BREAKING NEWS
.

POLITIK

OPINI & ANALISA

AGENDA & RELAWAN

Friday, October 2, 2015

Wisata Batik Trusmi Cirebon, Makin Lama Makin Eksis





Cirebon - Cirebon memiliki destinasi wisata batik di Desa Trusmi yang tidak kalah menarik dengan Yogyakarta, Solo atau Pekalongan. Dari destinasi yang sayup terdengar, Trusmi kini semakin terkenal.

10 Tahun yang lalu, tidak banyak wisatawan mengetahui Batik Trusmi di Cirebon. Kecuali penggemar berat batik, atau mereka yang berdomisili di Bandung atau sering pergi ke Cirebon. Namun kalau pergi ke sana hari ini, Anda akan melihar pusat grosir batik dengan parkiran luas dan jejeran butik-butik batik dari yang sederhana sampai mewah.

Siang itu, Minggu (27/9/2015) detikTravel berbincang dengan Erwin Ibrahim (33) pemilik Rajjas Batik, salah satu gerai Batik Trusmi. Erwin mengatakan perubahan Batik Trusmi menjadi destinasi wisata populer, baru terasa dalam 5 tahun terakhir.

"Daerah wisata batik sekarang memanjang dari Trusmi sampai pusat wisata kuliner Empal Gentong di daerah Battembat," kata Erwin.
Erwin tidak salah, berawal dari satu desa yaitu Trusmi, kini produksi batik menular ke 3 desa lain yaitu Panembahan, Kali Tengah dan Kali Wulu. Namun untuk penjualan, Desa Trusmi masih menjadi andalan. Seberapa besar kawasan wisata batik Trusmi sekarang?

Sebagai gambaran, jika keluar Tol Cipali-Palikanci di Gerbang Tol Plumbon ke arah Kota Cirebon, di perempatan Plered Anda akan melihat gapura bertuliskan Kawasan Wisata Sentra Batik Trusmi di sebelah kiri. Dari gapura itu ke arah Kota Cirebon sampai kawasan wisata kuliner empal gentong, disebut Erwin sebagai daerah wisata batik Trusmi.

"Sejak Tol Cipali jadi, tingkat kunjungan wisatawan naik sekitar 200 persen. Wisatawan dari Jakarta atau Bandung sekarang bisa PP hanya untuk membeli batik di sini. Pagi datang, belanja batik, makan siang wisata kuliner ke sebelah, beli oleh-oleh terus pulang deh," jelas Erwin yang toko batiknya pas bersebelahan dengan Empal Gentong Haji Apud yang legendaris.

Bisa dibilang, Batik Trusmi makin eksis seiring keberadaan Cirebon yang semakin menjadi primadona wisata di Jawa Barat ketika orang sudah jenuh dengan Bandung. Sementara dari segi desain dan filosofi, Batik Trusmi konsisten dengan motif tapi sangat terbuka dengan modifikasi.
Untuk yang belum tahu, Batik Trusmi punya motif utama bernama mega mendung. Motif awan ini merupakan akulturasi budaya China dan Islam sejak era Wali Songo. Motif ini terus dijaga sampai sekarang, namun kemudian lahir aneka variasi warna, motif dan bahan. Produk turunan mulai aneka jenis busana, sampai pernak-pernik batik juga tersedia.

"Kalau Rajjas Batik sekarang bermain dengan warna lembut. Tapi kita juga memperhatikan tren warna untuk satu tahun ke depan dan tren motif yang akan disukai orang. Harus kuat dengan inovasi," kata Erwin berbagi resep agar batik tetap eksis.

Erwin menceritakan batiknya diproduksi oleh ibu-ibu setempat di Desa Panembahan. Mereka yang mengurus anak, boleh mengerjakan batiknya di rumah. Dalam seminggu mereka menghasilkan 20 lembar batik tulis dan 50 lembar batik cap ukuran 1x2,5 meter.

Erwin rajin mengikuti pameran ekonomi kreatif di Jakarta sambil mencari pembeli. Batik Trusmi produksi Rajjas Batik sudah melanglang buana sampai Jepang. Namun menurutnya, wisatawan domestik tetap merupakan konsumen utamanya.
"Tetap saja yang paling banyak beli itu wisatawan domestik. Saya juga memasukan barang ke sejumlah departemen store di Jakarta," kata dia.

Rentang harga batik yang dia jual mulai Rp 25 ribu sampai Rp 1 juta. Kain yang paling mahal adalah batik tulis bermotif Paksi Naga Liman, nama kereta kerajaan milik Keraton Kasepuhan.

Rajjas Batik adalah satu dari puluhan gerai batik yang ada di Trusmi, selain tentu saja one stop shopping yang paling besar yaitu Pusat Grosir Batik Trusmi. Saran detikTravel, luangkan waktu Anda keluar masuk gerai batik agar bisa membandingkan harga dan motif demi mendapatkan Batik Trusmi yang terbaik di Cirebon.



Fitraya Ramadhanny - detikTravel - Jumat, 02/10/2015 08:13 WIB
 
Copyright © 2013 JokoWidodo.ORG
Powered by Blogger