya masih berencana, Jokowi teguh pendirian, yang satunya mencla-mencle”, ujar saya sambil mesem ke arah Panjul.
Panjul hanya turut tertawa.
“Jokowi menolak World Bank, dia juga menolak partai yang minta-minta jabatan. Itu lah pemimpin yang tegas. Mungkin sisi niat baik untuk menjadi pemimpin lebih ada di diri Jokowi. Sedangkan di sisi Prabowo, kan terlihat sekali tidak tegas. Opini saya, semua partai bisa masuk ke koalasi yang Prabowo bangun agar banyak dukungan. Hari ni bilang A besok bilang B. Hari ini bilang pemerintah sekarang pakai ekonomi liberal, besoknya ambil Menko Ekonomi dari pemerintahan liberal menjadi cawapres. Hai ini mengkritik pemerintahan SBY, besok memujinya. Hari ini bilang pro asing, besoknya bilang anti asing. Tapi itu persepsi dan pertimbangan saya lho, jangan dijadikan acuan” ujar saya lagi.
Kami berdua terdiam beberapa saat merasakan semilir angin yang menembus sela dinding kayu pos kamling. Saya tidak ada niatan menggiring Panjul untuk memilih Jokowi. Saya hanya ingin agar dia tidak menjadi korban dan pelaku kabar sumir dan fitnah yang bergentayangan.
“Oh ya ada satu lagi yang  membuat saya lebih memilih Jokowi”, saya kembali membuka suara.
“Apa itu Kang?” tanya Panjul.
Saya juga pilih Jokowi karena dia pemimpin yang dicalonkan, bukan yang mencalonkan diri
seperti hadits berikut LINK, yang terjemahan bebasnya adalah Wahai Abdurrahman, janganlah kamu meminta jabatan, sebab jika engkau diberi (jabatan) karena meminta, kamu akan menanggung tanggungjawab atasnya, namun jika kamu diberi (jabatan) dengan tidak meminta(nya), kamu akan ditolong (oleh Allah), dan jika kamu melakukan sumpah atas sesuatu, kemudian kamu melihat suatu yang lebih baik, penuhilah kaffarat sumpahmu dan lakukanlah yang lebih baik. (terjemahan ditranslate dari English, bukan dari Bhs Arab) (Sahih al-Bukhari 7146)”
Panjul berpikir agak lama sebelum berujar. “Saya kok gak pernah dengar hadits itu sekarang-sekarang ini Kang. Dulu saja sering”, ujar Panjul. “Tapi, itu kan seperti capres boneka ya Kang. Dicalonkan partai”, ujar Panjul sambil cengengesan.
“Hus, kamu!” seru saya. “Itu istilah yang tidak baik dan jangan digunakan. Pengecualian tentu ada seperti kisahnya Nabi Yusuf yang mana beliau meminta (mencalonkan diri) menjadi bendahara, ya karena tidak ada orang lain yang amanah dan sanggup/ahli untuk melakukannya”
“Kalau hadits atau bahkan ayat2 Al-Qur’an tentang kriteria pemimpin yang beriman dan beramal shaleh, dan sebagainya yang Akang sebutkan kan banyak sekali Kang. Tadi Akang bilang dari kriteria-kriteria tersebut Jokowi dan Prabowo itu sebelas dua belas ya? Bagaimana dengan hadits yang menyebutkan ‘Kalau kamu mengirim utusan kepadaku, kirimlah yang tampan wajahnya‘?”, tanya Panjul. “Sumbernya di SINI Kang”
Saya terdiam sejenak sebelum berujar, “Saya tidak mempertanyakan hadits tersebut. Yang saya pertanyakan adalah, menerapkan hadits kok maksa begitu. Kan sudah jelas disitu adalah kriteria utusan, bukan pemimpin. Ya kalau menurutmu Prabowo itu ganteng, paling tidak lebih ganteng dari Jokowi, maka Prabowo cocoknya jadi utusan saja, duta besar saja, gimana?”
“Iya juga ya Kang”, Panjul sepertinya antara setuju dan tidak.”Tapi kalau jadi duta besar bagi Prabowo itu terlalu rendah. Dia hebat berkomunikasi. Bahasa Inggrisnya saja yahud. Tidak seperti Jokowi. Lihat video dibagian akhir TULISAN INI Kang”, Panjul kembali berargumen
“Kamu ikut nyebarin video tersebut nJul?”
“Iya Kang. Itu kan wajib. Kita harus tahu calon presiden kita seperti apa”
“Kamu sudah terkena fitnah itu nJul. Jika ada kabar yang menurutmu baik bagimu, jangan langsung dishare. Teliti terlebih dulu. Saya sudah nonton video wawancara Jokowi dan Prabowo secara terpisah. Tidak ada yang aneh dari Jokowi. Ya memang benar, level Bahasa Inggris Jokowi masih di bawah Prabowo. Prabowo kan sudah mengenyam pendidikan barat, latihan militer barat. Aneh kalau dia tidak bisa bahasa Inggris”.
Saya pun kembali melanjutkan, “Kembali ke video tersebut. VIDEO JOKOWI tersebut sudah diedit untuk tujuan propaganda, yakni untuk downgrade Jokowi. Lihat saja jawaban-jawaban Jokowi tidak nyambung gitu. Itu manipulasi untuk propaganda nJul. Saya malu kalau baca berita propaganda yang sudah dimanipulasi apalagi dari pihak yang mengatasnamakan Islam, padahal apa yang mereka lakukan jauh dari islam itu sendiri.
“Berarti saya sudah salah ya Kang? Saya sudah turut menyebarkan video tersebut padahal ternyata video tersebut palsu”
“Benar sekali nJul. Kamu salah. Kita diwajibkan meneliti semua kabar yang kita terima. Wawancaranya asli, Jokowi tidak fasih bahasa Inggris itu asli, yang palsu adalah manipulasi jawaban dan pertanyaan yang sengaja ditukar-tukar untuk menunjukan Jokowi itu bodoh”.
Sejenak kami terdiam. Tak lama Panjul memecah kesunyian, “Saya mau tanya, apakah Akang pilih Jokowi juga karena isu HAM Prabowo?” tanya Panjul
“Mmh, prabowo diberhentikan dari militer itu fakta. Prabowo pelaku pelanggar ham itu adalah persepsi, indikasi, dan opini saya. Belum ada fakta otentik dia yang menghilangkan orang. Bisa saja dia terlibat. Bisa saja tim nya yang salah menjalankan instruksi. Opini jangan kita jadikan fakta. Saya tidak mau ikut-ikut menyebarkan kabar fasik dan memfitnah” ujar saya.
“Tapi isu-isu miring terhadap Prabowo juga banyak ya Kang?”, sela panjul
“Benar sekali. Apa pun isunya baik terhadap Jokowi ataupun Prabowo selama itu adalah kabar yang belum pasti, kabar dari orang fasik, fitnah, kita dilarang untuk mempercayainya. Apalagi menyebarkannya.
“Ah, saya kalau tetap pilih Prabowo Kang”, ujar panjul sambil nyengir. “Dia lebih baik dari Jokowi karena dia sudah menunjukan kegigihannya berjuang untuk memperbaiki Indonesia. Beliau sudah mapan, tapi tetap ingin berjuang untuk Indonesia. Ya termasuk membawa Jokowi ke Jakarta dari Solo kan adalah salah satu upaya Prabowo juga”, ujarnya kembali.
“Nah itu bagus”, ujar saya.
“Akang sekarang pindah pilih Prabowo?”
“Tidak, tidak. Maksud saya, saya setuju dengan alasanmu memilih Prabowo. Silakan saja lakukan pertimbangan sendiri dan bandingkan point-point kriteria pemimpin yang kamu anggap benar. Jangan lupa mohon petunjuk, lakukan shalat sebelum memantapkan pilihan.
Yang lebih penting jangan menggunakan ghibah, kabar sumir (dari orang fasik), dan fitnah sebagai pertimbangan mu kecuali kamu ingin ikut ke golongan mereka
“Kalau Prabowo yang menang gak apa-apa kan Kang?”, tanya Panjul seakan ingin menggoda.
“Hehe… ya nggak apa-apa nJul. InsyaAllah kita semua harus dukung. Pendukung Jokowi juga harus turut dukung jika Prabowo terpilih jadi Presiden atau sebaliknya. Pemilu selesai tidak ada lagi kubu-kubuan”
“Baik Kang. Sepertinya hari semakin sore kang. Saya harus memandikan si Jangkrik dulu. Besok saya posting lagi di group perihal Reunian kita mumpung banyak teman-teman kita lagi pada pulang kampung ya Kang”
“Sip nJul. Ayo kita pulang kalau begitu”, timpal saya.
“Assalamu’alaikum Kang”, ujar Panjul sambil berlalu
“Wa’alaikum salam”, jawab saya.
Panjul beranjak meninggalkan pos kamling. Saya masih berdiri memperhatikan perginya Panjul. Dari kejauhan Panjul sedikit memutar badan, mengacungkan satu jari telunjuk seraya berkata, “Hidup nomor 1 kang”.
Saya pun mengacungkan dua jari saya.
capres-cawapres-2014
(Gambar diambil dari http://fncounter.files.wordpress.com/2014/05/capres-cawapres-2014.jpg)
Mari kita pilih Prabowo-Hatta atau Jokowi-JK sesuai dengan kriteria yang kita anggap benar. Stop ghibah, kabar fasik dan fitnah terhadap Jokowi dan Prabowo. Satu jari menunjuk ke orang lain, sisanya menunjuk ke diri sendiri. Berlaku lah adil meskipun terhadap orang yang kita benci. Jangan percaya dan menyebarkan informasi yang sepotong (sumir) karena bisa menjadi fitnah.
————–
Catatan: percakapan ini tidak riil terjadi, hanya rekaan belaka. Semua link yang disajikan jangan dijadikan pegangan karena sebagian besar berisi ghibah, kabar sumir dan bahkan fitnah baik untuk Prabowo maupun Jokowi. Saya menampilkan link-link tersebut hanya sebagai pembanding. Tidak lupa saya mohon maaf ke semua pihak yang sudah saya jadikan contoh dalam tulisan ini.
Ghibah: hal yang benar sesuai fakta menyangkut kejelekan saudara kita. Melakukan ghibah yang tidak ada kaitannya dengan pilpres jelas tidak bisa dibenarkan. Contoh ghibah; Prabowo gak berisitri, jokowi muka ndeso, dll. Informasi tersebut benar sesuai fakta. Tapi tidak boleh dibicarakan/disebarkan karena (menurut saya) tidak ada kaitannya dengan piplres sehingga pengecualian kebolehan menghibah atasnya tidak ada.
Kabar sumir (fasik): kabar yang belum terkonfirmasi kebenarannya, dan ada kemungkinan diperoleh dari orang fasik.
Fitnah: kabar yang tidak benar menyangkut seseorang.
Saya; adalah karakter saya sekarang.
Panjul; adalah karakter saya sewaktu remaja. Panjul adalah salah satu nama panggilan saya masa itu. Semoga yang memiliki nama sama dengan karakter ini berkenan.

Sumber/Author: http://www.raharjo.org [Beni Raharjo; asal Jatitujuh - Majalengka Jawa Barat; SKMA Kadipaten (1997), Fahutan UGM (2002); lives in Higashihiroshimashi]
 









 
Copyright © 2013 JokoWidodo.ORG
Powered by Blogger